Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Panas


__ADS_3

Tubuh kecil itu meringkuk terlihat sangat cantik dengan anak rambut yang menutupi wajahnya. Wajah yang natural tanpa ada polesan sedikit pun.


"Bunda."


"Bunda."


"Bunda."


Gadis itu mengigau memanggil manggil seseorang yang seharusnya bersamanya saat ini. Wanita paruh baya yang ada di samping gadis itu kini merasa bingung harus berbuat apa.


"Nduk bangun, minum dulu." Perintah wanita paruh baya itu dengan suara yang bergetar.


"Nduk bangun." Pinta Bibi untuk yang kedua kali tapi gadis itu masih saja mengigau.


Wanita Paruhbaya itu merasa khawatir saat menyentuh badan Hafsa ia merasakan badan gadis itu panas. Bibi segera mengambil obat yang ada di kotak obat yang ada di dapur.


Tidak segera membuka mata untuk minum obat sehingga Wanita itu terpaksa mengguncang-guncang badan Hafsa. Gadis itu bukannya membuka mata tetapi dia semakin meringkuk karena meriang.


Matahari pagi kini tidak seperti biasanya. Ia bersembunyi dibalik awan hitam. Mendung sepertinya memang akan turun hujan.


Ketiga Pemuda tampan yang baru terlelap kemudian mendengar panggilan azan mereka segera beranjak dari mimpinya. Mata mereka masih ngantuk berat seperti ada batu bakar yang menggantung di bulu mata.


Mereka sadar akan kewajiban mereka terhadap Sang Pencipta. Didikan dari orang tua tidak mereka tinggalkan sama sekali.


Sholat subuh usai mereka jalankan walaupun dengan mata yang sangat berat. Ingin rasanya kembali tidur tapi tidaklah seperti biasa setelah merasakan segarnya air membuatnya beraktivitas seperti biasa.


Tak


Tak


Tak


Terdengar suara langkah kaki yang begitu cepat menuju ke arah ketiga pemuda yang sekarang berada di ruang baca. Tidak biasanya ada suara langkah kaki yang begitu terburu-buru.


Mendengar langkah kaki yang setengah berlari ketiganya mengerutkan kening. Entah ada gempa bumi apa pagi-pagi buta seperti ini.


Kraat


Pintu ruang baca itu terbuka secara cepat karena memang ruangan itu tadi tidak tertutup secara rapat. Wanita Paruhbaya yang mendorong pintu secara kilat itu tadi mendapat kekuatan dari sapu terbang pikir ketiganya pemuda itu.

__ADS_1


"Den maaf Hafsa mendadak demam." Terang Bibi dengan gusar akibat sangat khawatir pada gadis itu.


"Selemah itu kah?" Ejek Axel yang diiringi dengan ketiganya saling pandang.


"Sudah berikan obat Bi?" Tanya Daffa dengan perhatian.


"Maaf Den gadis itu tidak membuka mata." Kata Bibi.


"Saya sudah mencoba membangunkannya." Lanjutnya.


Melihat Wanita Paruh baya yang sangat khawatir itu Seorang Garda menjadi pahlawannya kepagian. Ia pun langsung segera menuju kamar belakang tempat gadis itu tidur dengan gelisah.


Kedua saudaranya hanya melihat punggung ketika saudara mereka pergi tergesa-gesa kemudian mereka berdua saling pandang. Bibi pun mengekor tuannya itu.


"Berada di sini baru dua hari saja sudah menyusahkan orang tua." Kata Axel yang sebenarnya juga mulai khawatir.


"Kak walau bagaimanapun dia seorang wanita dan kita juga tidak tahu apa saja yang dialaminya." Kata Daffa mencoba mengingatkan bagaimana seorang wanita itu hanyalah manusia lemah jika dibanding dengan laki-laki.


Garda yang sudah sampai di kamar gadis itu berada segera memeriksa suhu badan gadis itu. Ia sangat terkejut setelah memeriksa suhu tubuh gadis itu yang sudah sangat panas sekali.


Kakak sulung dan adiknya tidak mengikutinya?


Di ruang baca kedua saudara itu masih berdiskusi. Hal yang tidak terpikir saudara tertua adalah tangannya yang langsung saja mencari benda pipih yang ada di atas meja.


