
Axel terkejut dengan adiknya yang paling kecil marah besar seperti itu. Pasalnya selama ini dia paling sabar dalam menghadapi segala sesuatunya.
"Bik bawa kue itu serta surat nya kemari." Pinta Daffa dengan amarah yang sudah membuncah.
"Bukan itu maksud aku Daf." Kata Axel.
"Sudahlah baca dulu aja pesannya." Pinta Daffa yang masih geram.
Saat Axel dan Daffa membaca selembar surat itu secara khusuk, ternyata Garda sudah hampir menghabiskan kue itu sambil membaca tulisan yang begitu indah dilihat. Semakin jengkel Daffa melihat kelakuan Kakaknya Garda yang luar biasa kali ini.
Tidak biasanya kakaknya yang biasanya bijak tapi hari ini kelakuannya sungguh diluar dugaan. Mungkin karena sudah lumayan lama Sang Kakak tidak menikmati kue buatan sang Mama mereka.
Hati Axel sebenarnya tidak tega terhadap gadis itu. Setiap kali bertemu rasanya ia menginginkan gadis itu pergi secepatnya takut menjadi pelampiasan atas kekesalannya pada nasib.
Kakak dan adiknya itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Garda kali ini. Sungguh sangat luar biasa kali ini kelakuan seperti anak-anak.
"Pak Man." Panggil Garda spontan.
"Bilang sama security kalau gadis yang tadi malam jangan di ijinkan pergi dari sini!" Titahnya kemudian dengan mulut yang masih mengunyah kue itu.
"Memang ada apa Den?" Tanya Pak Man salah satu penjaga Villa dengan sedikit menundukkan badannya.
"Sudah Pak jangan banyak tanya nanti keburu pergi itu cewek." Kata Garda.
"Baik Den, segera laksanakan." Jawab Pak Man.
Gadis yang tadinya sudah berada di Pos Penjagaan saat mendengar teriakan salah seorang pemuda dari dalam Villa itu pun mulai panik. Apalagi saat salah satu penjaga Villa itu membisikkan sesuatu pada telinga petugas keamanan villa yang berjaga pada malam ini.
Apa yang dibisikkan oleh seorang pria paruh baya yang baru datang itu membuat gadis itu merasa sangat khawatir. Perasaannya mengatakan kalau ia tidak akan lolos malam ini.
"Maaf Neng, Bapak minta maaf sekali." Kata Sekuriti terjeda.
"Ada apa Pak?" Tanya gadis itu singkat.
"Neng di minta kembali ke dalam villa." Pinta security itu.
"Aduh Pak kalau saya kembali ke dalam yang pasti tidak akan selamat." Jelas gadis itu.
"Percaya Neng semua yang ada dipikiran Neng salah. Mereka semua baik-baik kok Neng." Kata Security itu lagi meminta agar gadis itu kembali masuk ke dalam villa menemui ke tiga pemuda yang ada di dalam.
__ADS_1
"Uhhh." Gadis itu membuang napasnya kasar. Ia mencoba memantapkan hatinya untuk kembali menemui ketiga pemuda itu.
Kaki itu mulai melangkah ke dalam villa tepatnya di ruang tengah. Pak Man berjalan dibelakang gadis itu seperti seorang pengawal seorang putri.
Mata seorang gadis menangkap ketiga pemuda dengan posisi yang berbeda. Mereka semua terlihat dingin dan tegas.
Hatinya mulai ketar ketir melihat wajah yang begitu dingin akan tetapi ia berusaha setenang mungkin. Anggap saja seperti drama korea yang sering ia lihat ditelevisi. (Kalau ini Authornya ngacau mohon dimaafin ya).
Hening
Hening
Hening
Suasana dalam ruangan itu terasa sangat sunyi. Wanita paruh baya yang menolong gadis ini tadi malam penasaran karena tidak terdengar apapun.
Tidak ada sebuah kata-kata, teriakan atau pun suara bentakan yang didengar Wanita ini. Akhirnya Ia memutuskan untuk menguping di balik dinding, hasilnya sama saja.
"Apa aku benar-benar sudah tuli." Batin Wanita Paruh Baya itu.
