Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Kue Tiada Duanya Kue Buatan Nyokap


__ADS_3

Pemuda yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja itu menghampiri ke dua saudaranya. Sebuah bogem menuju pada dada Sang Kakak.


"Auh sakit tahu." Keluhnya sambil memegang dada yang baru saja terkena bogem sang adik.


"Mau lagi?" Tanya Garda yang sudah menaikkan tangan bersiap dengan bogemnya lagi.


"Ampun." Pinta Axel dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sudah sampai kenapa tadi tidak bangunin?" Tanya Garda melihat ke arah meja yang sudah terdapat minuman dan kue.


Mereka bertiga duduk sembarang di sebuah sofa tak ada etika pada ketiganya seperti biasa. Kalau hanya bertiga bodoh amat mau duduk di kursi, mau duduk di bawah, mau tiduran di mana saja oke, bahkan mau duduk atau tidur di kursi kebesaran mereka pun tak masalah.


"Enak banget." Puji Garda dengan mencomot sedikit kue yang ada di meja.


"Alah bilang aja elu kelaparan." Kata Sang Kakak


"Gak percaya, cobain aja deh Kak." Kata Garda pada Kakaknya Axel.


"Elu beli dimana Daf?" Tanya Garda dengan mulut penuh dengan kue yang dikunyah.


"Kue itu?" Tanya Daffa dengan mengerutkan kening sambil berpikir.


"Tadi gue emang keluar tapi gue gak beli kue."


"Bener-bener enak ini kue rasanya sama kayak bikinan nyokap." Celetuk Garda.


"Bibi gak mungkin beli kue ia tahu kita gak suka berbagai macam kue." Celetuk Axel yang dari tadi menjadi pendengar.


"Elu laper atau kelaparan kue segitu banyak elu habis sendiri?" Tanya Axel dengan menunjukkan jari telunjuknya pada piring yang hanya tinggal beberapa potong kue.


"Tapi beneran ini se-enak buatan Nyokap elu pada nyoba deh." Kata Garda.


"Gue jadi kangen sama nyokap." Lanjutnya.


Penasaran kedua saudaranya pun ikut mencomot kue yang hanya tinggal beberapa potong. Keduanya memejamkan mata saat mengunyah kue itu.


"Mantap." Teriak Axel dan Daffa secara bersamaan.


"Bener kata elu Kak, lumer di lidah." Kata Daffa.


"Kaya buatan Nyokap, enak betul." Kata Axel.


"Rasanya tak ada duanya." Kata Daffa.


"Kalau ini bukan buatan nyokap berarti sekarang sudah ada yang ke dua." Garda.


"Bisa aja elu." Kata Daffa.


"Rindu...... rindu se rindu rindunya." Kata ke tiga pemuda itu bersamaan.


Saat melantunkan nyanyian itu mata mereka melirik piring yang hanya tinggal satu potong kue. Ketiganya saling berebut, tapi sayangnya ketiganya masing-masing hanya mendapat potongan secuil saja.


Ketiga pemuda itu memang sekarang jangan bersama sang mama. Semua sudah memiliki tanggung jawab masing-masing.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan Nyokap juga ke sini." Celetuk Axel yang akhirnya ketiganya saling pandang.


Daffa memutuskan untuk pergi ke dapur. Ia mencari Wanita Paruh Baya yang bekerja menjadi ART di Villa itu.


Sesampainya di dapur Pemuda itu hanya menemukan seorang gadis yang sempat ditemuinya dua kali. Gadis itu sedang mengobrak-abrik seluruh isi dapur.


"Bibi." Panggil Pemuda itu pada ART-nya.


"Ia Den." Jawab Sang Bibi dari kebun belakang.


"Bibi tadi yang membuat kue?" Tanya Daffa sambil berjalan mengambil sebuah gelas.


"Ti-ti-tidak Den." Jawab Bibi lirih karena takut melakukan kesalahan.


"Itu tadi kue dari siapa?" Tanya Pemuda itu lagi.


"Bibi tidak tahu." Jawab Bibi.


"Tadi sudah ada di sini." Lanjutnya lagi.


"Apa mama kesini tadi?" Tanya Daffa.


"Tidak ada yang kesini Den." Jawab Bibi.


Pemuda itu memejamkan matanya sangat lama karena mencium bau harum yang menyeruak di dapur. Bau harum ini adalah bau kue yang baru saja masak.


