
Pemuda itu meminta Yasna untuk duduk di ruang makan atau kembali ke kamar yang akan dipakainya tidur. Kondisi di sana akan lebih baik jika dibandingkan di dapur yang baru digunakan dan banyak terdapat air.
Gadis itu hanya kembali ke ruang makan menunggu Daffa karena merasa tidak enak telah merepotkannya sejak tadi siang. Ingin rasanya membantu tapi tidak diijinkan oleh yang punya sebab dia sendiri tidak terbiasa berpangku tangan sejak kecil.
Semua barang yang tadi digunakan kini sudah tertata rapi pada tempatnya. Daffa melirik gadis itu sedang duduk dikursi menyandarkan kepala pada meja dengan beralaskan kedua tangan yang dilipat di atas meja.
"Ayo ke kamar." Ajak Daffa.
"Apa?" Tanya aja Yasna dengan mengernyitkan dahinya yang tidak pernah mengira kalimat itu akan keluar dari mulut seorang pemuda yang baru saja dia percayai.
"Maksud ku, aku akan antar kamu ke kamar atas." Jawab Daffa saat melihat raut wajah seorang gadis yang hampir saja salah paham.
"Oh. Baiklah." Jawab Yasna singkat.
Kulitnya terasa dingin sejak memasuki villa yang terletak agak kepedalaman dari pantai ini tapi masih bisa di jangkau oleh pasang surutnya air laut. Daffa merasakan kulit putih yang dingin seperti salju itu sebenarnya sejak dari pantai saat pulang ke villa.
Udara yang semakin lama semakin dingin itu terasa sekali di kulit pemuda itu apalagi pada kulit gadis yang sejak tadi membonceng tanpa jaket pasti lebih dingin. Pemuda itu sangat peka terhadap alam hingga perubahan suhu tubuh gadis itu juga sangat terasa baginya.
Pemuda itu mengajak Yasna ke sebuah kamar yang berlainan arah dengan kamar yang diantarkan padanya saat pertama kali datang. Daffa pun akhirnya menarik paksa gadis itu hingga pergelangannya itu sakit.
"Aaaah." Keluh gadis itu.
"Lepas sakit." Kata Yasna berusaha melepaskan genggaman tangan pemuda yang ada bersamanya sekarang.
"Kalau gak mau sakit maka menurutlah!" Kata Daffa kemudian.
Ceklek
Pintu itu dibuka oleh pemilik kamar yang sangat tampan sejagat raya. Pemuda itu melepaskan tangan Yasna perlahan ketika ia sudah tidak memberontak lagi.
"Diam dan tunggu aku di sini!" Perintahnya sebelum menutup pintu kamarnya itu.
"Jika kamu berani melangkah keluar dari villa pun besuk pagi kamu tidak akan bisa kembali." Lanjut Daffa dengan senyumnya yang menyeringai.
"Aku tahu." Balas Yasna dengan mengelus-elus pergelangan tangannya yang sedikit sakit.
__ADS_1
Pemuda itu melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya. Dia pun tak lupa menutup pintu karena memang ruangan itu tak seorang pun diijinkan masuk.
Ada banyak sekali rahasia di sana yang tidak boleh bocor ke tangan orang lain. Jika hal itu terjadi maka karier yang telah dirintisnya sendiri akan segera hancur.
Pemuda itu memang tidak pernah terlihat sangat serius dimanapun tempatnya. Mereka hanya tahu kalau Daffa adalah seorang mahasiswa yang hanya bisa bersenang-senang.
Pemuda itu berjalan dengan segera menuju lemari pakaiannya kemudian mengambil beberapa potong pakaian bersih dan beberapa kaos. Pakaian-pakaian itu masih itu baru, dia membeli pakaian itu belum sempat mengenalkan hanya untuk cadangan ketika dia menginap di sana.
Beberapa pakaian itu dibawanya keluar untuk diberikan pada gadis yang sedang menunggu di luar kamar. Pemuda itu berharap ada dari pakaian itu yang disukainya dan pas ditubuhnya.
Hal itu bagaimana mungkin terjadi? Pakaian dan kaos itu disain untuk seorang laki-laki, akan tetapi kini akan diberikan pada seorang gadis.
