Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Tidak Lebih Cantik


__ADS_3

Di ruang kamar depan sekarang tinggalah dua orang pemuda yang akan meluapkan emosinya. Daffa seakan tidak terima jika sahabatnya melakukan hal yang tidak senonoh di rumahnya.


Wajah kedua pemuda itu masih memerah dengan mata yang sama tajamnya, walaupun seperti itu keduanya bisa menyelesaikan masalah secara damai tanpa baku hantam. Kejadian yang lebih parah dari itu pun pernah terjadi akan tetapi dengan pikiran dingin mereka berusaha menyelesaikan secara baik-baik.


Perbuatan yang tidak melebihi batas bisa dimaafkan buat keduanya. Lain halnya jika sudah melebihi batasan amarah yang membuat bencana pasti akan terjadi.


Daffa mempunyai karakter yang tidak bisa dibayangkan oleh orang lain. Pemuda ini nekat jika ia dalam posisi darurat apalagi menyangkut masalah keamanan keluarganya.


"Benar kamu tidak mengenalnya?" Tanya Bram.


"Aku baru tahu dari Bibi." Jawab Daffa.


"Tapi cantik juga." Lanjutnya.


"Gak tuh, gak cantik." Kata Bram.


"Tapi, sangat cantik." Lanjutnya.


"Ok, Ok. Gak lebih cantik dari Nyokap dan kakak gue." Kata Daffa yang sejak dahulu tidak mau kalau kedua wanita dalam hidupnya menjadi yang kedua.


Sahabatnya itu tidak mau banyak berdebat lagi dengan Daffa yang pasti akan kalah argumen. Dibalik sifatnya yang ingin tak mau kalah itu ia sangat mengutamakan sebuah keluarga.


Sahabatnya itu selalu saja dibuat penasaran dengan sifat Daffa yang tak mau orang lain menyinggung kehidupan keluarganya. Kehebatan keluarganya tidak pernah ia menyinggungnya atau memberitahukan orang lain.


Sifatnya yang selalu saja rendah diri terhadap orang lain melekat pada semua anggota keluarganya. Mereka tidak sombong dengan semua yang dititipkan Allah pada mereka.


"Penasaran gue dengan wajah nyokap dan kakak elu." Kata Bram penuh dengan rasa keponya.


"Katanya Nyokap dan Kakak Cewek elu yang paling cantik." Lanjut Bram saat berjalan beriringan meninggalkan kamar depan.


"Apa karena itu kamu sampai sekarang masih pilih-pilih cewek?" Tanya sahabatnya.


"Ya, gue cari yang seperti mereka." Jawab Daffa singkat.


Semenjak kenal dengan sahabatnya yang satu itu tak pernah sekalipun ia bertemu dengan salah satu anggota keluarganya. Kemungkinan juga pernah bertemu dengan Kakak laki-lakinya tetapi tidak pernah diperkenalkan dengannya.


"Gadis yang mendekati elu semuanya oke gue lihat wajah cantik body juga Ok. Jangan-jangan elu seorang gay." Tebak Bram yang kemudian mendapat tatapan tajam dari Sahabatnya itu.


"Elu gak punya telinga apa?" Tanya Daffa yang matanya sudah memerah karena tuduhan dari sahabat yang sedang bersamanya sekarang.


"Denger gak gue tadi bilang apa cewek-cewek itu gak lebih cantik dari nyokap dan kakak gue." Kata Daffa menekankan setiap kata-katanya.


"Iya-iya gue minta maaf." Kata Bram untuk meredam kemarahan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Elu gak ada acara hari ini?" Tanya Daffa.


"Ada." Jawab Bram singkat.


"PDKT sama cewek tadi." Lanjutnya.


"Awas kalau elu macem-macem & terjadi hal yang tidak seharusnya." Ancam Daffa murni dari dalam hati sambil berlari kecil menaiki tangga menuju kamar pribadinya.


"Mau kemana elu?" Tanya Bram sedikit berteriak.


"Mandi." Jawab Daffa singkat saat sampai di atas.


"Aku cabut dulu bentar ada urusan sedikit." Pamit Bram melewati ruang makan sambil mencari-cari sosok gadis yang tadi menjadi tersangka utama pagi ini.


Gadis yang tadi menjadi tersangka pagi ini mendengarkan semua percakapan kedua pemuda ganteng yang ada di dalam villa. Ia mendengarkan semuanya tanpa sengaja.


Bibi yang pagi ini terlihat banyak sekali pekerjaan gadis ini pun menawarkan bantuannya. Gadis ini terlihat sangat memaksa karena ia tidak mau tinggal di tempat ini gratis.


