
Pikirannya kini sedang berusaha mencari sebuah alasan agar wanita yang selama merawatnya tidak memiliki pikiran buruk juga tentang dirinya. Bukannya menemukan alasan itu tapi pikirannya malah semakin kalut saat Daffa berhenti di sebuah rumah yang tak asing baginya.
Sebuah rumah yang cukup nyaman yang diselimuti dengan kasih sayang sejak dia masih bayi. Melihat rumah itu ingin segera dia pulang tetapi enggan karena merasa bersalah.
Chiiiiiit
Suara gesekan ban dengan tanah yang sangat halus hampir tidak terdengar. Gadis ini masih saja memeluk pinggang kakak laki-laki barunya tanpa melepasnya.
Deg
Jantungnya berdegup kencang dan hatinya tak menentu. Takut dituduh macam-macam oleh sang bunda, takut wanita yang menyayangi dirinya selama ini berprasangka buruk.
"Cepat turun, ini sudah sampai." Perintah Daffa yang merasa gadis dibelakang sedang diboncengnya tidak segera turun.
"Takut?" Lanjutnya.
"Takut apa? Biar nanti aku yang jelasin." Kata Daffa meyakinkan adik kecilnya.
Pemuda itu memiliki aura yang berbeda dari yang lainnya. Dia mampu meyakinkan seseorang dalam sekejap mata.
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar perlahan. Seorang wanita paruh baya terlihat sedang berjalan perlahan melihat tamu mana yang datang.
Melihat seorang gadis yang semalam sangat dikhawatirkan itu rasanya ingin sekali dia menangis. Rasa tangisnya sekarang hanya bisa tertahan karena melihat anaknya bersama seorang pemuda yang sangar familiar.
"Siang Tante." Sapa Daffa sedikit menundukkan badannya tanda menghormatinya dan tak lupa dia pun mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
"Siang." Jawab Bunda Azka.
"Masuk dulu gih." Pinta Bunda Azka setelah melihat tamu yang bersama anak gadisnya itu.
"Ternyata sama kamu Nak Daffa." Lanjutnya.
"Iya tante kemarin ada kejadian yang membuat saya harus meminjam anak gadis tante." Jelas Daffa.
__ADS_1
"Oh baiklah. Yang penting itu gadis kecil tante yang nakal sudah pulang dengan selamat tanpa ada kurangnya." Kata Bunda Azka.
"Bunda memangnya aku senakal itu." Kata Yasna sedikit marah karena Bundanya mengorek sedikit kebiasaannya yang kurang baik.
"Iya bahkan sampai sekarang kamu masih gadis kecil ku yang sangat nakal yang sukanya kabur-kaburan." Kata Bunda menatap anak gadisnya itu dengan penuh sayang.
"Oh iya tante ini kami ada sedikit buah tangan buat tante." Kata Daffa.
"Ini bukan buah tutup mulut kan?" Canda Bunda Azka.
"Bukan, dan ini tadi belanjaannya Yasna karena pakaian Yasna masih di Villa belum sempat dicuci." Kata Daffa.
"Anak tante jadi merepotkan Nak Daffa, tante minta maaf." Pinta Bunda Azka.
"Ya sudah tante, ini sudah siang saya pamit dulu. Takutnya kakak saya nyariin." Kata Daffa berpamitan.
"Buat apa nyariin adik kayak kamu." Ledek gadis itu kemudian menjulurkan lidahnya.
"Tu kan bener ini anak tante memang kurang nakalnya kebangetan." Kata Bunda Azka.
"Hati-hati di jalan, Maaf anak tante merepotkan mu." Kata Bunda Azka saat pemuda itu sudah berdiri dan hendak pergi.
Pemuda itu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu sebelum pergi. Dia melambaikan tangannya pada kedua orang wanita yang sedang mengantar kepergiannya itu.
Wanita paruh baya itu mempercayai anak gadisnya tidak akan berbuat melebihi batasan. Saat pertama kali bertemu dengan Pemuda yang bersama anak gadisnya itu dia sudah yakin kalau Daffa adalah pemuda yang sangat baik.
