Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Bermain Peran Ganda Detektif dan Mak Comblang


__ADS_3

Daffa teringat dengan pesan yang baru saja masuk diponselnya itu. Dia segera menghabiskan makanannya.


Kedua saudara kembarnya itu menggelangkan kepala perlahan melihat keanehan tingkah laku saudara kembarnya hari ini. Mereka berdua dibuat semakin penasaran saja ketika Adik Bungsunya segera undur diri menuju kamar setelah sarapan.


Di bilik lain seorang gadis sejak tadi tanpa sengaja mendengarkan kehangatan dalam percakapan ketiga pemuda yang sedang sarapan. Ketiga pemuda yang terhadapnya selalu dingin sedingin es kutup utara.


Seorang pemuda menuju kamarnya untuk mengambil leptop. Dia membuka semua e-mail yang dikirimkan oleh seseorang.


Sebuah biodata tentang seseorang yang baru beberapa hari lalu mengungguh status bersama sang Kakak pertamanya. Foto yang sudah lama itu banyak beredar di internet saat ini.


Sang Adik Bungsu membulatkan mata sempurna tak percaya dengan informasi yang dikirimkan oleh asistennya itu baru saja. Dia mengepalkan tangan erat karena emosi.


Daffa merasakan amarah yang sangat saat ini


kakaknya dihianati. Dia memikirkan perasaan saudaranya itu.


"Apa Kak Axel sudah tahu hubungan gelap kekasihnya itu?” Batin Daffa dalam hati dengan amarah yang sampai ke ubun-ubun.


"Atau mereka sudah putus." Lanjutnya lagi.


Pemuda itu bukan hanya mencari informasi tentang Kakak sulungnya saja tetapi seorang gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. Dia menangkap bayangan seseorang yang selalu bekerja di warung kopi dekat sebuah kampus dan seorang laki-laki yang sangat dikenalnya datang ke warung itu.


"Kak Garda selalu datang ke warung kopi itu." Batinnya.


"Hanya untuk ngopi." Lanjutnya.


"Cukup jauh juga jarak kantor dengan warung itu." Bertambah lagi pikiran yang ada didalam otaknya.


Pandangan Pemuda itu akhirnya jatuh pada beberapa vidio yang ikut dilihatnya satu demi satu. Mata elangnya menatap dengan teliti setiap penampakan yang muncul pada vidio itu.


Tangan besar itu dengan jari-jari memegang sebuah pena. Benda itu diketuk-ketukkan pada meja sedikit keras dengan otaknya juga sedang berpikir tindakan yang bisa dilakukan lebih jauh.


Langkah mana yang harus diambilnya terlebih dahulu harus dipikirkan dengan matang. Dia jadi melupakan permasalahan hatinya sendiri. (Berarti benar dong hitungan kancing bajunya).


Kak Garda memang setiap hari pergi ngopi ke tempat itu tetapi jika dilihat dia tidak pernah bertemu dengan Gadis pemilik kedai atau warung kopi itu. Kak Axel sendiri hatinya juga sudah sangat tertutup terhadap semua gadis karena sebuah penghianatan.

__ADS_1


Kruuuuuk Kruuuuuk Kruuuuuk


Perut oh perut kenapa kau cepat sekali merasa lapar. Baru beberapa jam yang lalu kau baru ku isi sekarang kenapa kau sudah berbunyi.


Pemuda itu meletakkan semua peralatan yang digunakannya baru saja untuk memerankan seorang detektif. Detektif yang berperan ganda tentunya.


Pemuda itu juga akan berbeda sebagai mak comblang antara saudaranya. Gelar itu kan kalau seorang perempuan kalau laki-laki disebutnya apa ya? ( Authornya minim pengetahuan jadi tolong jawab ya?)


Ceklek


Knop pintu kamar Pemuda yang sedang kelaparan itu diputar hingga terbuka kemudian ditutup kembali oleh pemiliknya. Dia berjalan dengan auranya seperti biasa mampu mengikat semua gadis yang melihatnya.


"Mau kemana Nyet?" Tanya Kak Axel melihat adiknya terburu-buru berjalan menuju dapur.


"Nyet Kakak bilang? Tanya Pemuda itu melewati kedua kakaknya sambil lalu.


"Panggil aku dengan sebutan yang keran sedikit kenapa?" Lanjut Daffa yang sedikit tidak terima karena memang merasa tampangnya yang begitu tampan.