Bantuan yang diberikan kepada Bibi itulah ia bisa mendengar percakapan dan pertengkaran kedua pemuda itu. Gadis itu bisa menilai watak keduanya dari pendengarannya tadi.


Sangat berbeda perwatakan mereka tetapi sangat kental. Keduanya bisa saling menghargai satu sama lain.


Ceklek


Handuk tersampir di pundaknya setelah diambil dari dalam lemari pakaiannya. Ia pun langsung menuju kamar mandi.


Air dingin mengguyur badannya yang bisa membuat semua gadis menelan salivanya. Tubuh berotot dan perut seperti roti sobek.


Daffa segera membersihkan semua badannya menggosok semua badannya tak terlewatkan sama sekali dari anggota tubuhnya. Sabun dengan wangi khas kesukaannya menyeruak di dalam kamar mandi hingga ia sangat betah di dalam sana.


Biarpun ia seorang Pria tapi sangat memperhatikan kebersihan badannya. Penampilan yang selalu cool itulah yang selalu menarik para gadis.


Dilihat dari segi manapun Pemuda itu tetep menjadi sorotan utama. Di kampus banyak yang penasaran dengan asal keluarganya.


Daffa yang tidak mau diekspos ke publik sehingga banyak teman mereka yang tidak tahu saja kehidupan keluarganya sudah menjadi incaran para gadis sejak sekolah. Apalagi jika mereka tahu bahwa ia adalah anak dari kedua orang tua yang sangat berpengaruh pastilah akan sangat mengerikan dunia keperjakaannya.


Kesuksesan yang keluarganya dapat itu berasal dari bawah. Sebuah usaha keras yang harus mereka jalani. Satu hal mereka tidak melupakan keluarga mereka.


Ritual mandi yang Pemuda ini lakukan sudah berakhir, kini ia mengenakan kaos santai kesukaannya dipadu dengan celana jens. Rambut yang masih sedikit basah menambah pesona tersendiri dari badannya.


"Kak Axel kenapa nyusul ke sini?" Tanya Daffa dalam hati.


"Bukannya Kak Axel harus melanjutkan studinya di luar negeri?" Lanjutnya sambil berjalan menuju balkon.

__ADS_1


Duduk di balkon sambil melihat pemandangan desa sekitar sudah menjadi favoritnya saat liburan di Villa ini. Bisa memberikan rasa nyaman dengan dalam hati dan pikirannya.


"Aku ke sini kan tujuannya untuk menghindari kesedihan ku ditinggal kekasih ku yang paling tua itu." Batinnya lagi.


"Malu ketahuan nangis lebai tapi kenapa Dia malah menyusul ke sini." Tambahnya lagi dalam hati.


Thin


Thin


Thin


Suara klakson mobil terdengar tidak asing bahkan suara nyaring mobil itu Daffa yang masih galau dengan pikirannya sangat hafal siapa pemilik mobil itu. Ia pun langsung berlari turun menemui kekasihnya itu.


Tidak berbeda juga dengan Sang kekasih. Ia langsung berlari tanpa melihat sekitar.


Pyaar


Suara nyaring itu terdengar sangar jelas di telinga ketiganya. Suara alat rumah tangga tentunya jatuh akibat kesalahan mata memandang.


"Maaf Tuan." Pinta gadis yang datang baru tadi malam.


"Hem." Jawab Axel dingin.


"Dimaafkan atau tidak?" Tanya gadis itu lagi.


"Auuuu." Teriaknya karena terkena serpihan gelas pecah akibat benturan tadi.


"Bibi." Panggil Axel sedikit keras pada ART di Villa itu.


Saat Bibi datang dan melihat situasinya itu, ia minta maaf atas kejadian yang baru saja terjadi. Axel dalam keadaan berdiri diam tanpa bergerak seperti patung dari tadi walaupun melihat gadis cantik itu terluka sambil memicingkan matanya melihat gadis itu.


"Bantu ia mengobati lukanya Bi." Titah Axel dengan dingin.


"Baik Tuan." Kata Bibi sambil membersihkan pecahan kaca dari gelas tadi.


"Aku tak pernah melihat gadis itu." Batin Axel.


"Jangan-jangan kekasih gelap adik ku yang paling kecil." Pikirnya lagi.


Daffa yang sudah berada di lantai bawah dekat tangga hanya menyaksikan kejamnya sang Kakak memperhatikan gadis yang terluka. Ia sangat tahu betul sifat kedua kakaknya yang dingin.


Ketiganya memang memiliki sifat yang sama dingin, belum lagi sang Papa. Sifat paling dingin dimiliki oleh kakaknya Axel. Sang Papa saja kalah dengan dinginnya Sang Kakak.

__ADS_1


__ADS_2