
Daffa menggenggam erat tangan seorang gadis yang sekarang hatinya merasa sangat perih. Gadis itu menatap setiap gerak dan perkataan pemuda yang mengganggap tangannya.
"Ya Allah, kuatkan hamba mu ini." Kata Hafsa dalam hati melantunkan permohonannya pada Sang Pencipta.
Hafsa pada akhirnya ditarik oleh seorang pemuda yang sejak tadi menggenggam tangannya dengan erat. Mereka berdua meninggalkan Bram yang masih dalam emosi tinggi.
Keduanya menuju garasi mengambil motor milik Daffa. Mereka jalan-jalan untuk menyegarkan pikiran mereka setelah beberapa hari mengalami kejadian yang tidak mereka harapkan.
Seluruh penghuni villa yang bekerja di sana menatap kedua pasangan baru ini dengan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Pemuda itu terlihat sangat serius dengan hubungan dengan gadis ini.
"Cepat naik." Pinta Daffa yang sudah berada di atas motor kesayangannya itu.
"Aku..." Kata Hafsa terputus yang sebenarnya ingin menolak.
"Mau aku naikkan?" Tanya Daffa dengan senyumnya yang menggoda.
"Aku tahu apa yang ada dipikirannya." Lanjutnya.
"Aku dalam hati mu adalah laki-laki brengsek yang suka mempermainkan wanita bukan?" Tanya Daffa lagi yang sebenarnya tidak membutuhkan sebuah jawaban dari gadis di sampingnya itu.
Hafsa menunduk ketika mendengar perkataan pemuda itu baru saja. Helm yang ada ditangan pemuda itu diraihnya dengan segera.
Mbreeeem
Mbreeeem
Mbreeeem
Suara kendaraan bermotor itu segera dinyalakan. Kendaraan bermotor itu mulai dijalankan dengan kecepatan sedang karena mereka berada di sebuah jalan pedesaan.
Hafsa hanya memegang pinggang pemuda yang ada di depannya. Daffa mendadak menginjak rem kendaraannya hingga posisi duduk gadis itu melorot hingga maju menempel pada punggung pemuda itu.
Motor itu berhenti mendadak di pinggir jalan yang tidak begitu ramai. Di raihnya kedua pergelangan tangan gadis itu dengan kedua tangannya hingga dia memeluk pinggangnya.
"Pegangan yang erat, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu sebelum janur kuning melengkung." Kata Daffa dengan dingin.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya Hafsa penasaran.
__ADS_1
"Mudah bagi ku untuk mengetahui semua itu." Jawab Daffa.
"Sombong." Kata Hafsa lirih yang masih bisa didengar oleh orang yang sedang dipeluknya sekarang.
"Kalau begitu ini sangat tidak pantas." Kata Hafsa berusaha melepaskan kedua pergelangan tangannya yang masih dipegang oleh Pemuda yang ada didepannya.
"Aku justru merasa ini sangat pantas." Kata Daffa.
Daffa melajukan kembali motornya dengan kecepatan yang sama. Pemuda itu menghentikan motornya di sebuah puncak tebing curam dengan pemandangan yang sangat menakjubkan.
Hafsa mulai turun dari atas motor itu dan melepaskan helm yang dikenakannya. Pikirannya sekarang semakin kacau antara pilihan hatinya sekarang yang dia sendiri tidak berani mengakuinya dengan pilihan orang tuanya.
"Dari mana dia tahu tempat seindah ini bahkan lebih indah dari tempat mana pun yang pernah aku kunjungi." Kata Hafsa dalam hati setelah berjalan di tepi tebing.
"Dia pemuda yang menarik." Lanjutnya.
Click
Motor itu mesinnya dimatikan setelah pemiliknya melihat gadis yang bersamanya menghentikan langkahnya di pinggir sebuah tebing. Daffa turun menyusulnya seketika itu juga.
"Aku memilih tempat ini untuk memberitahukan bahwa kamu tidak kalah cantik dengan pemandangan yang ada di depan sana." Kata Daffa berusaha mengungkapkan perasaannya itu.
"Apa maksut mu?" Tanya Gadis itu dengan menatap tajam pemuda yang ada di sampingnya yang sedang menatap jauh ke depan.
