
Daffa yang sejak tadi berbelanja buah tangan memperhatikan gadis itu yang tiada minat dari harga. Berjalan dibelakang gadis itu mengekor seperti kucing yang hendak minta makan.
Barang yang disentuh gadis itu tadi semua diambil oleh Daffa yang berjalan dibelakangnya. Saat Yasna menoleh, dia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh pemuda yang berjalan dibelakangnya tadi.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Yasna membelalakkan mata tak percaya.
"Bukankah ini barang-barang yang hendak kamu beli?" Tanya Daffa.
"Selera mu bagus juga." Lanjutnya tanpa memikirkan apa yang menjadi kekhawatiran gadis itu.
"Harga satu baju di sini saja aku tak sanggup untuk membayarnya." Bisik gadis itu tepat di telinga Daffa.
"Apalagi sebanyak ini." Lanjutnya lagi.
"Kamu sendiri beli apa?" Tanya Yasna melihat beberapa barang yang sudah diambil Daffa yang harganya tidak murah.
"Hanya sedikit buah tangan untuk Bunda dan Kakak-kakak ku." Balas Daffa dengan santai sambil merangkul bahu gadis itu.
Gadis itu membelalakkan mata tak percaya hingga memandang mata Daffa ingin memperoleh kejujuran dari apa yang diucapkannya baru saja. Dia tak mendapatkan apapun dari sana hanya sebuah ketulusan yang terpancar dari sepasang mata itu.
"Apa yang paling disukai Bunda mu?" Tanya Daffa menuju pusat perbelanjaan bersama Yasna.
"Apa saja suka." Jawab Yasna.
"Paling disukai kamu tahu?" Kata Daffa dengan penuh penekanan.
"Menurut mu?" Tanya Yasna balik tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.
"Baiklah aku akan segera memberikannya." Kata Daffa.
"Apa yang kamu tahu?" Tanya Yasna.
"Banyak hal. Aku belikan pun belum tentu diterima adik ku sayang." Kata Daffa dengan memencet hidung gadis itu.
"Sakit tahu." Kata Yasna sambil berlari mengejar Pemuda yang sudah berlari itu.
Mereka berdua seperti anak-anak yang saling kejar-kejaran. Di tempat umum seperti itu menjadi perhatian banyak orang yang lalu lalang.
__ADS_1
Perasaan gadis itu menghangat seketika saat mendengar Daffa memanggilnya adik. Gadis itu seakan haus dengan perhatian terhadap seorang saudara, terutama saudara kandung.
Dia sendiri tidak pernah tahu tentang saudara kembarnya. Sang Bunda tidak pernah bercerita tentang hal itu.
Mengenai saudara kembar Yasna sepertinya memang tertutup rapat. Hal itu sengaja dilakukan untuk menutup kemungkinan sang ayah juga akan meminta hidup anaknya itu.
Banyak anggapan mengenai hubungan mereka. Karyawan yang bekerja di ruko tersebut tidak rela jika Bos mereka dekat dengan gadis itu.
"Huuuf." Keluh gadis itu.
"Kenapa? Capek?" Tanya Daffa setelah menghampiri gadis yang sedang terduduk di sebuah kursi panjang.
"Sudahlah ayo pulang." Ajak Yasna saat pemuda itu sekarang duduk di sampingnya.
"Itu belanjaan belum dibayar." Kata Pemuda itu dengan menunjuk pada troli yang berisi berbagai macam barang.
"Balikin aja, kita kabur." Ajak Yasna berbisik ditelinga pemuda itu.
"Ngaco, mau ambil langkah seribu." Kata Daffa.
"Aku bukan tampang orang yang seperti itu." Jelasnya.
Pemuda berdiri dan mendorong troli menuju kasir. Yasna yang melihat hal yang dilakukan pemuda itu hanya diam mematung berkacak pinggang dan menggelengkan kepala perlahan tak percaya dengan apa yang dilakukan orang yang bersamanya saat ini.
"Barang sebanyak itu dengan harga selangit. Aku tadi udah bilang tidak ada uang sebanyak itu di dompetku." Batin Yasna.
Daffa melihat kebelakang melihat gadis itu masih mematung ditempatnya. Dia pun kembali menghampiri Yasna yang sedang merana karena dompetnya tidak mampu membayar semuanya.
