Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Gadis Buronan Menjadi Tawanan


__ADS_3

Beberapa penjahat yang mengejar Bella dan kedua adiknya itu sudah tentu mereka mengenali mobil yang ditumpangi mereka bertiga. Axel dengan menarik kuat tangan gadis itu memaksanya untuk naik motor yang ditumpanginya tadi.


"Terimakasih sobat." Kata Kak Axel sebelum menarik gasnya.


"Baik, sama-sama." Balas Daffa.


"Jangan sia-siakan malam mu, malam ini." Kata Daffa sambil berteriak sebab Sang Kakak sudah menjalankan mesinnya.


"Jangan biarkan kami mati kelaparan di sini." Teriak Garda sebelum Sang Kakak pergi jauh.


"Tidak kita menyia-nyiakan makanan enak di rumah." Keluh Daffa saat perutnya sudah mulai memberontak.


Axel membawa seorang gadis dengan motor milik Daffa dengan kecepatan yang relatif cepat menuju perkotaan. Apartemen miliknya adalah sasaran bersembunyi yang aman pikirnya.


Motor itu sampai di sebuah apartemen yang megah dan mewah tanpa seorang manusia satupun. (Berarti penghuninya makhluk halus ya). Garasi mobil yang sangat luas tetapi hanya ada satu buah mobil dan satu buah motor.


Apartemen itu memang belum pernah ada yang datang dan tinggal di sana, termasuk mantan pacar Sang Empunya sendiri. Kali ini Axel membawa seorang gadis ke apartemen miliknya. (Mau diapakan itu gadis sedangkan Pemuda itu baru saja kecewa dengan pacarnya).


Pemuda itu menarik kasar tangan Bella menuju sebuah ruangan yang terbuka dan tertutup secara otomatis. Gadis itu merasa kesakitan pada pergelangan tangannya.


Mau berteriak pun gadis itu merasa percuma lebih baik disimpan tenaganya untuk hal lain (Hal apakah itu?). Bella mencoba melepaskan cengkraman tangan pemuda itu tetapi percuma saja, dia kalah tenaga.


Bella ditarik menuju sebuah kamar yang begitu luas. Dia dihempaskan pada sebuah tempat tidur yang begitu luas.


Tap Tap Tap


Pemuda itu mendekat dengan perlahan dimana gadis itu jatuh akibat dihempaskan. Bella berjalan semakin mundur hingga terpojok dan tidak bisa bergerak lagi.


Deg deg deg


Deg deg deg


Deg deg deg

__ADS_1


Suara degub jantung gadis itu sangat dan sangat terdengar dan terasa oleh seorang pemuda. Hal itu justru memancing Axel untuk semakin menggoda gadis itu.


Oh tidak, Axel yang selama ini bersikap dingin tiba-tiba ingin menggoda gadis yang ada dihadapannya saat ini. Dihimpitnya gadis itu hingga tidak ada jarak diantara mereka.


Pemuda itu tidak bisa berpikir jernih sekarang, apalagi mengingat pesan dari Sang Adik. Axel laki-laki dewasa mana mungkin juga tidak terpengaruh dengan kata-kata Sang Adik setelah dia dikhianati seorang gadis.


Axel mulai melihat bibir merah alami seperti buah ceri. Ingin rasanya dia menggigit buah itu.


"Bodoh!” Kata Axel merutuki dirinya sendiri saat bibir itu akan menyentuh buah ceri.


Pemuda itu langsung membalikkan badan menghempaskan badannya sendiri di atas sofa. Dia teringat dengan kakak perempuannya saat akan menggigit buah ceri itu.


Kedua wanita dalam hidup yang dia sayangi dan dia hargai melebihi nyawanya sendiri. Pemuda itu tahu betapa beratnya kedua wanita itu membimbing mereka dan mengajarkan segala sesuatunya pada ketiga anak laki-laki yang ada di kediaman utama.


"Kamu jangan pernah berpikir bisa keluar dari sini selama kamu tidak menceritakan siapa dirimu sebenarnya hingga kamu menjadi buronon para penjahat itu." Jelas Pemuda itu dengan nada sedikit keras untuk menggertak Bella serta menutupi kebodohan yang dia lakukan baru saja.