Axel pun segera duduk di sofa yang ada di ruang baca itu dengan membawa sebuah buku tebal dan membuka buku itu. Diraihnya benda pipih itu dan mencari id dokter keluarga mereka.


Pikiran Sang Adik saat itu sudah menganggap tega kakak sulungnya itu dengan membiarkan seorang gadis sakit di villa milik mereka. Pada saat Daffa tenggelam dalam pikirannya itu Sang Kakak mengetikkan sebuah pesan pada salah satu dokter yang dekat dengan keluarga mereka.


Sang Adik mengira bahwa kakaknya Axel memang benar-benar tidak peduli pada gadis itu karena dilihatnya ia mengotak atik benda pipih itu setelah membuka sebuah kitab suci yang sangat tebal. Dipikirnya Sang kakak sedang mencari sebuah informasi di benda pipih yang saat ini dipegangnya.


"Tidak mau melihat orang sakit?" Tanya Daffa.


"Nanti saja." Jawab Sang Kakak.


"Ada yang harus aku kerjakan." Lanjutnya tanpa memindahkan pandangan matanya dari benda pipih yang ada di genggamannya sekarang.


"Bagaimana kau tidak sepeduli itu pada seorang gadis yang tinggal bersama kita?" Tanya Sang Adik mengingatkan bahwa mereka tinggal masih dalam lingkungan yang sama harusnya ada rasa kepedulian Itukan.


"Sudahlah aku tahu kau seorang cassanova jadi untuk urusan gadis yang lumayan cantik seperti dia pastinya jadi yang utamakan?" Kata Sang Kakak dengan ringannya.

__ADS_1


"Pergilah dulu melihat dia." Lanjutnya.


Isi pesan yang dikirimkan pada salah satu dokter keluarga Adrean.


Dok, bisa datang ke Villa X sekarang~ Axel.


Siapa yang sakit? ~ Dokter Mawar.


Jangan banyak tanya! ~ Balas Axel yang tidak mau dokter wanita itu banyak mencampuri urusan keluarganya.


Baiklah Tuan Muda. ~ Balas Dokter Mawar.


Dokter Mawar segera pergi meninggalkan rumah sakit dengan tergesa-gesa. Baru sampai di tempat parkir ia langsung menginjak pedal gas mobilnya.


Pesan itu pun diterima Dokter itu ketika ia sampai di tempat parkir. Padahal ia ada jadwal praktek di rumah sakit tetapi langsung meninggalkan meninggalkan rumah sakit tanpa turun dari mobilnya.


Ketiga Putra keluarga Adrean sedikit tidak suka dengan Dokter Mawar. Mereka tahu dokter itu sangat menaruh hati pada Papa mereka.


Bagaimana mungkin itu terjadi?


Papa dan Mama saling mencintai ditambah lagi dengan usia dokter itu juga sama dengan kedua orang tua mereka. Dokter itu masih sangat berharap walaupun ia juga sudah punya suami.


Di Kamar belakang seorang pemuda merasa sedikit khawatir dengan kondisi gadis yang sedang mengalami panas pada badannya. Panasnya terlalu tinggi hingga ia mengigau terlalu banyak.


"Bi sebaiknya saya panggilkan dokter saja badan gadis ini sudah seperti panas sekali." Kata Garda.


"Terserah Aden saja yang penting gadis Hafsa bisa sehat kembali." Balas Bibi pasrah karena sudah tidak tahu apalagi yang harus dilakukan.


"Sebelum dokter datang sebaiknya keningnya dikompres saja dulu Bi." Perintah Garda.


"Oh iya Den, maaf saya lupa untuk pertolongan itu." Kata Bibi.


"Saya ambil ponsel ku dulu Bi, tadi aku taruh di kamar Kak Axel." Kata Garda beranjak dari tempat tidur Wanita Paruhbaya itu keluar meninggalkan kamar itu.


"Baik Den." Balas Bibi.


"Terimakasih Den." Lanjutnya.


Benda pipih milik Garda memang tertinggal di kamar Kakaknya Axel. Ia tertidur disana bersama adiknya Daffa.

__ADS_1


Menuju kamar Sang Kakak Daffa berpapasan dengan Kakaknya Garda. Niatan Daffa mau melihat keadaan Hafsa malah Garda pergi dari sana. (Ganti shift jaga pasien kah?)


__ADS_2