Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Paranormal Paling Tampan Yang Sangat Narsis


__ADS_3

Gadis itu semakin berpikiran jauh berusaha menelaah semua kata-kata Daffa yang tidak sesuai dengan perbuatan terhadapnya. Apakah dua gadis itu sangat cantik?


Pemuda yang sedang bersamanya kini sebenarnya seperti apa? Saat tadi Dia memuji keindahan tubuhnya saja terlihat dalam matanya yang tak ada niat buruk sama sekali berarti dia bisa menjaga hati kedua wanita itu.


Atau kedua wanita itu tidak tahu kalau sedang diduakan. Sekarang terpikir apakah nasib Sang Bunda dulu juga sama hingga dia sekarang hidup sendiri.


Click


Mereka berdua melihat acara yang televisi yang ada di ruang tamu. Mereka duduk bersebelahan tapi sedikit agak jauh terpisahkan oleh sebuah bantal.


Sembarang acara mereka lihat untuk mengurangi kebosanan. Tetapi tetap saja rasa itu muncul.


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Daffa yang sejak tadi menatap wajah gadis itu terlihat memikirkan sesuatu.


"Tidak?" Jawab gadis itu.


"Jangan bohong, aku bisa melihatnya." Kata Daffa.


"Ya aku tahu kamu seorang paranormal." Kata Yasna.


"Kalau tidak kenapa dalam hati mu ada dua orang wanita." Lanjutnya.


"Nah ketahuankan? Pasti kamu cemburu karena aku sudah memiliki dua orang wanita yang tercantik dalam hidup ku. Kamu maunya jadi wanita ku satu-satunya." Kata Daffa.


"Tenang saja aku masih punya lowongan untuk wanita ke tiga." Lanjutnya lagi dengan tertawa renyah.


"Ngaco. Emangnya aku wanita apa'an?" Tanya Yasna.


"Lha kok kamu malah tanya saya, kamu sendiri lah yang tahu." Kata Daffa dengan logat Jawa seperti paranormal.


"Katanya saya seorang paranormal yang ganteng alias paling tampan sejagat rayanya paranormal." Lanjutnya.


Gadis itu tertawa renyah mendengarkan cara bicara Daffa dengan logat jawa yang membuatnya semakin penasaran. Rasa nyaman saat bersama pemuda ini sekarang mulai muncul.


Gadis itu juga biarpun mulai merasa nyaman tetapi harus membatasi diri dan hatinya. Menjadi wanita ketiga buat laki-laki itu tak pernah dia harapkan.


Gadis itu mengharapkan untuk menjadi yang pertama dan yang terakhir buat seorang pria. Mereka berdua larut dalam gelak tawa yang renyah.


Gadis itu lebih banyak bertanya dari pada Daffa. Bisa dimaklumi kalau seorang wanita itu cenderung lebih cerewet.

__ADS_1


Buat Pemuda itu tidak masalah dengan berbagai macam pertanyaan yang diajukan untuknya. Asalkan saja tidak bersifat privasi baginya.


"Maaf ini aku tadi sebenarnya mikir bagaimana kamu bisa memiliki dua orang wanita sekaligus?" Tanya Yasna yang memang sejak tadi kepikiran.


"Bagaimana cara mu membagi waktu untuk kedua wanita itu?" Lanjutnya.


"Pemuda paling tampan jagat raya seperti aku ini gampang saja mendapatkan mereka." Jawab Daffa.


"Satu hal yang paling sulit dari mereka adalah......." Terputus sudah penjelasan Daffa yang membuat Gadis ini semakin penasaran.


"Minum dulu gih. Kering ntar mulut elu gara-gara ulah ku." Candanya.


"Udah. Sekarang jawab." Kata Yasna yang sudah meneguk minumannya hangat yang dibuatkan oleh pemuda yang sedang bercanda bersamanya saat ini.


"Memangnya aku tak bisa mendapatkan lebih dari dua apa orang aku tampan sekali seperti ini." Kata Daffa lagi memuji dirinya sendiri.


"Ini saja aku mau cari mangsa ke tiga." Lanjutnya.


"Huuuu." Kata Yasna dengan melempar bantal pada Pemuda yang narsis sejak tadi.


"Auuuu. Sakit tahu." Pekik Daffa dengan mengelus kepala yang terkena lemparan tadi sambil berpura-pura kesakitan.