"Siapa yang membuat kue Bi?" Tanya Daffa berjalan melihat ke dapur dengan membawa gelas yang ia ambil tadi.


Pemuda dan wanita paruh baya itu melihat seorang gadis yang tadi mengobrak abrik dapur sedang mengeluarkan sebuah kue dari panggangannya. Daffa membalikkan badannya sedangkan Sang Bibi hanya menunduk takut kena marah.


Bibi takut kalau gadis itu kena marah karena sudah membuat kue yang tidak disukai oleh ketiga Pemuda yang baru saja berkumpul di villa itu. Ketiga pemuda itu memang tidak suka makan berbagai macam kue yang rasanya mereka anggap kurang enak.


"Bawa kue itu ke ruang kerja Bi." Perintah Pemuda itu dengan tegas.


"Baik Den." Kata Sang Bibi.


Pemuda itu kembali ke ruang kerja dengan langkah panjangnya. Ia ingin segera bertemu dengan kedua kakaknya.


Ceklek


Daun pintu pun terbuka lebar dan seorang Pemuda pun masuk kedalam ruangan itu. Kedua pemuda yang ada di dalam ruangan itu pun menjadi terdiam dan memandang adiknya yang baru masuk.


"Gimana Mama di sinikah? Tanya Axel anak yang paling dekat dengan Sang Mama.


"Mama gak kesini kata Bibi." Jawab Daffa.


"Trus itu tadi kue beli di mana?" Tanya Garda.


"Masih ada lagi gak? Tanyanya lagi.


"Kakak ku sayang elu demen apa doyan?" Tanya Daffa yang masih memegang gelas itu tanpa sadar.


"Keduanya." Jawab Garda.

__ADS_1


"Demen orang yang buat." Goda Daffa karena tahu yang membuatnya.


"Doyan sama kuenya." Lanjutnya.


Ketiga pemuda yang ada di dalam ruang kerja itupun tertawa renyah mendengar penuturan adiknya itu. Dari dalam ruangan itu sudah mulai tercium harumnya kue yang baru saja masak.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


Pintu diketuk oleh seorang wanita paruh baya yang diminta Daffa mengantarkan. Tidak butuh waktu lama terdengar suara dari dalam ruangan itu.


"Masuk Bi." Perintah Daffa.


Ceklek


"Permisi Den." Kata Bibi membuka daun pintu itu perlahan dengan membawa sepiring kue yang sama.


"Terima kasih Bi." Kata Daffa setelah kue itu di letakkan di meja.


Suasana yang hening ketika memang ada orang lain berada diantara mereka. Pandai menempatkan diri dan melihat situasi.


"Jadi yang buat kue Bibi?" Tanya Garda dengan menelan salivanya sendiri mengingat ucapan dari Sang Adik tadi.


"Kenapa gak jadi di makan?" Tanya Sang Adik tersenyum smirk.


"Di sajikan hangat begini semakin enak." Celetuk Axel dengan mulut yang penuh dengan kue.


"Gue udah kenyang." Kata Garda.


"Beneran ni gue habisin sepiring-piringnya ntar elu baru nanyain?" Tanya Axel.


Kali ini sepiring kue dihabiskan oleh Sang Kakak dan Sang Adik. Kakak dan adiknya itu tahu apa yang ada dipikirkan oleh Garda.


"Siapa yang bikin kue seenak bikinan Nyokap Daf?" Tanya Sang Kakak.


"Seorang gadis yang ada di villa ini." Jawab Sang Adik.


"Gadis yang tadi memecahkan barang?" Tanya Sang Kakak.


"Hem." Jawab Sang Adik tidak mau membahas masalah wanita.


"Hah, gadis cantik itu?" Tanya Garda mulai antusias.


"Sudah habis kuenya?" Tanya Garda.


"Katanya sudah kenyang?" Tanya Axel mendakwa adiknya.


Wajah kecewa sedikit terukir di muka Garda yang tampan. Daffa sendiri sudah bosan jika mengurusi seorang cewek, sebab selama ini ia menjadi incaran para gadis.


Kedua kakaknya menjadi incaran para gadis tetapi selama ini sangat menghindari dengan yang namanya seorang gadis. Tidaklah berbeda dengan kedua kakaknya sebenarnya, akan tetapi Daffa sedikit menanggapi para gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2