
Mereka bertiga tidak perlu banyak bicara untuk menjelaskan segala sesuatu. Semua hati dan pikiran mereka sudah menjadi satu sejak dalam kandungan.
Pemuda yang baru sampai di villa mewah itu langsung pergi menuju kamarnya untuk segera membersihkan diri. Seluruh badan terasa lengket dan bau.
Axel memejamkan matanya saat berendam dalam air backtub yang hangat. Wajah gadis yang terasa kesepian dan sangat terlihat jauh di dalam mata yang indah itu sekejap ada dalam pikirannya.
Pemuda itu pun mengguyur badan di bawah shower untuk menghilangkan busa dari badannya. Dia pun mengenakan piyama karena memang waktunya untuk tidur.
Tap tap tap
Pemuda yang paling tua diantara ketiga bersaudara itu berjalan keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Perutnya saat ini terasa sangat lapar karena memang dia melewatkan kesempatan untuk makan malam.
Axel mengambil buah yang ada di lemari pendingin dan minuman dingin. Dia memakan buah itu gigitan demi gigitan.
Deg
Jantung pemuda itu berdetak kencang bersamaan dengan seorang gadis yang sedang menghampirinya hampir tengah malam. Axel mencoba menepis perasaan yang tidak mengenakkan yang ada dalam hatinya itu.
"Tuan mau makan?" Tanya seorang gadis yang sepertinya baru selesai membersihkan diri.
"Ya, tadi kamu bilang apa?" Tanya Axel yang baru buyar dari lamunannya.
"Sudah larut kenapa belum istirahat?" Tanya pemuda itu ingin tahu alasannya.
"Saya lapar, tadi cuma sempat sarapan." Jawab Hafsa
"Siang dan sore ketiduran." Lanjutnya.
"Ketiduran di mana?" Tanya Pemuda itu mengintrogasi gadis yang sedang berbicara dengannya.
"Maaf." Kata Gadis itu tahu arah pembicaraan Tuan Muda pertamanya.
"Kesalahan yang kamu buat harus diberi hukuman agar kamu tidak mengulanginya." Kata Axel setelah menghabiskan sebuah apel dan kemudian menyandarkan tubuhnya pada kursi dengan tangan bersedekap.
"Ikut aku malam ini ke sebuah tempat." Pinta Axel penuh harap gadis itu mau mengikutinya.
"Tapi saat perjalanan ke sana kamu harus menutup mata mu dengan kain." Lanjutnya.
__ADS_1
"Jangan berpikir macam-macam, aku akan sangat berterimakasih pada mu jika kamu bersedia." Lanjutnya mulai terlihat sangat khawatir.
Pemuda itu langsung mengambil mobilnya di garasi. Hafsa sudah menunggu di pintu utama.
Gadis itu yakin tidak akan terjadi apapun padanya walaupun matanya harus ditutup dengan kain. Saat ini Hafsa juga merasa khawatir dengan kondisi seorang pemuda yang masih dalam pemulihan di kamarnya.
"Kak apa yang akan kamu lakukan dengan mengajak gadis itu pergi keluar dengan pakaian seperti itu." Kata Garda dalam hati yang sudah mengawasi interaksi keduanya.
"Oh Kakak tidak kah kau mengerti dengan adik mu itu, jika kau mengambilnya pasti Dia akan gila. Selama ini adik mu itu sebenarnya sudah mengalah banyak dari kita." Lanjutnya sedikit kecewa.
Seorang pemuda yang sekarang ada dalam perjalanan bersama dengan seorang gadis yang sudah membuat kacau hati Sang Adik kini berhenti di tengah perjalanan. Dia meminta Hafsa untuk mengenakan kain panjang untuk menutup matanya.
Mobil itu melaju kembali setelah Hafsa menggunakan penutup mata sampai di sebuah apartemen cukup besar. Gadis itu mulai merasa benda yang ditumpanginya mulai berhenti dan tiba-tiba dia langsung begitu saja membuka penutup matanya.
"Di mana ini?" Tanya gadis itu dengan intonasi tinggi.
"Di tempat kekuasaan ku." Jawab Axel dengan dingin.
"Di tempat ini kedua saudara ku tidak ada yang tahu, jadi sebaiknya kamu menurut saja." Lanjutnya dengan menarik gadis itu menuju suatu tempat.
"Lepas." Teriak gadis itu berusaha melepaskan genggaman tangan pemuda yang menariknya kuat.
