Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Kembali Ke Kota Menyusul Kedua Saudara Kembar


__ADS_3

Garda turun dari motor menatap tajam pada Sang Kakak. Axel tertawa lepas melihat wajah marah Sang Adik.


Garda berjalan begitu cepat menuju tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam karakter orang. Sang Kakak kesulitan mengejar Garda yang sudah sampai di bawah sebuah pohon yang lumayan banyak ranting dan dahan.


Sebuah mobil baru saja melintas di area taman tengah kota. Pengemudi mobil itu sempat melihat seorang pemuda yang baru saja ditemuinya tadi di sebuah hotel.


"Sampah tetap saja sampah." Kata kekasih Mai yang baru saja menghentikan mobilnya di tepi jalan.


"Sudah, mulai hari ini aku kan sudah resmi seutuhnya jadi pacar mu." Kata Mai.


"Jangan merusak mood kita, hanya gara-gara Axel sayang." Lanjutnya saat menyandarkan kepalanya pada pundak kekasih barunya.


"Benar kata mu sayang." Kata pemuda yang ada di dalam mobil itu.


"Jangan membicarakan laki-laki lain jika kita sedang berdua." Lanjutnya.


Mei merasa hatinya sangat bahagia karena tidak lagi harus menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi dengan pacarnya. Kini mereka yang berada dalam mobil itu melanjutkan perjalanan mereka entah kemana.


Axel sendiri yang merasa ada yang mengawasinya dari mobil tidak perduli. Dia sudah tahu yang berada dalam mobil itu.


Pemuda itu hanya tersenyum getir saat menghampiri saudaranya yang sekarang senasib dengannya. Keduanya menikmati dinginnya malam seperti dinginnya hati mereka saat ini.


Di Dalam Sebuah Villa Keluarga Tuan Richat


Daffa saat ini berbeda dengan kedua kakaknya yang patah hati. Dia terlihat sangat biasa seperti kesehariannya tetapi hatinya sekarang ini sedang berbunga-bunga.


Daffa sekarang ini malah lebih semangat mengerjakan pekerjaannya. Dia juga ingin segera menyelesaikan kuliahnya sekarang.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu sebuah kamar terdengar begitu indah bagaikan alunan sebuah musik. Pemilik kamar itu mendongokkan kepala memandang pada arah datangnya suara.


Daffa melompat dari tempat tidur secara reflek. Turun dari tempat itu dia berusaha mengatur emosinya yang berlebih saat itu.

__ADS_1


Pemuda itu menarik napas dalam-dalam untuk memperoleh kepercayaan dirinya sebelum membuka pintu. Merasa sudah yakin Daffa membuka pintu perlahan tapi hanya sebatas di buka tanpa mempersilahkan gadis itu masuk.


"Ada apa?" Tanya Daffa berusaha menampilkan wajah dinginnya seperti kedua kakaknya.


"Mak...." Kata seorang gadis terputus dengan perkataan Daffa.


"Baik aku akan segera turun." Kata Daffa yang memotong perkataan gadis itu.


Daffa segera menutup pintu kamar setelah mematikan leptop yang ada di atas tempat tidurnya yang sejak tadi masih menyala. Dia segera turun setapak demi setapak dengan pikiran yang tidak bisa fokus saat ini.


"Apa dia itu punya indra ke tujuh?" Kata Hafsa dalam hati merasa aneh dengan pemuda yang baru saja ditemuinya.


Gadis itu merasa banyak perubahan sikap yang terjadi pada pemuda itu secara mendadak. Hafsa sejak awal tidak ingin memberikan harapan pada pemuda itu karena sesuatu hal tetapi sekarang ini dia sendiri tidak berdaya.


Kedua saudaranya justru malah mendukung Sang Adik. Hal itu membuat Daffa semakin merasa memiliki rasa percaya diri yang semakin tinggi untuk mendekatinya.


Daffa melangkahkan kaki lebar agar segera sampai. Saat menuruni anak tangga dengan mata yang yang masih menatap pada seorang gadis yang berada di ruang makan sedang menantinya terdengar sesuatu yang sangat nyaring berasal dari saku celananya.