Bibi merasa kasihan pada gadis itu. Gadis itu bisa dilihat sangat baik perilakunya.
Terdengar suara meja dibentak dengan telapak tangan sangat keras. Itu sangat mengagetkan semua orang yang ada di ruangan itu.
Gebrakan pada meja tadi memecah keheningan dalam ruang itu. Bibi dan Pak Man juga ikut tercengang melihat adegan itu dari luar ruangan yang memang pintunya tidak ditutup.
"Siapa nama gadis itu Daf?" Tanya Axel pada adiknya.
"Mana gue tahu." Jawab Daffa santai menatap gadis itu merasa kasihan.
"Ia sudah tinggal disini semalam tapi kamu sama sekali tidak tahu namanya?" Tanya Axel dengan penuh penekanan.
"Aku tahu dia tinggal di sini baru juga tadi siang." Jawabnya santai.
"Kenapa tidak tanya langsung pada orangnya langsung?" Tanya Garda
"Baiklah sekarang siapa nama mu?" Tanya Axel dingin.
"Hafsa." Jawab gadis itu menegakkan kepalanya.
__ADS_1
"Bagus juga." Puji Axel.
"Kenapa kamu ingin pergi dari sini tanpa berpamitan langsung?" Tanya Axel.
"Kenapa Memangnya?" Tanya balik Hafsa tanpa menjawab pertanyaan Axel.
"Gadis yang membosankan." Keluhnya.
"Harusnya kamu itu jadi anak yang patuh. Aku tanya kamu jawab bukannya malah bertanya balik." Jelas Axel yang sejak awal sedikit sensi dengan Hafsa.
"Oh. kalau gitu aku minta maaf deh." Kata Hafsa ringan.
"Kami memaafkan mu tapi ada syaratnya?" Kata Garda.
"Malam ini kamu harus tinggal di sini, jika sampai kamu pergi tanpa ijin dari Bibi atau kami bertiga yang ada di sini kamu tanggung sendiri akibatnya." Ancam Axel.
"Untuk syaratnya akan menyusul." Lanjutnya.
"Kenapa tidak katakan sekarang saja?" Tanya Hafsa yang tidak mau dirugikan atau dipermainkan.
"Kamu sangat cerdas juga." Puji Garda.
"Tenang saja yang jelas tidak akan merugikan mu?" Kata Daffa.
Axel biarpun merasa jengkel dengan gadis yang bernama Hafsa tetaplah ia seorang gadis. Ia tidak akan membiarkan gadis itu keluar sendirian pada malam yang sudah sangat larut.
Berbahaya sekali jika seorang gadis keluar sendirian karena daerah itu lumayan sepi. Warga pun sudah terlelap dalam mimpi biarpun ada ronda keliling.
Gadis itu merasa akan ada sesuatu yang tidak akan membuatnya nyaman. Ia gadis yang cerdas untuk membaca situasi.
Hafsa pun mengikuti wanita paruh baya yang baru kemarin malam dikenalnya. Ia minta maaf atas kelakuannya yang seperti anak kecil.
Mereka berdua berjalan melenggang menuju kamar para ART yang terletak di belakang villa. Jarak Villa dengan kamar ART lumayan jauh harus melewati taman dan juga kolam renang dan kolam ikan.
Ketiga pemuda yang tadinya memasang tampang sedingin es kini sudah mulai mencair. Mereka bertiga menatap punggung kedua wanita yang baru saja meninggalkan ruangan itu dengan menggelengkan kepala mereka.
Ketiga pemuda tampan itu sekarang sedang berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. Apa lagi rencana yang akan dilakukan untuk Hafsa seorang gadis yang akan bertahta di hati salah satu pemuda itu.
Axel membelalakkan mata saat melihat piring sudah hampir bersih tak bersisa. Sungguh tega kedua adiknya itu menghabiskan kue itu tanpa memikirkan nasibnya.
__ADS_1
Disaat sang kakak masih berkutat dalam pikirannya itu kedua adiknya sudah tersadar terlebih dahulu. Mereka sudah menghabiskan kue tersebut tanpa menyadarkan lamunan sang kakak.