"Dari mana kamu tahu ada yang akan membunuh ku?" Tanya Bella penasaran dengan nada yang bergetar karena masih merasa takut.


"Kamu tidak ada hak bertanya di sini!" Kata Axel ketus.


"Di sini cuma ada kita berdua, aku dan kamu." Tambahnya lagi.


Badan gadis itu menjadi lemah tak berdaya. Tubuhnya merosot ke lantai saat Axel pergi dari ruangan itu. Gadis itu hanya terlihat kuat tetapi hati dan jiwanya rapuh yang tidak berbeda dengan dublikatnya Yasna.


Axel menuju ruang kendali tempat itu. Tempat dimana penuh dengan kamera pengawas dan alat canggih lainnya.


Pemuda itu sedang menatap seorang gadis yang sekarang sedang meratapi dirinya seperti seorang tahanan. Matanya itu tidak bisa membohonginya.


Pemuda itu terus saja fokus menatap layar yang ada di depannya. Hatinya jelas tidak merasa kasihan tetapi timbul sebuah perasaan lain.


Gadis tawanan itu sudah merasa benar-benar putus asa. Dia tahu tidak akan bisa lari dari tempatnya sekarang tetapi jika dia berhasil kabur pun akan jadi sasaran pembunuhan.


Bella tidak tahu siapa yang akan membunuhnya. Dia selama ini merasa tidak mempunyai musuh.

__ADS_1


"Mau minta penjelasan apa?" Tanyanya lirih.


"Penjelasan seperti apa?" Lanjutnya.


"Siapa musuh ku pun aku tidak tahu apalagi mereka." Lanjutnya lagi.


Semua kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut seorang gadis yang menjadi tawanan. Axel mendengar dengan jelas semua perkataan itu melalui spiker monitor yang ada didepannya.


"Sepertinya apa yang dikatakan gadis itu semuanya benar." Kata Axel dengan sebuah senyuman.


"Gadis itu tidak tahu siapa yang mengincarnya." Lanjutnya.


"Latar belakang gadis itu sepertinya tidak sesederhana itu." Lanjutnya lagi.


Pemuda itu melihat raut wajah Bella yang masih putih pasi seperti salju. Dia masih ketakutan setelah kejadian itu.


Axel kembali ke ruangan gadis itu dengan raut wajah yang tidak segarang tadi. Bella hanya menundukkan kepala ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Pemuda itu walaupun masih terasa takut.


Pemuda itu sebenarnya merasa kasihan pada Bella tetapi apa boleh buat sekarang ini nyawanya sedang dalam bahaya. Apartemen ini juga yang hanya bisa menjamin keselamatannya.


Berbagai macam minuman dengan berbagai macam merk dari kelas bawah sampai atas sudah tersedia di ruangan yang cukup luas. Minuman itu ada yang biasa saja dan ada juga yang diletakkan di dalam lemari pendingin.


Minuman keras Axel tidak memilikinya sama sekali. Dia tidak menyimpan karena memang tidak mengkonsumsinya.


Orang tua mereka pun tidak pernah meminum minuman seperti itu. Mereka memberikan contoh pada semua anak dengan perbuatan bukan hanya dengan nasehat saja.


"Jika haus minuman ada disana!" Kata Axel menunjuk tempat minuman yang ada di ruangan itu dengan dingin.


"Jika lapar buah dan cemilan bisa kamu sendiri." Lanjutnyanya.


Pemuda itu membalikkan badan berjalan menuju sebuah pintu. Bella yang tadinya menunduk kepalanya dengan tiba-tiba menengadah melihat kepergiannya itu.


Pikiran dan hati gadis itu saat ini terasa kosong hingga tidak bisa berpikir jernih. Axel setelah keluar dari ruang tawanan gadis itu segera menuju garasi mengambil salah satu mobil yang ada di sana.

__ADS_1


Memakai motor Sang Adik tidak lagi dilakukannya. Para preman jalanan itu pasti akan mengenalinya jika dia memakainya lagi.


__ADS_2