Daffa mematikan panggilan itu dan segera mengambil posisi duduknya. Mata bulat miliknya melihat setiap menu yang tersaji di meja makan.


"Masih ada yang anda butuhkan Tuan?" Tanya seorang gadis yang masih berdiri ditempat yang sama setelah memanggil Daffa untuk memberitahukan kalau makan malam sudah siap.


"Tidak." Jawab Daffa singkat tanpa ekspresi sebab merasa risi dengan panggilan yang baru saja diberikan untuknya.


Gadis itu kembali ke kamar barunya setelah berpamitan. Dia tidak ingin berlama-lama bersama pemuda itu yang bisa mengakibatkan perasaannya yang semakin dalam walaupun secara tidak sadar hal itu sudah terjadi.


Daffa hanya melihat kepergian gadis yang sudah berhasil mengambil hatinya. Perasaan itu disembunyikan dalam-dalam takut cintanya bertepuk sebelah tangan.


Hafsa yang sudah menghilang dari mata baru saja membuat pemuda itu semakin penasaran. Sikapnya yang biasa- biasa saja terhadapnya sangat berbeda dengan semua gadis yang selalu ingin mendekatinya.


Daffa tidak makan banyak malam ini hingga banyak makanan yang tersisa di atas meja makan. Hatinya tidak tenang malam ini salah satunya mengingat kedua kakaknya yang pergi dari villa kemarin.


Pemuda itu masih saja duduk di ruang makan dengan tatapan kosong. Dia hanya bisa berdoa untuk kedua kakaknya agar bisa menerima kenyataan.

__ADS_1


"Den." Panggil Sang Bibi perlahan sambil menundukkan kepala.


"Aden membutuhkan sesuatu?" Tanya Bibi ketika Daffa sudah menatapnya dengan tatapan yang teduh.


"Tidak Bi." Jawab Daffa dengan sopan.


"Bibi sebaiknya istirahat setelah membereskan semuanya." Lanjutnya.


Daffa memutuskan untuk kembali ke kamar dan melanjutkan pekerjaannya tadi yang dia tinggalkan. Benda pipih yang baru tadi diletakkan di atas nakas sudah berkali-kali berbunyi tetapi tidak dihiraukannya.


"Sebentar lagi liburan akan berakhir." Kata Daffa dalam hati.


"Aku harap aku masih bisa bertemu lagi dengannya." Lanjutnya.


Daffa terlarut dalam pikirannya sendiri hingga dia pun tertidur dengan pulas. Di kamar bawah seorang gadis masih terjaga memikirkan banyak hal tentang masa depannya yang tidak pernah ada pilihan lagi buatnya.


Seorang pemuda kini hendak bersiap kembali menuju kediaman utama yang ada di tengah ibu kota. Kediaman tempat ketiga saudara kembar itu dibesarkan bersama dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Bi tolong jaga Dia dengan baik." Kata seorang pemuda yang baru saja sampai di lantai bawah pada seorang ART yang sudah bekerja di villa itu berpuluh-puluh tahun.


"Jaga dia seperti Bibi menjaga kami dari dulu sampai sekarang." Lanjutnya.


"Baik Den." Kata Bibi merasa sedih merasa ditinggalkan kembali oleh ketiga anak-anaknya.


Bibi sudah menganggap ketiga pemuda itu sebagai putra kandungnya sejak mereka lahir. Dia sangat senang jika ketiga saudara kembar itu berkunjung ke villa.


Setiap kali liburan tiba seluruh keluarga datang ke villa tanpa terkecuali. Ketiga putranya itu ditinggal di villa jika kedua orang tuanya memang memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


Daffa tersenyum pada wanita yang usianya sudah hampir lanjut itu sebelum melangkahkan kaki. Pemuda itu sedikit berlari menuju bagasi untuk mengambil motor miliknya.


Bibi terlihat sangat kehilangan walaupun mereka akan kembali lagi. Wanita itu menatap punggung pemuda yang baru saja meninggalkan villa dengan tergesa-gesa itu.


Sebuah ruang kamar yang baru saja dihuni oleh seorang gadis masih saja tidak ada pergerakan sama sekali. Sang penghuni masih tertidur di bawah selimut dengan menutup seluruh tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2