
Lama sekali seperti hari ini yang ditunggu oleh keduanya. Melepas rindu selama kepergiannya menuntut ilmu.
Banyak hal yang diceritakan gadis itu kepada Sang Bunda hingga membuat Sang Bunda merasa bangga mempunyai anak seperti Yasna. Bangga dengan prestasi yang banyak di dapatkan olehnya.
Dibalik cerita itu ada juga yang disembunyikan gadis belia itu. Ia tak mau menjadi sebuah beban pikiran wanita yang telah mengandungnya hampir 1 tahun.
Matahari sudah tepat berada diatas kepala yang berarti menunjukkan sekitar pukul 12.00 sudah waktunya untuk makan siang. Makanan yang dimasak tadi pagi masih tersisa lumayan banyak.
Pasangan Ibu dan anak itu mulai aksinya kembali di dapur. Mereka mulai memanaskan makanan tadi pagi agar enak dimakan.
Kali ini mereka hanya makan berdua saja, sebab mereka tahu Kakek di siang bolong juga memiliki aktivitasnya sendiri. Sebuah pekerjaan yang memang tidak terlepas membantu sang Bunda.
Selesai makan Sang Bunda sambil membereskan makan bekas mereka makan berusaha membuka percakapan untuk membuka hati Sang Anak. Selama ini memang ia adalah anak yang tertutup.
"Apa kamu belum punya pacar?" Tanya Bunda penasaran pada anak gadisnya itu.
"Kenapa pertanyaan yang sama Bun? Tidak adakah menanyakan yang lain?" Tanya balik Yasna tanpa menjawab pertanyaan Sang Bunda.
"Anak seusia mu disini sekarang mereka sudah punya pacar bahkan mereka sudah menikah." Jelas Sang Bunda.
"Trus?" Tanya Yasna singkat.
"Mulailah membuka hati mu untuk seseorang." Nasehat Sang Bunda.
"Bunda gak mau ya kamu jadi Perawan Tua." Lanjutnya.
"Jangan memandang masa lalu Bunda sebagai sebuah momok." Lanjutnya lagi.
"Aku ingin kamu lebih menikmati masa muda mu sayang?" Lanjutnya lagi.
"Bunda ku sayang, aku itu bahagia dan sangat bahagia saat ini, dan akan lebih bahagia jika bisa membuat mu lebih bahagia lagi." Jelas Yasna.
"Saat itu juga akan segera tiba. Saat itu juga cita-cita ku akan tercapai." Lanjutnya lagi.
"Aku hanya ingin membahagiakan mu terlebih dahulu Bunda ku sayang." Kata Yasna sambil memeluk Sang Bunda dari belakang saat sang bunda sekarang duduk di ruang makan dengan menyandarkan dagunya di bahu Sang Bunda.
Mendengar pernyataan Sang Anak, Bunda Azka merasa sangat hangat di hatinya. Ia seakan mendapatkan sebuah berlian yang tak ternilai harganya.
Chiiiiiit
Terdengar sebuah ban motor bergesekan dengan tanah di depan sebuah rumah yang sederhana dengan halaman yang begitu luas. Berbagai macam bunga dan tanaman di rawat dengan baik bahkan berbagai macam buah sudah tersedia di halaman tersebut.
Mendengar sebuah mesin motor baru saja dimatikan Seorang gadis dengan segera melangkahkan kaki dari ruang nakan menuju ruang tamu untuk mengintip dari jendela. Ia membuka tirai itu sedikit ingin tahu siapa gerangan yang telah datang pada waktu siang bolong seperti ini.
Seorang pemuda kini telah turun dari motor balap kesangannya. Gadis yang sedang mengintip melalui jendela ruang tamu itu pun mengernyit heran.
__ADS_1
"Siapa tamunya?" Tanya Bunda Azka sedang berjalan menghampiri anak gadisnya yang sedang mengintip.
"Ah, Bunda mengagetkan ku saja." Kata Yasna tanpa menjawab pertanyaan dari wanita paruh baya itu.
Bunda ikut mengintip melalui jendela yang sama sambil memegang kedua bahu anak gadisnya itu. Melihat kedatangan pemuda yang hendak berjalan menuju rumah mereka kedua wanita itu saling melempar pandangannya.
"Kamu kenal dengan dia?" Tanya Bunda antusias mengharap sesuatu yang lain.
"Tidak." Jawab Yasna singkat dengan mengendikkan kedua bahunya.