"Lha itu kamu sendiri yang bilang." Kata Kak Garda.


"Kalian berdua itu memang suka ngerjain adik sendiri." Kata Daffa setelah mengambil dan meneguk minuman dingin yang ada di lemari pendingin.


"Sudah dari pada kalian ngurusi aku, mendingan kalian urusi masalah kalian itu biar lekas selesai." Nasehat Garda sambil mengibaskan tangannya.


"Dari mana kamu tahu kami punya masalah?" Tanya Kak Axel.


"Apa kalian lupa kalau kita ini...." Ucap Daffa terputus karena Dia tahu disini tembok pun bisa mendengar.


"Baik-baik kamu menang." Ucap Garda yang tahu adiknya itu tidak mau mengalah dalam sebuah perdebatan dan semua yang dikatakannya selalu saja benar adanya.


"Bukan pertandingan Kak." Kata Daffa.


"Apa memang akan ada pertandingan?" Lanjutnya.


"Kami pergi dulu." Pamit Kak Axel hendak menuju ruang kerja.

__ADS_1


"Hem." Jawab Seorang Pemuda singkat.


Daffa segera mencari makanan ringan untuk mengganjal perutnya yang sudah keroncongan di dapur setelah kedua kakaknya pergi. Matanya menangkap bayangan seorang gadis yang sedang duduk di ruang makan tepatnya pada kursi yang biasa didudukinya.


Pemuda itu berjalan menghampiri gadis itu perlahan. Entah kenapa melihatnya saja dengan penampilan yang sangat sederhana itu membuat hatinya tenang.


"Siapa yang menyuruh mu duduk di kursi ku?" Tanya Daffa ingin mencari masalah dengan gadis itu.


"Maaf Tuan saya tidak bermaksud." Kata Seorang gadis terputus karena sudah dipotong dengan kata-kata Daffa.


"Kamu dihukum." Ucap Daffa untuk memotong kata-kata gadis itu sambil lalu meninggalkannya sendiri.


"Ha....." Kata Hafsa terkejut.


"Kemarin Bibi juga duduk di salah satu kursi ini tidak apa-apa." Protesnya.


"Ini kursi milik ku, yang berhak di sini aku, yang menentukan hukumannya juga aku!" Kata Pemuda itu sedikit marah karena dibantah setelah berbalik dan dan menunjukkan kursi yang selalu didudukinya.


"Hukuman itu nanti akan aku beritahukan pada mu." Ucap Seorang Pemuda tersenyum smirk seakan sudah memiliki rencana untuknya.


Pemuda itu pergi ke kamarnya lagi setelah menjelaskan semua pada Hafsa dengan membawa air dingin ditangannya. Dia pun tidak lupa meminta nomor ponsel milik gadis itu.


Pemuda itu duduk di balkon menenangkan jantung dan hatinya yang sejak tadi berdegup kencang. Dia sebenarnya merasa sangat senang melihat gadis yang baru saja tinggal dirumahnya itu sekarang kondisi badannya sudah terlihat lebih baik.


Saat mencari makanan ringan di dapur dia tidak menemukan apapun di sana hingga hanya membawa buah apel yang ada di lemari pendingin. Buah itu kini sudah habis dimakannya.


"Ada gunanya juga minta nomor ponselnya." Ucapnya lirih sambil mengambil benda pipih yang ada di saku celananya.


Pemuda itu segera mengirim pesan pada Hafsa untuk membuatkan makanan ringan yang bisa mengganjal perutnya lebih lama. Daffa tidak sabar lagi hingga Dia keluar dari kamar kamarnya dan melihat gadis itu dari lantai atas.


Gadis itu terlihat sangat lihai dalam urusan makanan. Rambut yang tadinya terurai kini rambut itu dicepol agar gerakannya tidak terhambat. Leher jenjang yang putih itu sangat terlihat halus, ingin rasanya Pemuda itu menggigitnya. ( Bisa bertambah peran lagi kali ya Si Daffa jadi Drakula siang bolong).


Pemuda itu lapar dengan makanan atau rindu dengan Hafsa yang baru dikenalnya. Gadis itu sama sekali tidak tertarik dengannya saat ini itu lah yang menjadikan Daffa semakin penasaran.


Gadis itu mampu membuat pasang surut emosi jiwanya saat ini. Apa istimewanya gadis yang berpenampilan sederhana itu dibandingkan dengan gadis yang selalu bisa merayunya dan membuatnya selalu tertawa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2