
Garda memang sedikit banyak sudah tahu pokok permasalahan yang dihadapi sang kakak. Menurutnya memang sudah tidak ada alasan buat sang kakak untuk menolak permintaan kedua orang tua mereka.
Kakak perempuan mereka sama saja didesak untuk segera menikah. Beruntung sang kakak menikah atas dasar rasa cinta.
Axel seorang laki-laki yang akan memikul tanggung jawab besar terhadap keluarganya. Hal ini juga berkaitan dengan status dalam keluarga yang tidak mudah sebagai seorang anak laki-laki tertua.
Kedua orang tuanya menginginkan Axel untuk menempuh pendidikan lanjutannya di luar negeri. Pendidikan diluar negerinya itu sebenarnya bukan atas biaya kedua orang tuanya melainkan beasiswa prestasi yang didapatnya.
Berbagai macam alasan pemuda itu menolak untuk pergi. Dia tidak akan bisa bertahan disana jika tidak bersama dengan kedua adiknya.
Ketiganya dalam setiap langkah akan saling menguatkan. Rasa bimbang untuk jauh dari kedua saudaranya begitu terasa.
Axel juga sadar dengan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Dia datang ke villa bersama adiknya juga ingin meminta sebuah pertimbangan.
"Aku merasa kalau salah satu diantara kalian ini ada udang di balik kue deh?" Tanya Daffa setelah menjadi tersangka dia juga ingin menjadi hakim.
"Kamu pikir apa?" Tanya Axel.
"Aku tak bisa berpikir saat ini." Kata Daffa.
"Tidak ada yang harus disembunyikan lagi Kak. Jika ingin meminta sebuah pertimbangan." Kata Garda menepuk punggung Sang kakak untuk menguatkannya dalam bercerita.
"Diantara kita tak diceritakan pun saudara yang lain sudah tahu." Kata Daffa tanpa adanya respon dari kakaknya Axel.
"Nah, itu tahu." Kata Axel.
"Menurut elu?" Lanjut Axel.
"Turutin aja apa kemauan mereka." Nasehat Daffa.
"Maksutnya kamu ngusir aku nih. Biar kamu bebas kencan sama cewek." Kata Axel.
"E...... Gimana ya?" Canda Daffa.
"Iya kali." Lanjutnya.
"Diem aja sih Da? Tanya Axel pada Adiknya Garda bersamaan dengan lemparan bantal yang ada di sofa.
"Kalau aku diem berarti akunya juga sependapat dengan Daffa." Jawab Garda sambil memungut bantal yang dilempar sang kakak.
"Kalau kakak kangen dengan ku seorang pemuda yang paling tampan sejagat raya nanti bisa VC." Jawab Daffa kepedean.
__ADS_1
"PD amat lu." Kata Axel.
"Kalau gak PD mana bisa aku seperti sekarang." Kata Daffa sombong.
Apa yang dikatakan adiknya semuanya benar. Rasa percaya diri yang adik memang sangat tinggi.
Daffa selalu mengambil keputusan terlebih dahulu daripada selalu memiliki ketakutan terhadap kegagalan. Semua keputusan yang adiknya buat itu juga dengan pemikiran yang cukup matang.
"Aku tidak akan kemanapun." Kata Axel tegas.
"Ayolah Kak, jangan seperti anak-anak selalu bersembunyi saat berbuat salah." Kata Garda mengucapkan nasehat itu.
"Bersembunyi diketiak adik-adiknya." Lanjut Daffa.
"Ogah bau." Kata Axel dengan sebuah penolakan.
"Aku yakin apa yang menjadi keputusan kakak adalah yang terbaik." Kata Daffa memberikan motivasi pada sang Kakak.
"Aku juga akan selalu mendukung mu." Lanjut Garda.
Axel termenung sejenak memikirkan sebuah tanggung jawab besar pada Kakak perempuannya dan juga kedua adiknya itu. Tanggung jawab itu hadir dengan sendirinya walaupun dia sendiri belum tahu hubungan antara ketiganya yang bukan saudara kandung.
Pemuda sedingin kutub di antartika ini tidak dapat memutuskan hal itu dalam segera. Dia juga tidak tahu kakaknya Tari yang sudah berumah tangga dan memiliki seorang anak itu akan mendukungnya atau tidak.
