
Untung saja mereka bertiga bisa mengenali siapa lawan maupun siapa kawan. Biarpun itu seorang utusan dari Sang Papa yang tidak pernah mereka sadari.
"Siapa takut mempertemukan kedua gadis itu." Kata Daffa dalam hati saat berendam dengan air hangat di backtub.
"Aku yakin mereka bisa menjalin hubungan baik." Lanjutnya karena dia sudah mengetahui identitas kedua gadis itu.
Pemuda itu segera mengguyur tubuhnya di bawah air shower untuk membersihkan busa yang masih menempel. Dia mengambil handuk kimono yang tergantung tidak jauh darinya.
Perlahan Daffa berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil baju tidurnya. Malam ini dia tidak begitu berani menemui Hafsa karena masih ada rasa bersalah terhadap semua hal yang terjadi hari ini.
Pemuda itu berjalan menuju balkon setelah selesai mengenakan pakaiannya. Menatap bintang di langit yang cerah malam ini seakan memberikan angin segar.
Dia menatap rumah yang terletak di seberang yang tidak jauh dari taman tempatnya tadi melepaskan sedikit penatnya. Rumah yang tidak terlalu besar terlihat sederhana dengan halaman yang cukup luas.
Rumah itu sekarang saudara kembarnya itu berada tetapi dia belum melihat dengan mata kepalanya sendiri. Perasaan Daffa entah kenapa tertuju di rumah tersebut.
Kediaman Bunda Azka
Garda berada di kamar yang sekarang ditempatinya. Perasaannya bimbang hingga dia tidak bisa memejamkan matanya.
Pemuda itu melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh saudara kembarnya di villa keluarga. Dia melihat pada sebuah bangunan yang besar dan tinggi milik keluarganya.
Luka pemuda itu tidak terasa sakit sama sekali. Sebenarnya dia ingin meninggalkan rumah yang sekarang dia berada tetapi hatinya terasa berat.
Bunda Azka yang sama setiap hari tidak bisa memejamkan matanya. Dia memikirkan anak gadisnya yang sampai sekarang lebih suka sendiri.
Wanita paruh baya itu melihat pada sebuah kamar di seberang yang masih menyala terang lampunya. Dia hanya berharap pemuda yang menempati kamar itu bisa membuka pintu hati anaknya itu.
"Apakah mungkin?" Tanya Bunda Azka dalam hati.
Wanita paruh baya itu sebenarnya juga pesimis. Dia memiliki alasannya sendiri karena belajar dari pengalaman hidupnya sendiri.
Di sebuah Apartemen di Pinggiran Ibu Kota
Pemuda itu baru sampai di apartemen besarnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dari Villa milik keluarganya. Dia tanpa sadar memiliki keinginan mencari sosok seorang gadis yang baru beberapa hari lalu diselamatkannya tapi juga secara tidak langsung menyakitinya.
"Sedang apa kamu?" Tanya Axel yang masuk secara tiba-tiba tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Anda." Kata Bella menatap tajam orang yang baru saja masuk ke dalam kamar yang sekarang ditempatinya karena terkejut.
__ADS_1
"Tolong ketuk pintu sebelum masuk ke kamar orang lain." Pinta gadis itu dengan tegas.
"Maaf." Kata Axel membalas tatapan mata gadis itu dengan teduh.
"Apa yang terjadi dengan mu?" Tanya pemuda itu saat matanya menangkap kotak P3K yang masih berada di atas meja nakas.
"Tidak terjadi apapun." Kata Bella menutupi kejadian yang terjadi pada tangannya.
Pemuda itu tidak percaya jika tidak terjadi apapun pada Bella. Gadis itu menyembunyikan jarinya yang dibelit dengan kain kasa.
Tap
Tap
Tap
Perlahan pemuda itu berjalan mendekati Bella yang sedang duduk di sofa kamar yang sekarang ditempatinya. Dia mendudukkan diri tepat di samping gadis itu.
Axel menatap mata gadis itu hingga terasa seakan menembus dalam kornea matanya. Dia ingin mencari tahu sebuah kebenaran dari semua yang dikatakannya gadis itu baru saja.