"Biarin narsis. Memangnya aku kurang tampan hingga tidak ada wanita yang ke tiga?" Kata Pemuda itu.


"Baik-baik. Aku akan bicara." Kata Daffa saat Gadis itu akan melemparinya bantal kembali.


"Aku akui kalau aku itu tampan. Makanya aku dengan mudah menjadi buaya. Buaya yang suka caplok sana caplok sini." Lanjutnya.


"Memangnya wanita itu makanan main caplok?" Kata Yasna lirih tapi masih bisa didengar oleh orang yang ada didekatnya.


"Huus." Kata Pemuda itu meminta Yasna diam untuk mendengarkan apa yang dia minta.


"Diam ada yang.... "Lanjutnya.


"Kamu juga dukun ya? Suka melet para gadis?" Canda Yasna saat melihat ekspresi wajah Pemuda itu seperti layaknya dukun.


"Iya aku dukun paling tampan sejagat raya." Kata Daffa.


"Mulai lagi deh narsisnya." Kata Yasna menggelengkan kepalanya perlahan.

__ADS_1


"Asal bukan dukun beranak aja." Kata Daffa.


"Udah lanjutin. Jangan kebanyakan narsis." Perintah Yasna.


"Sabar dikit kenapa sih jadi cewek. Udah lihat dulu itu film drakor." Kata Daffa.


Pemuda itu tadi mendengar sesuatu gerak langkah seseorang di sekitar tempat mereka. Dia juga tidak bisa memastikan kedatangan seseorang saat jam yang telah larut malam seperti itu.


Di dalam villa hanya ada beberapa orang yang tinggal. Mereka tahu aturan yang ada di villa itu sangat ketat juga tidak memberatkan karena memang sebelumnya mereka bekerja di sana sudah ada perjanjian.


Daffa meminta gadis itu tadi diam untuk memastikan kondisi di sana. Untuk menepis pikirannya itu dia mengalihkan dengan mengobrol dan bercanda dengan Yasna.


Memang benar adanya tadi ada seseorang yang memperhatikan keduanya yang sedang bersenda gurau tapi itu tidak disadari oleh gadis itu. Berbeda dengan Daffa berusaha mengalihkan perhatian untuk mengecoh si pengintai.


Daffa ingin memberikan kesan yang baik pada gadis itu. Ingin agar gadis itu selalu bahagia dalam usia mudanya itu.


Mata yang indah tetapi memancarkan sebuah kesedihan yang mendalam. Kesedihan yang sudah sangat lama yang selalu disimpannya sendiri.


Waktu sudah sangat larut malam dengan udara yang sangat dingin. Sesaat Daffa melihat pakaian yang dikenakan gadis itu lumayan kebesaran.


"Wah dengan kaos mu yang sekarang kamu pakai aku tak bisa melihat body mu yang seksi tadi." Goda Daffa dengan tertawa renyahnya.


"Jangan-jangan kamu dukun cabul." Kata Yasna.


"Hi..... Ngeri aku ngeri jadinya." Lanjutnya dengan memeluk tubuhnya sendiri.


"Emang iya aku ini dukun cabul, bersiaplah menjadi tumbal ku malam ini!" Kata Daffa dengan senyum yang cukup membuat orang merasa jijik.


"Kembalilah ke kamar, istirahat dan tidurlah dengan nyenyak. Aku akan menjaga mu sampai kapan pun." Kata Daffa.


"Jika ada masalah cerita pada ku, sebisa ku, aku akan membantu mu. Anggaplah aku adik mu." Lanjutnya yang membuat kata-kata yang semakin panjang.


"Terimakasih." Ucap Yasna.


Perasaan gadis itu seakan menghangat seketika. Rasa dilindungi baru kali ini dirasakannya.


Gadis itu beranjak meninggalkan ruang tamu menuju kamar yang tadi ditunjukkan oleh Daffa. Air mata itu meluncur tanpa seijinnya saat dia berbalik dan melangkahkan kakinya.


Yasna tahu setiap ucapan pemuda tadi begitu tulus dari dalam hatinya. Baru kali ini dia diperlakukan setulus ini.

__ADS_1


Apalagi dia tadi mengucapkan kata adik membuat perasaannya lebih nyaman. Hari ini hatinya sungguh lelah tetapi dengan adanya Daffa yang terlihat sangat tulus membuatnya lebih tegar dan rasa lelah pun lenyap seketika.


__ADS_2