
Garda masih memikirkan tentang dompetnya yang terjatuh atau mungkin lupa menaruhnya. Selembar kertas tapi mampu untuk membuatnya khawatir dan sedih.
Axel berada dalam sebuah keterpurukan saat ini. Selama beberapa tahun kepercayaannya hilang begitu saja.
Hati dijaganya dengan baik terhadap semua wanita tetapi apa yang dia lakukan justru malah sebaliknya. Hatinya hancur berkeping-keping saat ini.
Seorang pemuda hatinya sungguh berbeda saat ini. Dia membayangkan seorang gadis yang baru saja berada di kamarnya.
Perasaannya sangat berbeda kali ini jika dibandingkan terhadap gadis lainnya. Gadis itu terasa sangat mengganggu pikirannya.
Garda sedang berjalan-jalan di area villa seperti orang gila. Dia masih mencari dompetnya yang mungkin terjatuh.
"Hei, kamu kenapa ada di sini?" Tanya Garda pada seorang gadis.
"Seharusnya saya yang bertanya tuan, kenapa anda di sini?" Tanya seorang gadis yang belum jelas statusnya di villa itu.
"Ini wilayah ku, jadi kemana pun aku berada apa tidak ada urusan dengan mu." Kata Garda tegas.
"Apa anda mencari sesuatu?" Tanya Hafsa sopan mengingat seorang wanita paruh baya yang membantunya berapa hari yang lalu.
"Bukan urusan mu.” Kata Garda dengan intonasi yang agak tinggi.
Sreeeet Sreeeet Sreeeeet
Suara sebuah sapu lidi bergesekan dengan rumput dan tanah. Hafsa sedang membersihkan taman dekat kolam ikan yang ada di samping villa.
"Siapa yang menyuruh mu membersihkan taman di sini?" Tanya Seorang pemuda yang bersama Hafsa saat ini dengan dingin.
"Tidak ada Tuan." Jawab Hafsa dengan keringat yang sudah mengguyur badannya.
"Sudah ada tukang kebun tidak perlu kamu yang mengerjakannya." Kata Pemuda itu lagi saat tadi melihat Yasna yang tidak terbiasa melakukan semua itu.
"Kami tidak mau kamu sampai sakit lagi hingga merepotkan kami semua di sini." Lanjutnya.
"Apa ini?" Kata Seorang gadis pelan setelah memungut sesuatu benda yang ada ditepi kolam itu.
__ADS_1
"Maaf Tuan apakah ini milik anda?" Tanya Hafsa yang tanpa sengaja menemukan dan melihat foto Seorang Pemuda yang ada di depannya bersama seorang gadis yang sangat cantik.
Pemuda yang sudah hampir melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu berbalik. Dia berjalan mendekati Hafsa dan menyambar dompet itu.
"Kamu yang mengambilnya?" Tanya Garda penuh selidik.
"Tidak, aku tadi menemukannya di sini." Jawab Seorang gadis.
"Kamu tahu isinya?" Tanya Garda semakin merasa khawatir tentang sesuatu yang disembunyikannya selama ini di dalam dompetnya.
"Ya jelas tahu, dompetnya saja tadi terbuka." Jelas gadis itu.
"Awas kalau kamu cerita sana orang lain. Ancam Garda kemudian berjalan meninggalkan gadis itu.
"Haduh...Ini nasib jadi bawahan." Keluh gadis itu.
"Dompet ditemukan bukannya berterimakasih malah dapat ancaman." Lanjutnya dengan lirih tapi masih bisa didengar oleh Sang Pemilik Dompet.
"Tangan kamu bukan untuk membersihkan rumah atau halaman tapi untuk memasak!" Tegasnya dengan membuang sapu yang ada ditangan Hafsa setelah berbalik kembali saat akan meninggalkan gadis itu.
Gadis itu kembali ke dalam rumah dengan hati jengkel mengingat ancaman yang didengarnya tadi. Bibi melihat semua itu dari wajah Hafsa yang kusut.
Garda merasa lega telah mendapatkan apa yang dicarinya tapi buat dia yang menjadi ancaman adalah gadis yang menemukan dompetnya itu. Dia takut kalau gadis itu mengatakan tentang foto yang ada di dompetnya itu.