Kali ini entah kenapa dia ingin mencari tahu bukan melalui benda yang terpasang di setiap sudut ruangan. Pemuda itu ingin tahu secara langsung dari gadis yang ada dihadapannya secara langsung.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Bella sedikit salting hingga tanpa disadarinya tangannya yang terluka berpindah dari tempat persembunyiannya.
"Ini kenapa?" Tanya Axel terlihat panik.
"Apa kamu tidak bisa menjaga diri mu sendiri!" Lanjutnya dengan intonasi tinggi ingin menyembunyikan rasa khawatirnya itu setelah ketahuan.
Sreeeet
Gadis itu menarik tangan dengan segera yang dipegang oleh Axel ketika dia tahu sedang terluka. Dia pun tidak menjawab pertanyaan dari darinya.
Mulut gadis itu seakan kelu untuk menjawab pertanyaan mengenai dirinya. Dia hanya diam beribu bahasa hingga membuat pemuda itu kebingungan.
Pemuda itu pergi dari kamar Bella dengan perasaan jengkel karena tidak mendengar satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Bingung dengan langkah yang harus diambil setelah kejadian kemarin karena tidak satu katapun terdengar dari mulut gadis itu.
"Apa yang harus aku lakukan pada gadis ini?" Batin Axel.
"Sudah beberapa hari dia tinggal di sini?" Lanjutnya.
__ADS_1
Pemuda itu merasa kasihan jika harus dan terus saja menyekap Bella. Hal ini juga dilakukannya demi keselamatan nyawanya.
Axel menuju kamar miliknya sendiri dan hendak membersihkan badannya. Dia berendam dengan air hangat untuk mengurangi rasa lelah yang ada tubuh dan dan pikirannya itu.
Air shower itu dinyalakan untuk mengguyur badannya yang masih tersisa busa yang menempel. Dia meraih handuk kimono yang tergantung di dalam kamar mandi itu untuk menutupi badannya saat keluar dari dalam kamar mandi.
Axel keluar dengan badan dan rambut yang masih sedikit basah. Mengambil celana boxer yang ada di dalam lemari pakaian kemudian mengenakannya.
Waktu yang semakin larut membuat udara semakin dingin. Pemuda itu berdiri di balkon menatap cerahnya langit malam yang bertabur bintang.
"Mereka berdua sedang apa di sana?" Tanya seorang pemuda lirih yang berdiri di balkon apartemen pribadi miliknya.
"Pasti kedua saudara ku sudah tidur nyenyak di tempat mereka masing-masing." Lanjutnya dengan tatapan mata yang baru saja beralih menuju sebuah pedesaan.
Axel seketika merasakan hatinya tenang saat mengingat kedua saudaranya. Dia mulai merasa kedua saudaranya mendapatkan pasangan hidup yang sudah tepat.
Cukup lama dia menatap di desa itu hingga tengah malam. Perutnya mulai terasa lapar karena memang sejak pagi dia belum menyentuh makanan sama sekali.
Ceklek
Pemuda itu berjalan perlahan keluar dari kamar miliknya. Handle pintu dibuka dengan segera.
Axel berjalan perlahan menuju dapur hendak memasak sesuatu untuk mengisi perutnya. Saat berjalan menuju dapur dia sudah mencium aroma sesuatu yang sangat menyengat.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki pemuda itu semakin dipercepat karena merasa sesuatu yang terjadi di tempat yang akan ditujunya sekarang. Dia pun segera membuka pintu dapur ingin segera melihat apa yang terjadi di dalam sana.
"Asap apa ini?" Tanya Axel sedikit berteriak dengan mata membulat sempurna saat mendapati barang yang ada di atas kompor miliknya hampir terbakar.
"Maaf aku ..." Jawab seorang gadis terputus.
Gadis itu merasa ketakutan dengan kejadian yang baru saja terjadi di dapur. Dia takut terjadi kebakaran saat ini hingga merusak barang yang ada disana lebih banyak lagi.
Gadis itu takut akan ada korban bukan takut tidak bisa mengganti semua kerugian yang ditimbulkan. Dia tahu hanya ada dua orang saat ini yang tinggal di apartemen tetapi jika seperti kemarin ada satu orang lagi gadis itu juga tidak tahu.
__ADS_1
Axel merasa senang kini gadis itu membuka suara. Pemuda itu merasa tertekan jika hanya didiamkan saja.