Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Sensasi Rasa Berbeda


__ADS_3

Di meja ruang makan sudah tersedia berbagai macam makanan dari yang disukai oleh ketiga Tuan Muda yang sedang dalam perjalanan pulang dari masjid. Makanan apa yang tidak disukai mereka bertiga memang berbeda-beda walaupun ketiganya bersaudara bahkan ada keduanya yang memang kembar.


Gadis itu memasak dengan sangat lihainya, hingga membuat seorang Bibi yang memang ditugaskan memasak untuk ketiga tuannya itu merasa heran. Sangat jarang seorang gadis pandai memasak di era ini, bahkan malah terbalik hingga seorang prialah yang pandai dalam urusan dapur.


"Nduk sebaiknya bibik saja yang melakukan tugas ini." Pinta Bibi.


"Kamu baru saja sembuh nanti saya yang dimarahi tuan muda." Lanjutnya.


"Tidak akan Bi, saya juga tidak mau tinggal disini gratis." Kata Hafsa masih dengan semua alat dapurnya.


"Ya sudah kalau begitu kamu boleh memasak tapi biar Bibi bantuin biar cepat selesai." Pinta Bibi.


"Baik Bi, terimakasih." Kata Hafsa sambil menganggukkan kepalanya pelan.


Mereka berdua di dapur memasak sambil bersenandung. Masakan yang dibuat hampir memenuhi meja makan dengan aroma yang sangat menggugah selera.


"Gadis yang baik dan ramah, semoga saja mendapat jodoh yang baik dan kehidupan yang baik pula. Amin." Batin Sang Bibi mengagumi kebaikan diri Hafsa.


Sreeeeet


Suara pintu gerbang dibuka oleh seorang penjaga dengan sigapnya. Pintu itu tidak lupa ditutup kembali olehnya setelah ketiga tuannya itu masuk.


"Malam Tuan muda." Sapa Seorang Penjaga gerbang setelah membukakan pintu.


"Malam juga Pak." Jawab ketiganya serentak.


"Pak sepertinya bapak baru seneng ya?" Tanya Axel.


"Bener Tuan." Jawab Penjaga gerbang.


"Memangnya ada apa Pak? Tanya Garda.


"Iya bagi-bagi dong biar kita-kita ikut senang juga." Kata Daffa.


"Sepertinya bener apa yang dikatakan Tuan Axel dan Tuan Daffa akan ada banjir dan akan meluap." Jawab Penjaga gerbang.


"Masak sih secepat itu?" Tanya Axel.

__ADS_1


"Kalau Tuan Muda tidak percaya masuk saja dan lihat." Kata Penjaga gerbang.


"Sebelum masuk pun pasti sudah tercium aroma yang bisa menggugah selera." Lanjutnya.


Ketiga Pemuda itu saling pandang tidak mengerti dengan maksut dari perkataan orang tua paruh baya itu. Meraka berjalan dengan langkah lebar masuk ke dalam Villa megah itu setelah berpamitan dengan penjaga gerbang.


Ketiga pemuda itu memang berasal dari keluarga yang sangat kaya dan terpandang, akan tetapi mereka tahu bagaimana menghormati orang lain. Terlebih lagi dengan orang yang lebih tua akan akan sangat mereka hormati.


Ketiga pemuda itu tidak butuh waktu lama untuk sampai di depan pintu masuk biarpun jarak yang ditempuh antara pintu gerbang dengan pintu ruang tamu villa relatif cukup jauh. Aroma masakan yang sangat menyengat hidung itu membuat perut mereka terasa sangat lapar.


"Tidak bisanya Bibi memasak yang sepertinya sangat enak seperti ini." Puji Daffa dengan mempercepat langkahnya menuju ruang makan dan dialah yang paling cepat sampai diantara kedua saudaranya.


Daffa sudah mulai menarik kursi dan duduk sambil melihat semua makanan yang sudah tersaji. Kedua kakaknya baru menyusul mengikuti duduk ketika sang adik bungsu sudah mengambil salah satu menu yang ada di sana.


"Pelan sedikit jalannya kenapa?" Tanya Axel.


"Takut tikus udah ngabisin semuanya Bambang." Kata Garda pada Axel yang sudah melihat Sang Adik Bungsu mulai melahap makanan yang tersaji di atas meja itu.


"Sudah berdoa belum adik ku yang ganteng sejagat raya?" Tanya Garda pada Adik Kembarnya.


