
Gadis itu menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk kedua pemuda yang ada di ruang tamu setelah pemuda yang baru datang itu duduk. Keduanya memulai pembicaraan setelah Yasna menuju dapur.
"Bos benar ini kamu?" Tanya Sang Asisten tampan itu.
"Tidak biasanya anda selemah ini." Katanya dengan tersenyum renyah.
"Tutup mulut mu!" Kata Garda dengan intonasi rendah tapi cukup tegas membuat orang yang mendengarnya menciut nyalinya.
"Baik-baik, saya akan diam saja bahkan kalau diminta menginap disini juga tidak pernah menolak." Kata Pemuda itu.
"Pelankan juga suara mu, jika sedikit saja bocor rahasia kita kamu tahu sendiri akibatnya." Kata Garda mengancam asistennya itu.
"Oh, ya Mas ini ponsel anda yang lama dan ini yang baru." Kata Sang Asisten itu berpura-pura mengalihkan pembicaraannya ketika mendengar sebuah langkah kaki yang mendekat.
"Ini Mas minumannya." Kata Yasna sopan setelah meletakkan gelas yang ada di atas nampan.
"Terimakasih Nona." Kata Sang Asisten.
"Saya permisi dulu, mungkin ada hal penting yang akan kalian berdua bicarakan." Kata Yasna kemudian berbalik menuju kamar.
Chiiiiiit
Sebuah ban mobil bergesekan dengan tanah hingga menimbulkan suara yang nyaring ditelinga. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari dalam mobil itu dengan penampilan yang elegan.
Langkah gadis itu terhenti setelah mendengar sebuah mobil berhenti di depan rumah. Sesaat dia melihat jam yang tergantung di dinding yang ada di ruang tamu.
"Kalau saja tadi yang menghubunginya aku atau bunda pasti tidak selama ini." Katanya perlahan mengeluh sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Anggap saja kamu tidak pernah mendengarkan itu." Kata Garda mengancam asistennya itu.
Gadis itu tidak melanjutkan langkahnya menuju kamar tetapi menuju pintu utama. Dia seakan menyambut kedatangan pamannya itu.
"Sepertinya ada tamu?" Tanya Sang Paman ketika baru sampai di depan pintu.
"Benar tebakan mu Paman." Jawab gadis itu singkat.
"Tamu seperti apa yang berani datang ke tempat ini?" Tanya Sang Paman meremehkan karena tadi sudah melihat mobil yang terparkir di depan rumah.
Gadis itu bersama dengan laki-laki paruh baya itu masuk ke dalam rumah perlahan. Saat masuk Sang Paman tidak menganggap atau melihat kedua pemuda yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
"Bunda mu kemana?" Tanya Sang Paman lagi.
"Apa Bunda mu benar-benar tidak enak badan hingga menyuruh kakek tua itu menghubungi ku?" Tanya Sang Paman.
"Bunda baik-baik saja, dan ingat tolong hormati kakek ku!" Kata Yasna mengeraskan rahangnya karena tidak suka dengan kata-kata Pamannya itu.
Kedua orang itu menghentikan percakapannya setelah merasa atmosfer di ruang makan memanas akibat perkataan laki-laki paruh baya yang baru datang itu. Gadis itu tetap saja membuatkan segelas minuman walaupun tidak suka dengan perkataan Sang Paman.
Yasna membiarkan pamannya untuk istirahat sejenak sebelum memberitahu orang yang harus ditanganinya. Dia melihat Sang Paman terlihat mencari keberadaan seseorang.
Di Ruang Tamu
Kedua pemuda itu sedang menguping percakapan antara kedua orang yang dikatakan sebagai keluarga. Mereka dapat menangkap semua perkataan laki-laki paruh baya itu yang tidak suka dengan keberadaan mereka.
"Sepertinya kali ini Bos tidak salah pilih." Kata Sang Asisten.
"Apa Bos masih mengharapkan pacar Bos yang sekarang?" Tanya Sang Asisten.
"Lupakan dia, ini gadis lebih baik dari pada pacar mu Bos." Lanjutnya.
"Hukuman yang pantas untuk anak buah yang mengatur atasannya kamu sudah tahu?" Tanya Garda yang masih setia dengan pacarnya.