"Kita berdua sama-sama sudah dewasa jadi tidak perlu aku jelaskan lagi kamu tahu maksut ku." Kata Daffa dingan yang masih saja tidak mengalihkan pandangannya.
"Berapa banyak gadis yang kau..." Kata Hafsa terputus karena ada serangan mendadak yang membungkam mulutnya.
Garda dengan sigap meraih pinggang gadis hingga keduanya tak berjarak. Matanya melihat bibir yang berwarna merah semerah buah ceri.
Daffa mulai mendekatkan bibirnya ingin rasanya melahap habis milik gadis yang ada dalam pelukannya itu. Entah dorongan dari mana dia berani melakukan itu saat ini.
Hafsa mulai terlena saat pinggangnya dipeluk erat oleh pemuda itu. Hatinya menolak tetapi tubuhnya berkata lain.
Keduanya kini menikmati ******* demi *******. Angin begitu kencang yang sedang bertiup menambah sensasi kegiatan itu.
"Maaf." Kata Daffa setelah sadar dengan semua yang dilakukannya itu.
__ADS_1
Plak
Sebuah tamparan yang begitu keras mendarat dipipi seorang pemuda tampan. Dia meraba pipinya yang merah dan sedikit bengkak.
"Berapa banyak gadis yang kau perlakukan seperti itu?" Tanya Hafsa dengan intonasi tinggi karena marah hingga tanpa sadar butir bening mengalir begitu saja tanpa dia menyadarinya.
"Hanya satu." Jawab Daffa jujur yang diikuti dengan tangan kanan miliknya menghapus air mata gadis itu setelah membelai pipinya sendiri.
"Benar hanya satu di sini tapi di tempat lain banyak gadis yang perlakukan seperti itu." Kata Hafsa dengan tatapan tajam setelah menghempaskan tangan yang telah menghapus air matanya.
"Tempat ini menjadi saksi semua perkataan ku benar, satu-satunya gadis yang pernah ke sini cuma kamu." Kata Daffa setelah menghadapkan badannya pada bentangan alam yang ada di atas bukit itu.
"Aku tidak pernah menjanjikan sesuatu pada seorang gadis dengan sebuah perbuatan. Semua gadis hanya suka dengan sebuah rayuan semata dan barang-barang mewah." Cerocosnya lagi yang sangat panjang (kurang lebarnya).
"Gadis-gadis itu aku hanya menggombali mereka, menyentuh mereka saja aku tidak pernah. Lanjutnya lagi (ini lebarnya ya).
Hafsa sudah berjalan lumayan jauh saat pemuda itu memberikan penjelasan yang sebenarnya. Gadis itu masih bisa mendengar semua semua perkataannya walaupun jarak mereka sudah lumayan jauh.
Daffa tidak tahu kalau gadis itu sudah pergi dari sana. Tebing ini hanya dia yang tahu akan rute jalannya.
Banyak semak belukar yang tumbuh sangat rindang karena tidak ada orang yang pernah datang ke tempat ini. Jalan setapak juga tidak ada hingga bisa membuat orang yang baru pertama kali datang bisa tersesat.
Daffa membalikkan badannya karena tidak ada suara apapun dibelakangnya. Dia terkejut saat tidak ada orang di dekatnya saat ini.
"Apa aku tadi mengajak kuntilanak yang berubah wujud menjadi wanita cantik dan sekarang menghilang begitu saja." Kata Daffa lirih untuk menenangkan hatinya merasa sangat khawatir pada gadis yang pergi begitu saja.
"Semoga saja tidak terjadi apapun padanya." Lanjutnya lagi.
Daffa mulai merasa tidak tenang saat ini. Ada rasa bersalah dalam hatinya.
Ciuman pertamanya itu membuat seorang gadis yang menerima perlakuan itu pergi begitu saja tanpa pamit. Daffa segera beranjak dari tempatnya berdiri sekarang menuju motornya.
"Apa dia akan kembali ke sini?" Tanya Daffa dalam hati.
"Aku tunggu sebentar lagi saja siapa tahu dia cuma buang air kecil." Lanjutnya dengan tertawa kecil untuk menghibur dirinya sendiri.
Daffa menunggunya di atas motornya dengan membayangkan wajah gadis itu. Dia masih berharap gadis itu kembali padanya sama seperti saat datang ke tebing itu tanpa kurang apapun di badannya.
__ADS_1