Ketiga pemuda yang ada di villa itu saat ini memiliki kondisi hati dan pikiran yang yang tidak jauh berbeda. Axel sang kakak sulung hatinya kini sangat hancur melihat kenyataan tentang sang pacar, Garda kini takut ketahuan memiliki sebuah hubungan dengan seorang gadis yang tidak disukai oleh keluarganya sedangkan Daffa kini merasa galau dengan seorang gadis.
Axel mulai bangkit dari sofa tempat dia duduk sekarang saat mendengar suara azan asar berkumandang. Perasaannya kini sudah mulai tenang tepat saat itu juga.
Dia berjalan sambil melihat jam yang tergantung di dinding dan ternyata waktu semakin cepat berlalu. Keluar dari kamar Axel dengan membawa peralatan shalat dia menuju mushola di kampung itu.
"Mau pergi kemana Kak Axel?" Batin Garda melihat Sang Kakak pergi berjalan kaki.
"Kenapa gak ajak-ajak sih?" Lanjutnya saat melihat semua yang dikenakan oleh kakaknya.
"Pahala dan surga mau ditempatinya sendiri." Katanya lirih sambil menyambar sarung dan sajadah yang tergantung ditempatnya.
__ADS_1
Garda berlari keluar menyusul sang kakak yang berjalan kaki keluar dari villa itu. Matanya melihat sebuah bayangan dari gadis yang diancamnya tadi di dapur sedang menyiapkan segala bahan untuk memasak.
Deg
Jantungnya kini sedikit tidak karuan bukan karena punya perasaan yang spesial tetapi karena takut mulut gadis menceritakan pada orang lain. Pemuda itu mencoba percaya bahwa rahasianya akan aman saat ini.
Garda mengurangi kecepatan langkahnya setelah posisinya dekat dengan Sang Kakak. Dia menepuk pundak Sang Kakak hingga Kakaknya berhenti dan membalikkan badan.
"Dasar penghianat!" Kata Garda dengan intonasi sedikit tinggi saat menepuk pundak Sang Kakak.
"Mau pergi sendiri?" Tanya Garda melihat jauh ke dalam mata Sang Kakak saat berbalik dan pandangan mereka bertemu.
Garda dapat merasakan kesedihan yang sangat mendalam saat melihat ke dalam mata kakaknya. Dia tidak berani bertanya jika kakak tidak bercerita sendiri.
Mereka berdua berjalan menuju ke mushola terdekat dengan meninggalkan Daffa sendiri di dalam villa. Masyarakat sudah mengenal mereka dengan sangat baik.
"Lho kalian kok cuma berdua?" Tanya seorang gadis yang tiba di depan mushola terlebih dahulu.
"Kemana teman kalian yang satu lagi?" Lanjutnya lagi.
Kedua pemuda itu langsung menuju tempat wudhu untuk laki-laki tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Kesan kaum hawa mereka terkesan sombong, tetapi jika terhadap laki-laki di desa itu mereka sangat ramah dan dermawan.
Axel merasa sedikit terbuka hatinya setelah berwudhu. Pikirannya kini juga mulai bisa berpikir dengan jernih setelah melaksanakan shalat Asar.
Mereka berdua sempat berbincang-bincang dengan beberapa warga setelah menunaikan kewajibannya. Banyak orang tua yang menginginkan menantu seperti mereka yang rendah hati saat berbicara apalagi mereka sangat sopan terhadap orang tua.
Merasa sudah sangat lama berada di luar sarang mereka berdua kembali ke villa. Axel sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Makan di luar yuk." Ajak Axel dengan langkah lebar kembali ke villa.
"Di rumah sudah ada koki yang sangat hebat kenapa harus makan di luar?” Tanya Garda sambil mengimbangi langkah kaki Sang Kakak.
"Lupa." Jawab Axel singkat.
"Baiklah kalau Kakak mau keluar aku ngikut aja.” Kata Garda menawarkan diri tidak mau mengecewakan Sang Kakak.
__ADS_1
Kedua pemuda itu sampai di depan pintu masuk sudah disambut dengan bau harum masakan dari dalam dapur. Keduanya saling menatap satu sama lain.