Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Ketrampilan Memasak


__ADS_3

Gadis itu mulai merasa ada sesuatu yang disembunyikan sejak diajak masuk ke dalam villa itu. Panggilan Tuan pada Daffa itu adalah hal pertama yang membuatnya kaget.


Pada hari yang sama gadis itu mengatainya telah meminjam motor dari orang lain. Akan tetapi dengan panggilan dari seorang gadis yang telah bekerja di villa itu membuat isi kepala ada tanda tanya besar.


Ingin minta maaf tapi ada rasa gengsi yang cukup besar dalam hatinya. Pasti akan ada rasa canggung setelah kata-kata itu terucap.


Saat selesai Daffa menata hasil karya itu di atas piring dan terlihat sangat cantik membuat selera makan itu kembali muncul. Pemuda itu membawa cemilan itu menuju ruang makan tanpa melepas celemek yang dia pakai.


Gadis itu pun segera kembali pada tempat duduk semula. Ia berpura-pura tidak melihat apa yang tadi saksikan di dapur.


"Makanlah, ini juga baru masak." Titah Daffa menghampiri gadis yang tadi sempat melihat atraksi yang dibuatnya.


"Jadi ini semua kamu yang masak?" Tanya gadis itu memandang seluruh tubuh Daffa yang berjalan menghampirinya.


"Jadi kamu bisa masak?" Tanya gadis itu lagi.


"Hem." Jawab Daffa singkat.


"Kamu itu seorang laki-laki apa kamu tidak mau kalau harus masak? Tanya Yasna penasaran.


"Buat apa malu. Semua orang punya ketrampilan atau bakatnya sendiri." Jelas Daffa.


"Kalaupun malu hanya itu kemampuan kita apa akan menyerah tak akan masak sampai mati kelaparan?" Cercanya.


"Semua status pria wanita laki-laki perempuan sekarang sudah lebih memiliki status sama." Jelasnya lagi.


"Cepat makanlah sebelum dingin. Kalau sudah dingin rasanya sudah tidak begitu enak." Pinta Daffa.


Gadis itu mengambil makanan yang baru saja diletakkan di depannya. Sudah tak tahan dengan aroma makanan itu membuatnya semakin lapar.


Rasa sedikit malu terhadap telah menilai pemuda itu sedikit buruk. Penampilannya yang tidak sombong dan angkuh menutup identitas yang sebenarnya ada padanya.


Pengetahuannya mungkin lebih luas dari perkiraannya saat ini. Gadis ini mengira ia mungkin hanyalah seseorang dengan sebuah penilaian yang sempit.


Perut gadis ini sudah sangat kenyang bisa dikatakan kekenyangan. Ia enggan berdiri dari tempatnya sekarang.

__ADS_1


Rasanya tidak enak juga setelah makan gratis seperti ini ia langsung beranjak pergi ke kamar. Gadis ini pun memutuskan untuk membersihkan semua bekas makanan serta alat masak yang ada di dapur setelah perutnya agak longgar.


"Masih laper atau memang doyan makan?" Tanya Daffa dengan menyandarkan punggungnya pada kursi tempatnya duduk.


"Kembalilah ke kamar dan istirahatlah." Lanjutnya.


"Tidak, terimakasih. Aku sudah sangat kenyang." Tolak Yasna berdiri kemudian membersihkan meja.


"Hentikan!" Perintah Daffa saat melihat gadis itu mulai membersihkan meja.


"Kenapa?" Tanya Yasna penasaran.


"Kamu tidak boleh melakukannya." Larang Daffa.


"Ada masalah? Atau kamu pikir aku tidak pernah melakukan pekerjaan kasar seperti ini?" Tanya Yasna sedikit emosi.


"Tidak. Bukannya begitu, kamu di sini adalah tamu. Tamu memang harus dilayani dengan baik." Jelas Daffa yang merasa sebagai Tuan Rumah merasa tersinggung.


"Baiklah jika kamu memang menganggap ku tamu." Kata Yasna.


"Kalau kamu masih bilang seperti itu jangan pernah anggap aku sebagai teman mu kelak!" Kata Daffa dengan sedikit emosi seakan ia tahu bahwa akan ada kejadian lain yang bisa saja membutuhkan bantuannya.