Ceklek
Sebuah pintu ruangan terbuka dimana semua peralatan masak juga sudah lumayan lengkap. Gadis itu dikunci dari luar oleh Sang Pemilik Apartemen.
Axel kembali menuju dapur dengan membawa semua sayuran segar sudah dipersiapkan dari villa tadi. Pemuda itu menyuruh Hafsa untuk memasak makanan untuk seorang gadis yang tadi dibuatnya sedih.
Axel memiliki temperamen yang lebih kejam dari kedua saudaranya itu. Dia tega melakukan apapun untuk orang terdekatnya.
Pemuda itu tahu dunia itu sangat kejam dengan penghuninya. Axel sebenarnya tidak tega pada gadis yang diajaknya baru saja karena dia tahu dia gadis yang baik.
"Keluarkan aku dari sini!" Pinta Hafsa dengan berteriak.
"Jika kamu tidak mengeluarkan ku akan ada yang mencari ku." Lanjutnya dengan intonasi yang cukup tinggi.
"Siapa yang akan mencari mu?" Tanya Axel dengan menyunggingkan senyum.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa, hanya saja jangan sampai terjadi pertengkaran saja diantara kalian." Kata Hafsa yang sebenarnya juga sudah putus asa.
"Sudahlah jika selesai masih ada tugas lain untuk mu." Kata Axel dengan hati yang sangat khawatir tetapi tidak tahu apa yang dikhawatirkannya.
Pemuda itu berjalan menuju sebuah kamar yang baru saja ditempati seorang gadis yang bernama Bella. Saat pintu itu diketuk oleh Axel tidak ada jawaban sama sekali hingga dia membuka pintu itu perlahan.
"Kemana gadis itu?" Tanyanya dalam hati dengan perasaan yang semakin khawatir.
"Apa dia masih ditanam?" Lanjutnya dengan bergegas melangkah menuju taman.
Pemuda itu langsung menuju taman melihat pada sebuah batu yang ditunjukkan padanya untuk melarikan diri, tetapi batu itu tidak bergeser sama sekali. Axel mengedarkan pandangannya pada seluruh taman tapi tidak tampak bayangan gadis itu hingga akhirnya dia berjalan menuju sebuah pohon yang mulanya untuk memberikan pelajaran untuknya.
Di sebuah sisi terlihat sebuah badan seorang gadis yang terbaring di sana. Pemuda itu berjalan perlahan mendekati badan itu.
Deg deg deg deg deg
Jantung Pemuda itu semakin berdegup dengan kencang ketika melihat seorang gadis tergeletak tak sadarkan diri. Disentuh tubuhnya dengan lembut.
"*Badannya kenapa sedingin ini?" Tanya Pemuda itu dalam hati dan segera menggendongnya menuju kamar gadis itu.
"Berarti dia pingsan sejak aku tinggalkan tadi." Lanjutnya.
"Jika dilihat dengan baik kenapa sepertinya aku sudah mengenalnya lama." Katanya lagi saat menutup badan gadis itu dengan selimut tebal.
Pemuda itu pergi ke dapur untuk minta dibuatkan air hangat oleh seorang gadis. Hafsa pun saat ini hanya bisa menurut kerena merasa berhutang budi telah ditampung di rumah pemuda itu.
Pada saat yang sama Daffa yang terbangun tengah malam setelah ditinggalkan seorang gadis setelah badannya agak baikan merasa perutnya lapar. Berulang kali dia menghubungi nomor Hafsa tetapi tidak kunjung diangkat bahkan pesannya pun tidak dijawab.
Gadis yang bersama sang kakak juga merasa gusar saat itu. Dia tidak tahu lagi kenapa tiba-tiba gagal fokus.
Gadis itu sadar penyebabnya bukan karena ditunggu oleh Tuan Muda pertamanya. Dia merasa ada seseorang sedang membutuhkan bantuannya tapi dia sendiri tidak tahu.
"Itu untuk hukuman mu sementara." Kata Axel dengan dingin.
"Hukuman mu yang utama sedang menunggu mu." Lanjutnya.
"Memangnya aku harus menjalani berapa hukuman Tuan?" Tanya Hafsa dengan nada tinggi dan ibu jari diarahkan pada dirinya.
__ADS_1
Axel kali ini tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh gadis yang bersamanya saat ini. Hafsa berbicara dengan lantang seakan dia berani menantangnya.