"Iya betul, tidak ingatkah pada kejadian dahulu kala saat kehilangan daging?" Tanya Axel kemudian.


"Kenapa tidak ingatin dari tadi Bambang?" Tanya Daffa setelah tenggorokannya agak enakan setelah meneguk segelas air.


"Makanya ingat-ingat pesan Mama." Kata Axel.


"Ada lagunya dari Trio Bebek." Kata Garda sedikit bergurau.


"Iya-iya aku khilaf." Kata Daffa mengaku salah.


"Bukan hanya sekali kamu khilaf." Kata Garda mengingatkan sang adik.


"Udah itu mulut bebek gak bisa berhenti apa?" Tanya Axel yang sudah mulai melahap salah satu makanan kesukaannya hingga hampir habis.


"Sudah berdoa Kak?" Tanya Daffa pada Axel.


"Ya sudah lah sejak kalian beradu mulut." Jawab Axel dengan santainya.

__ADS_1


Kedua adiknya itu melihat sang kakak sangat menikmati makanan yang tersaji di atas meja makan hingga hampir habis. Otak mereka mulai berpikir untuk mengerjai sang Kakak.


Kedua adiknya melihat salah satu makanan yang tidak disukai oleh sang kakak. Mereka membagi tugas Garda mencoba mengajak berbicara sang kakak, sedangkan sang adik bungsu mengambil makanan itu kemudian menaruhnya di piring Kakaknya Axel.


Sang Kakak yang terlihat masih sangat menikmati makanannya itu terpancing dengan pembicaraan adiknya Garda. Daffa yang menaruh makanan yang tidak disukai di piring Sang Kakak hanya menggelengkan kepalanya pelan tatkala melihat makanan tersebut hampir habis.


Sang Adik bungsu memberikan kode kepada kakaknya Garda ternyata semuanya tidak memberikan pengaruh apapun. Makanan itu apa sudah dikasih mantra hingga Sang Kakak tidak bisa membedakan rasa makanan yang dia makan.


Kedua adiknya untuk kedua kali saling tatap merasa heran hingga akhirnya mereka memberi tahukan makanan yang baru saja di makan oleh sang Kakak. Bukan merasa tidak enak tapi kali ini memberikan sebuah rasa tersendiri hingga dia pun merasa enak pada lidahnya.


"Kalian tidak ingin nyobain masakan sebanyak ini juga." Kata sang kakak yang membuat mereka menelan ludahnya karena masih masih ada makanan yang tidak mereka sukai.


"Coba deh ini, pasti enak." Kata Axel memberikan masing-masing sesendok sayur pare pada kedua adiknya di piring mereka.


"Memangnya kakak tidak merasakan apapun dengan sayur itu?" Tanya Garda.


"Enak kok." Kata Sang Kakak melihat apa yang dia makan tetapi ada rasa yang sangat berbeda di lidahnya.


"Memangnya ada apa dengan rasa masakan itu?" Tanya Kak Axel pada kedua adiknya itu.


Kedua sejoli itu menutup mata mereka dengan terpaksa menikmati makanan makanan yang baru saja diberikan oleh sang kakak. Sang Kakak memaksa mereka dengan suatu ancaman yang bahkan kedua orang tua mereka tidak tahu.


Mana mau mereka menuruti jika tidak dengan ancaman yang sangat bersifat sangat membahayakan buat mereka. Masa lalu yang memang tidak pantas untuk diingat lagi.


"Emmmm." Sebuah suara yang keluar dari mulut mereka merasakan sensasi rasa yang berbeda dengan mata yang terpejam.


"Ini sungguh berbeda. Rasanya pahitnya tidak begitu terasa." Kata Garda.


"Tapi ini yang jelas bukan Bibi yang masak." Kata Daffa yang juga terampil dalam hal memasak.


"Ini makanan dicampur dengan guna-guna apa an hingga bisa se-enak ini?" Lanjutnya.


"Ini lebih enak dari masakan restoran." Puji Garda dengan mengambil makanan lainnya yang sangat tidak disukainya yang kini terasa enak dilidah.


"Iya bahkan aku saja tidak bisa memasak se-enak ini." Kata Daffa.


"Memangnya kamu bisa masak Bambang?" Tanya Axel.

__ADS_1


"Namanya bukan Bambang Kakak tapi Kadal." Ledek Garda.


__ADS_2