"Masih ada yang mau ingin dibeli?" Tanya Daffa saat sudah berada di depan Yasna.
"Kamu yakin dengan jumlah belanjaan seperti itu?" Tanya Yasna tanpa menjawab pertanyaan Daffa.
"Iya, kalau perlu mau nambah." Kata Daffa penuh keyakinan.
"Sudah ku bilang tadi aku tidak punya uang sebanyak itu untuk membayar semua belanjaan itu." Kata Yasna lirih.
Pemuda itu sejak tadi sudah tahu hal itu dan tidak perlu dijelaskan kepadanya pun dia tahu. Daffa ingin sekali mengerjainya dengan membuatnya saat itu.
__ADS_1
Melihat kejujuran yang sejak tadi ditunjukkannya, Pemuda itu tidak bisa berkata apa pun. Daffa memaksa gadis ini untuk ikut dengannya menuju kasir.
Gadis itu berjalan terseret-seret seperti akan menuju ke kasir. Ingin rasanya dia melarikan diri saat itu juga.
"Apa yang kamu khawatirkan?" Tanya Daffa yang menyadari langkah gadis itu semakin berat.
"Apa kamu tadi tuli?" Tanya Yasna balik tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu.
"Ini ni!" Lanjut Yasna dengan memberikan kode melalui jari tangannya. Menggesekkan antara jari tengah dengan jari jempol seperti biasanya.
"Berapa semuanya?" Tanya Daffa pada seseorang yang bekerja di meja kasir itu setelah memberikan memberikan semua belanjaan yang ada diatas troli yang di dorongnya tadi.
Pemuda itu melihat raut wajah Yasna secara intens setelah memberikan semua barang belanjaannya ke kasir. Kecemasan yang sangat terlihat di wajah gadis itu sedangkan punggungnya sudah banyak mengeluarkan keringat dingin.
"Apa adik ku yang masih kecil ini masih tidak percaya pada kakaknya yang sangat ganteng jagat raya?" Tanya Daffa saat meraih dan menggenggam erat tangan kecil gadis itu untuk meyakinkannya.
Gadis yang sejak tadi menundukkan kepalanya sekarang berusaha menengadahkan kepalanya memberanikan diri melihat seorang pemuda yang sejak kemarin menguatkan dirinya. Untuk ketiga kalinya dia mendengar kata adik hingga hatinya merasa menghangat.
Seorang petugas dikasir memberitahukan nominal jumlah tagihan yang harus dibayar mereka. Gadis itu tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya hingga dia melihat ke arah petugas di kasir.
Pemuda itu mengeluarkan sebuah kartu untuk membayar semua tagihan atas belanjaannya itu saat Yasna Yasna masih fokus menatap petugas itu. Pandangan Gadis itu sekarang sudah beralih pada Daffa saat dia memberikan kartu itu pada petugas.
"Masih tak percaya dengan ku, selain tampan tapi bisa tahu apa yang kamu butuhkan." Kata Daffa sedikit sombong.
"Dasar kamu." Kata Yasna sedikit malu.
"Ayo pulang." Ajak Daffa.
"Mumpung matahari belum begitu naik. Takutnya nanti kamu tambah hitam." Lanjut Pemuda itu dengan berjalan menuju tempat parkir dengan membawa beberapa kantong belanjaannya tadi.
"Sebenarnya siapa laki-laki ini?" Batinnya Yasna.
"Banyak sekali yang membuatku merasa takjub padanya." Lanjutnya*.
"Jangan banyak berpikir nanti cepet tua." Kata Daffa saat melihat Yasna yang sedang berkutat dengan pikirannya sendiri.
Gadis itu hanya tersenyum sesaat ketika melihat Daffa sedang memasukkan semua belanjaannya itu di belakang motornya. Melihat gadis itu tersenyum Daffa merasa gadis itu memiliki daya tarik yang lain walaupun dia itu seorang Cassanova.
__ADS_1
Mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju sebuah desa yang tidak jauh lagi tempatnya. Pemuda itu memiliki ekspresi yang santai sedangkan Yasna sudah dalam kondisi yang tidak tenang ketika akan bertemu dengan Sang Ibunda.