"Di pecat?" Tanya Sang Asisten tanpa menjawab pertanyaan Atasannya itu.
"Ampun deh Bos." Kata Asistennya yang sadar kalau Bosnya itu sedang cemburu.
Kedua pemuda itu mengakhiri perdebatannya menyusun sebuah kata. Apalagi dengan Mas Asisten yang harus selalu berhati-hati di tempat ini.
Tap Tap Tap
Terdengar langkah kaki seseorang yang datang dari ruang makan menuju ruang tamu. Seorang laki-laki paruh baya baru keluar dari ruang makan.
Laki-laki itu keluar dengan menggunakan jas kebanggaannya. Dia sepertinya ingin memperlihatkan sebuah perbedaan status mereka.
"Itu?" Tanya Dokter Hendra terputus dengan memicingkan mata seakan ingin mengingat sesuatu.
"Korban kecelakaan beberapa jam yang lalu." Jawab seorang gadis dengan intonasi rendah seakan berusaha menahan rasa kesal dalam hatinya.
"Tunggu apa cepat periksa." Perintah Yasna.
__ADS_1
"Takutnya semakin parah." Lanjutnya lagi.
Dokter Hendra masih berdiri mematung seakan masih memikirkan sesuatu. Dia terus berpikir seakan pernah bertemu di rumah sakit tempat dimana dia bekerja.
"Apa aku tidak salah lihat?" Tanya seorang gadis dalam hati.
"Ponsel yang dibelinya benar-benar ada dua buah." Lanjutnya.
"Keluaran terbaru dan edisi terbatas pula hingga harganya tidak dapat dibayangkan." Lanjutnya lagi.
"Sebenarnya siapa dia?" Lanjutnya lagi semakin membuatnya penasaran.
"Apa Paman tidak segera memeriksanya juga berpikiran sama." Lanjutnya hingga sangat panjang.
Gadis itu menatap kedua orang pemuda yang ada dihadapannya seakan mencari sebuah jawaban tentang identitas mereka. Yasna berpikir tidak mungkin jika dia membeli ponsel semahal itu sedangkan mobilnya saja mobil buntut alias keluaran lama.
Dokter Hendra mendekati pemuda yang sedang terluka itu perlahan-lahan untuk meyakinkan dirinya. Pemuda itu berpindah tempat ketika Sang Dokter mulai memeriksa lukanya.
"Jangan sampai salah diagnosa Dok, akibatnya bisa fatal." Kata Garda yang tahu pikiran Sang Dokter tertuju padanya.
"Hem, aku tahu." Kata Sang Dokter.
Dokter itu mulai memeriksa seluruh luka lecet yang ada di tubuh Garda. Sekilas dia melihat dua ponsel yang ada di atas meja seketika itu juga dia melihat ponsel yang ada di tangan Pemuda yang terluka itu.
"Ini resep yang harus di beli." Kata Dokter Hendra memberikan secarik kertas kepada Garda setelah menulis beberapa obat yang harus dibeli pada kertas itu.
"Tidak salah dengan resepnya bukan?" Tanya Garda yang tahu fungsi berbagai macam obat yang dituliskan oleh Dokter itu.
"Tolong belikan semua obat yang tertulis pada resep ini Bro." Pinta Garda pada asistennya itu.
"Ok. Bos." Kata asistennya itu dengan menepuk pundak Atasannya itu yang memang disengaja hingga pemuda yang terluka itu berpura-pura memekik kesakitan.
"Brengsek kamu, tahu aku sudah terluka seperti ini masih saja kamu pukul." Kata Garda dengan intonasi tinggi.
"Maaf-maaf khilaf sobat." Kata Sang Asisten tertawa renyah.
Sang Asisten bersiap berlari karena Bosnya sudah bersiap untuk melemparinya dengan barang yang ada didekatnya. Dia menuju keluar hendak menebus obat itu.
"Nona tolong jaga teman ku itu, aku permisi dulu mau menebus obat untuknya." Kata Sang Asisten berpamitan.
__ADS_1
Sang Asisten segera pergi setelah mendapat anggukan dari Yasna. Dia menuju mobil buntut sewaannya itu.
Pemuda itu segera menginjak pedal gas mobil buntut itu. Dia sengaja memperlambat kecepatan mobilnya agar Sang Bos bisa lebih lama di rumah gadis itu.