Klek
Suara sebuah pintu terbuka akibat daun pintu itu ditarik dari dalam. Gadis itu menoleh matanya tertuju pada beberapa pakaian dan kaos dengan warna yang berbeda.
Gadis itu mengernyit karena tidak tahu untuk apa pakaian-pakaian itu dibawa Daffa ke luar dan diserahkan padanya. Apakah dia akan disuruh nyuci pakaian-pakaian itu?
Gadis itu katanya tamu buat Daffa, tidak mungkin katanya tadi untuk melakukan pekerjaan rumah miliknya. Lagi pula pakaian-pakaian itu terlihat masih bersih.
"Tak perlu." Tolak Yasna.
"Apa perlu aku ganti in?" Tanya Daffa.
"Gak perlu!" Tolak Yasna berbalik setelah menyambar pakaian yang diberikan pemuda tadi dan berjalan menuju kamar yang diantarkan Daffa tadi.
"Jangan lupa mandi." Teriak Daffa saat gadis itu sudah mulai memegang gagang pintu.
Gadis itu memalingkan wajahnya ke arah Daffa tanpa ekspresi sedikit pun. Ia berjalan masuk kemudian menutup pintu kamar itu.
"Badan ku tidak begitu lengket tapi badan ku kenapa bau asem banget." Batin Yasna sambil membau ketiaknya.
"Ini juga baju memang mau dipakai sekaligus, berikan satu saja cukup sebenarnya." Lanjutnya.
Seluruh pakaian yang diberikan pada gadis itu diletakkan di atas tempat tidur. Yasna mulai menyiapkan air untuk mandi.
__ADS_1
Pintu kamar mandi sudah ditutup rapat akan tetapi gadis itu lupa untuk menguncinya. Dia mulai melepaskan pakaian yang dikenakan satu persatu hingga tanpa selembar kain.
Air hangat sudah disiapkannya sendiri agar kehangatan air itu sesuai dengan kulit miliknya. Gadis itu mulai berendam dalam air hangat tersebut dengan matanya yang terpejam.
Kenyamanan terasa di seluruh tubuhnya hingga Yasna tertidur. Merasa lelah dengan segala kejadian dan aktivitas hari ini hingga kejadian ini terjadi.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Suara pintu kamar diketuk berulang kali tetapi manusia yang ada di dalamnya tidak menyahut ataupun membukakan pintu. Daffa menunggu seorang gadis membukakan pintu untuknya.
Pemuda itu hanya mondar mandir sangat lama di luar kamar hingga ia memutuskan untuk masuk sendiri. Daffa tahu malam kondisi di sini sangat dingin, ia membawakan sesuatu yang bisa menghangatkan gadis itu.
Daffa lupa tidak memberikan barang itu bersamaan dengan pakaian yang tadi diberikan. Dia teringat ketika melihat salah satu asisten rumah tangganya mengenakan barang tersebut di badannya.
"Kemana itu cewek tak terlihat batang hidungnya." Lirihnya.
"Baju semuanya masih lengkap di sini." Lanjutnya.
Pemuda itu mendekati kamar mandi menempelkan daun telinga miliknya pada pintu. Telinganya tidak dapat menangkap suara apapun yang ada di dalam kamar mandi.
Pemuda itu merasa sangat khawatir walaupun mereka baru kenal dan baru bertemu dua kali tetapi sebagai seorang laki-laki ia merasa harus bertanggung jawab. Daffa akhirnya membuka pintu kamar mandi dengan sangat mudah.
"Aman." Kata Daffa.
"Apanya yang aman?" Tanya seorang gadis yang sekarang berada di balik layar.
"Aku sekarang tidak aman!" Katanya Yasna.
"Kenapa? Apa ada penyusup?" Tanya Daffa bertubi-tubi.
"Ada, bahkan aku bisa melihat malingnya." Kata Yasna menggelengkan kepala perlahan karena jengkel.
__ADS_1
Melihat seorang gadis yang sedang berendam di dalam kamar mandi Daffa sadar sekarang yang dikatakan gadis ini. Dia pun segera keluar dari kamar mandi tersebut dan menutup pintunya rapat.