Mendengar jawaban itu Bunda Azka sedikit kecewa. Ia berharap sang anak mengenalnya bahkan memiliki hubungan yang lebih.
Bunda berharap seperti itu karena bisa melihat bahwa Pemuda itu adalah pemuda yang baik. Ia bisa melihat dari setiap sikap dan penampilannya.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Pemuda itu menekan bel rumah Bunda Azka setelah berjalan menaiki anak tangga yang hanya beberapa pijakan saja. Ia pun melihat ke sekitar rumah menikmati kesejukan udara di sana.
"Motor itu tidak asing." Batin Yasna melihat punggung sang bunda berjalan menuju pintu hendak membukanya.
"Assalamualaikum." Sapa Pemuda itu ketika wanita paruh baya membuka pintu rumahnya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Bunda Azka dengan senyum ramahnya.
"Siang Tante." Sapa Pemuda itu.
"Siang."
"Mari masuk." Ajak Bunda Azka.
"Kita berbincang di dalam saja." Lanjutnya.
"Terimakasih tante." Kata Pemuda itu.
Pemuda tampan itu berjalan di belakang Bunda Azka menuju ruang tamu. Bunda Azka pun meninta pemuda itu duduk.
Bunda Azka menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk pemuda yang sedang duduk di ruang tamu. Daffa mengedarkan pandangan pada setiap sudut ruangan itu.
Pemuda itu merasa kagum dengan dekorasi di ruang itu. Rumah yang sederhana tapi di dalamnya sungguh sangat elegan. Tidak seperti rumah desa pada umumnya.
Pikirannya kini tidak menganggap bahwa pemilik rumah ini bukanlah orang biasa. Ada kemungkinan bahwa wanita paruh baya tadi adalah seorang pendatang.
__ADS_1
"Kamu?" Tanya Pemuda itu ketika pandangannya menangkap seorang gadis muda dibawah umurnya sedang menyandarkan samping badannya di pintu yang menghubungkan dengan dapur.
"Nana." Panggil Bunda Azka pada anak gadisnya itu.
"Iya Bun, sebentar." Balas Yasna berjalan menuju dapur meninggalkan Pemuda itu.
"Tolong bawakan minuman ini ke depan ok." Pinta Bunda.
"Kemudian tolong temani dia sebentar ya?" Lanjut Sang Bunda.
Tanpa menjawab gadis itu melaksanakan apa yang diperintahkan padanya. Ia pun penasaran kenapa Sang Bunda bisa kenal dengan pemuda yang itu.
Gadis itu meletakkan minuman di atas meja dan segera ia pun duduk di depan Pemuda itu. Biarpun Yasna ada di sana tapi ia sangat cuek tak ada pembicaraan sama sekali.
"Lho kok pada diem-diem am?" Tanya Bunda membawa toples berisi cemilan.
"Terimakasih kemarin sudah mengantar Bunda pulang dengan selamat sampai di rumah." Kata Bunda setelah duduk di samping anak gadisnya.
"Sepertinya itu motor di depan aku sangat familiar." Kata Yasna berdiri melihat motor yang terparkir.
"Pinjem ya?"Tanya Gadis itu.
"Iya...." Jawab Daffa menggantung.
"Darimana kamu tahu?" Tanya Pemuda itu.
"Kamu namanya siapa?" Tanya Bunda mengalihkan agar tidak terjadi perang dingin.
"Maaf kemarin belum sempat bertanya." Kata Bunda.
"Panggil saya Daffa aja tante." Jawab Pemuda itu.
"Terimakasih sudah memenuhi undangan tante." Kata Bunda.
"Jadi dia ke sini disuruh Bunda." Batin Yasna sambil membelalakkan mata tak percaya.
"Kalau mau ke sini gak usah acara pinjam motor kali." Lirih Gadis itu tapi masih bisa di dengar oleh kedua orang yang ada di sana.
"Maaf Daffa, atas kelakuan ini anak gadis tante yang judes." Kata Bunda.
"Ini akibat menjomblo terlalu lama jadinya seperti singa betina tiada sabar-sabarnya." Lanjut Bunda Azka.
"Ramahlah sedikit pada laki-laki. Biar gak jadi jomblo akut, takutnya sampai jadi perawan tua." Bisik Bunda Azka di telinga anak gadisnya itu.
Bisikan Sang Bunda masih sedikit bisa di dengar oleh Pemuda itu. Pada waktu minum ia pun hingga tersedak. Air minum itu tidak jadi masuk tapi malah menyembur keluar.
__ADS_1