"Makan dan tidur di sini kalau kau mau membalas budi bukan dengan cara seperti itu. Turuti saja semua perkataan ku." Katanya lagi.


Pemuda itu pun akhirnya berdiri dan membereskan semua peralatan makan serta peralatan masak yang ia gunakan. Daffa tak ingin menciptakan sebuah kecanggungan antara mereka setelah makan malam.


Berbeda dengan yang diharapkannya ternyata mereka hanya bisa akur dalam hitungan menit itupun tidak lebih dari satu jam. Yasna tidak cuma tidak mau menggantungkan diri di atas pekerjaan orang lain.


Saat mengetahui bahwa Pemuda yang bersamanya itu memiliki sebuah status yang ia tahu lebih tinggi justru itu gadis itu mencoba membuat jarak. Bahkan jarak sebagai teman atau pun sahabat ia merasa sudah tidak pantas.


"Dari mana kamu memiliki ketrampilan memasak sehebat itu?" Tanya Yasna yang berusaha mencairkan suasana.


"Aku diajarkan oleh kedua orang tuaku untuk selalu mandiri." Jawab Daffa terpotong.


"Semua orang tua memang mengajarkan anaknya seperti itu." Jelas Yasna hingga membuat Pemuda yang sedang membersihkan peralatan makannya itu tertawa renyah.

__ADS_1


"Kamu benar." Kata Daffa.


"Lantas apa kamu sekolah di jurusan tata boga?" Tanya Yasna penasaran yang semakin lama ia mengerutkan keningnya tanda sedang berpikir.


"Tapi kalau pun sekolah di sana mereka tidak akan membuat makanan dengan kreasi resep seperti ini." Lanjutnya yang masih tidak percaya.


"Nah itu kamu tahu." Balas Daffa dengan menuding gadis itu dengan jari telunjuk.


Busa yang ada di tangan Pemuda itu mengenai wajah Yasna secara tidak sengaja. Saat itu Sang gadis memang secara diam-diam mendekat ingin melihat cara kerja Pemuda itu. Bukan mengintip lagi tapi sudah melihat secara jelas.


"Jadi basah kan?" Teriak gadis itu yang dibuat seakan-akan ia sangat marah.


"Bilang aja kamu udah gak mau mencuci peralatan ini lagi." Katanya lagi dengan ketus.


"Untung baju ku gak basah." Lanjutnya lagi.


Mendengar kalimat terakhir itu Daffa sengaja mengarahkan sedikit air pada lengan gadis itu. Sengaja dilakukan pada lengannya bukan pada bagian dada karena ia tahu gadis itu gadis dengan hati yang baik.


"Ya, kamu benar aku sudah malas untuk mencucinya." Kata Daffa sambil memukul lengan gadis itu berulang kali dengan telapak tangannya hingga meninggalkan agak banyak air.


"Basah kan sekarang?" Keluhnya Yasna.


"Gampang tinggal ganti baju doang." Balas Daffa dengan santainya.


"Emang elu pikir aku bawa baju ganti, tahu begitu tadi aku bawa baju ganti!" Ketusnya.


"Ya sudah lain kali kita liburan di sini lagi Ok. Aku akan memberitahu mu untuk membawa baju ganti." Kata Daffa yang masih cuek sambil melanjutkan aktivitasnya bersih-bersih.


Gadis itu mulai merasa dingin tapi ia menahannya. Kencangnya angin di pantai semakin malam memang semakin terasa sangat dingin.


Gadis itu tidak mau orang lain merasa terbebani dengan masalahnya sendiri sehingga ia hanya menyimpan rapi dengan senyumnya itu. Sama halnya kali ini ia tidak mau merepotkan pemuda yang saat ini bersamanya.


Pemuda itu dengan sekilas melihat sudah tahu Yasna merasakan dingin di sekujur tubuhnya. Apalagi pada bagian yang terkena air baru saja pasti lebih dingin.


Daffa pun sesegera mungkin menyelesaikan pekerjaannya itu. Ia tidak mau seorang gadis baik-baik merasa menderita di lingkungannya saat bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2