Ketiga pemuda itu justru berbeda bukannya berada dalam rumah mereka justru malah pergi meninggalkan villa. Mereka menuju lapangan yang ada di dekat taman.
Seorang pemuda sudah menyipitkan mata di lapangan itu melihat kedatangan ketiga bersaudara itu datang bersama-sama. Bram baru tahu kalau Axel dan Garda juga datang.
"Sejak kapan kalian berdua dateng?" Tanya Bram setelah ketiganya tos.
"Kemarin lusa." Jawab Garda ringan.
"Gimana mau bermain sekarang? " Tanya Axel pada pada semua temannya yang sudah hadir di sana.
"Boleh juga." Kata salah satu teman bermain lainnya."
"Sudah lama juga kamu berdua gak main sama kita-kita, kita mau lihat juga kemampuan mu semakin bertambah atau malah sebaliknya?" Tanya Bram dengan meletakkan sikunya dipundak Axel.
"Lihat saja nanti." Kata Axel dan menarik sudut bibirnya.
"Baiklah kita mulai sekarang." Kata salah satu teman Bram yang meremehkan Axel dan Garda yang jarang sekali bermain bersama mereka saat datang ke Villa.
__ADS_1
Permainan dimulai dengan membagi kedua tim kesebelasan. Lawan musuh juga sudah mentargetkan kedua bersaudara itu.
"Bakalan kalah tu mereka yang menjadi lawan Kak Axel." Kata Garda lirih yang saat itu hanya Daffa yang mendengarnya.
"Ya, karena mereka akan kalah dengan permainan cantik kak Axel." Lanjut Daffa.
"Melampiaskan ganjalan dihati." Kata Kedua adik Axel bersamaan dengan lirih.
"Aku sebaiknya cari cewek aja deh ya?" Kata Daffa yang tahu akan menjadi incaran bagi kedua kelompok.
"Aku hari ini memang bener-bener gak bisa main. Hari ini aku bisanya main di tempat tidur." Lanjutnya.
Mendengar ucapan temannya itu semua mata tertuju pada Daffa. Mereka sedikit tidak percaya dengan apa yang diucapkannya itu.
Kemungkinan karena dia berasal dari sebuah kota besar hal itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Mereka yang ada di sana adalah remaja yang beranjak dewasa jadi mereka menyalahartikan ucapan Daffa
Semua mata tajam yang tertuju padanya dengan tidak percaya mengatakan hal itu di depan umum. Daffa membalas dengan tatapan mata tajam dari mereka semua.
Semua jadi mengerti dengan apa yang baru saja Daffa katakan setelah mereka melihat lingkar hitam di sekitar matanya. Semua akhirnya bubar tanpa ada kata yang terucap lagi.
"Makanya pikiran kalian itu perlu dibersihkan pakai deterjen biar gak piktor terus." Kata Daffa setelah berjalan menjauh dari lapangan menuju salah satu pohon yang sangat rindang dan kata-kata itu terdengar dengan jelas oleh semua rekannya.
Di sebuah pohon yang sangat rindang dia duduk di tanah dengan menyandarkan punggungnya di pohon tersebut. Angin yang sangat sepoi-sepoi membuatnya sangat mengantuk.
Seorang gadis muda sempat terlihat sangat jelas di matanya. Mirip sekali dengan seorang wanita yang beberapa kali ditemuinya.
"Mirip sekali dan hampir tidak bisa dibedakan, usia yang berbeda tapi wajah mereka tidak menunjukkan sebuah perbedaan." Batin Daffa sebelum dia terlelap dalam mimpinya.
Kedua saudaranya sedang berjuang di medan lapangan tetapi adik bungsu itu sekarang malah terlelap dalam keindahan dunia mimpinya. Daffa yakin kedua kakaknya akan memenangkan pertandingan itu, jika tidak dia juga tidak akan tidur senyenyak itu.
✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌
Pis
Authornya minta maaf sering kali tidak bisa Up date dikarenakan sesuatu hal yang tidak bisa dihindarkan.
Up date kali ini semoga bisa menjadi teman untuk reader untuk menunggu berbuka puasa.
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa bagi yang menjalankannya. 🙏🙏🙏
Dukung terus Novel Saya di NovelToon dan ManggaToon.
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, vote, kritik yang disertai saran ya.
🙏