Pemuda itu meninggalkan rumah Yasna menuju ke Villa dengan kecepatan yang relatif rendah. Jarak rumah gadis itu pun dengan villa itu miliknya juga tidak terlalu jauh tidak akan memakan waktu lama.
Banyak anak-anak yang sedang bermain saat itu di sekitar rumah hingga jalan sehingga tidak memungkinkan Daffa untuk kebut-kebutan seperti kemarin dan tadi saat berboncengan dengan gadis nakal itu. Sebutan gadis kecil yang nakal oleh Bunda Azka malah selalu terngiang ditelinganya yang akan bisa digunakan untuk senjata melawannya.
Di Rumah Bella
Bella selalu merasakan apa saja yang terjadi dengan saudara kembarnya walaupun mereka tidak pernah bertemu. Wajah yang agak berbeda dapat mengecoh semua orang yang melihat.
Bella yang wajahnya mirip dengan sang ibu, sedangkan Yasna mirip sekali dengan Ayahnya. Saat rindu pada pasangannya kedua wajah itu saling mengingatkan satu sama lain.
Perilaku mereka yang menyamakan keduanya berasal dari orang tua yang sama. Periang, baik, tak mau dikalahkan orang lain dan mandiri.
Bella sama halnya dengan saudara kembarnya yang selalu apa adanya. Dia tidak pernah mau untuk merias dirinya sehingga selalu tampak kecantikannya yang sangat natural.
__ADS_1
Kejadian di bully oleh orang membuat Bella selama sehari semalam merasa ada sesuatu yang tidak beras, tetapi hal itu tidak bisa diungkapkannya. Bella berpikir jika dia cerita dengan ART yang sudah lama bekerja di rumah itu pun pasti akan ditertawakan.
"Apa yang terjadi denganku?" Batin Bella saat seorang gadis kembarannya di bully pagi itu.
"Perasaan ku kenapa tidak tenang." Lanjutnya.
"Apa ini akibat dari aku tidak patuh pada Papa."
"Aku merasa ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin untuk melampiaskannya."
"Kalau aku lakukan itu, pastinya dikira aku gila."
Batin Bella yang selalu muncul dalam pikirannya hingga waktu malam pun tiba. Saat itu juga gadis di sebrang sudah merasa sedikit baikan.
Yasna dan Bella saat ini memang sama-sama baru masuk satu semester di Universitas Unggulan, bahkan universitas itu sama tetapi mereka belum sekalipun bertemu. Mereka bertemu justru di desa tempat tinggal sang Bunda sekarang.
Di Villa Milik Keluarga Adrean
Daffa sudah sampai di villa dan langsung memarkirkan motornya di garasi. Kedatangannya itu tidak diketahui oleh siapapun.
Mengendap-endap Pemuda itu menuju kamarnya ingin segera istirahat. Sejak semalam ia tidak dapat istirahat hingga kantung hitam disekitar mata sangat terlihat.
"Semoga tak seorang pun melihat ku datang." Batin Daffa.
"Jika ketahuan aku pasti sudah mampus karena nuklir pertanyaan yang tak tahu harus ku jawab apa." Lanjutnya."
Saat ini kedua saudaranya sudah menunggu kedatangan Daffa ingin meminta sebuah penjelasan tentang apa yang dilihat mereka saat bersama seorang gadis di taman. Apalagi ada sesuatu yang sangat mendukung mengenai kecurigaan mereka berdua.
Keduanya memang sudah tahu kelakuan adik mereka yang cassanova. Kedua kakaknya juga tahu kalau sang adik tidak akan berbuat yang melebihi akan norma.
Prook Prook Prook
Prook Prook Prook
Prook Prook Prook
Sebuah tepuk tangan terdengar begitu nyaring saat melihat seseorang sedang mengendap-endap layaknya pencuri. Sudah ketahuan dateng mana bisa melarikan diri.
Dua besar lawan satu kecil yang jelas pastinya menang yang besar. Sudah besar bersekongkol pula pasti bisa kalah itu maling.
__ADS_1