Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Sehelai Rambut Gadis


__ADS_3

Pemuda yang selalu saja memenangkan pertandingan olah raga itu kini terlihat sangat tidak berdaya. Daffa yang selalu menang dalam perdebatan itu kini tidak bisa berkata apapun untuk menutupi kelemahannya itu.


"Anda sepertinya tidak enak badan." Tebak gadis itu.


"Biar aku ambilkan obat untuk anda." Katanya lagi dengan terengah-engah karena pengap dan mungkin akan kehabisan nafas.


"Ambil obat yang ada di kotak P3K di lemari sebelah akuarium itu." Kata Daffa yang sangat lemas hingga tidak sanggup berjalan itu.


Daffa perlahan dia mengendurkan pelukannya itu. Gadis itu keluar dari dalam selimut dan tidak lupa membenarkan selimut itu seperti semula.


Hafsa berjalan menuju tempat penyimpanan berbagai macam obat yang dimaksut pemuda yang sedang demam sangat tinggi itu. Dia bingung obat yang harus diambilnya hingga seluruh kotak dibawanya.


"Ini obatnya aku bingung yang mana?" Kata Gadis itu sangat khawatir setelah melihat isi yang ada di dalam kotak itu.


"Berikan." Pinta Daffa dengan suara yang sangat lemah.


Gadis itu segera membantu Daffa untuk duduk dan membukakan kotak itu. Untuk membuka kotak pemuda itu tidak mampu hingga Hafsa menunjukkan obat yang harus diambilnya.


Hafsa mengambil minuman yang ada di atas nakas dan membantu pemuda itu meminum obatnya. Beberapa saat kondisinya semakin membaik.


Pemuda itu merebahkan kembali badannya di atas tempat tidur yang sangat luas dengan di bantu oleh Hafsa. Hafsa setelah membantu merebahkan badan kekar itu dia menyelimutinya hingga dagu.


Gadis itu melihat cadangan obat yang ada di kotak P3K yang diambilnya tadi. Semua resep dokter terbaca jelas Dimata gadis itu.


"Jangan pergi, temani aku." Kata Daffa dengan mata terpejam dan tubuh yang masih menggigil kedinginan saat gadis itu hendak mengembalikan kotak obat.


"Aku hanya akan mengembalikan ini." Balas Hafsa merasa kasihan pada pemuda yang saat ini sedang sakit.


Gadis itu mengembalikan kotak obat itu pada tempatnya. Dia pun kembali ke sisi tempat tidur milik Daffa dan membersihkan lantai kotor yang ada di bawah nakas.


"Jika aku tinggal siapa yang akan merawatnya." Kata gadis itu dalam hati.


"Kakak pertamanya pergi dengan membawa makanan entah untuk siapa sedangkan Tuan Garda sudah menyerahkannya pada ku."


Hafsa memindahkan kursi yang ada di dekat sofa menuju samping tempat tidur pemuda yang kondisinya tidak cukup baik itu. Gadis itu duduk di sampingnya cukup lama.


Greeep


Sebuah tangan besar yang cukup kuat tidak sengaja memegang tangan ramping milik seorang gadis yang sedang tertidur di sampingnya. Daffa merasa semakin nyaman sesudah saat memegang tangan itu begitu pula sebaliknya.


Kedua insan itu tertidur cukup lama walaupun ada benda pipih bergetar di atas nakas. Itu adalah panggilan dari kedua saudaranya yang tidak mengetahui kalau Sang Adik sekarang ini lemah tak berdaya.


Gadis itu terbangun dari tidur panjangnya dan tiba ingin merenggangkan ototnya yang kaku. Tangannya terasa susah untuk digerakkan saat ingin diangkatnya ke atas.

__ADS_1


"Alhamdulillah, keadaannya sudah membaik." Kata gadis itu perlahan saat merasakan suhu tubuh Daffa sudah agak turun.


"Terimakasih sudah menjaga ku." Kata Daffa dengan suaranya yang serak-serak basah alanya seorang pria baru bangun tidur.


Suaranya masih terdengar sangat lemah. Daffa terbangun karena merasakan gerakan kecil gadis itu.


"Tangannya sangat halus, benarkah gadis yang pandai memasak." Katanya dalam hati.


"Sekarang dia sudah tahu kalau aku sangat lemah, dia pasti akan menertawaiku." Lanjutnya.


Greeep


Tangan Hafsa dicekal oleh seorang pemuda yang wajahnya masih pucat saat hendak berdiri untuk menggeser tempat duduknya. Gadis itu menoleh dan melihat wajah Daffa seakan tak ingin ditinggalkan olehnya.


"Rapikan diri mu sebelum keluar dari sini." Kata Daffa memperingatkan gadis itu.


"Maaf merepotkan mu." Lanjutnya lagi.


"Istirahatlah." Pinta Hafsa.


"Kamu pasti berpikir aku sangat lemahkan?" Tanya pemuda itu dengan intonasi rendah.


"Tidak, semua pasti akan mengalami sakit." Jawab Hafsa.


"Baiklah." Kata gadis itu pergi setelah mengembalikan kursi itu pada tempatnya.


Hafsa segera meninggalkan kamar pemuda itu saat hampir tengah malam. Dia lupa merapikan penampilannya yang berantakan.


Gadis itu berpapasan dengan Garda saudara kembar pemuda yang sakit itu. Dia melihat Hafsa seperti ada yang aneh.


"Kenapa Tuan Garda melihatku seperti itu?" Batin Gadis itu.


Hafsa sempat berpikir penyebabnya adalah Dia lupa memasak untuk kedua tuannya yang lain. Ingin minta maaf tapi tidak tahu caranya.


Garda sejak tadi pagi tidak berada di rumah hingga tidak mengetahui kalau saudara kembarnya sedang menderita. Dia pergi ke sebuah tempat untuk mengenang kekasihnya dulu.


Axel jangan ditanya lagi, kakak tertua sedang berada di markasnya sejak pagi hingga malam ini. Dia melihat gadis itu dari layar monitor. (Kalau seperti itu terus bisa-bisa dari mata turun ke hati).


Kedua saudaranya itu memang tidak tahu kalau Daffa sang adik sedang sakit. Pemuda itu selalu menyembunyikan rasa sakit yang terjadi di tubuhnya itu.


Daffa selalu meminta obat pada salah satu temannya yang memiliki profesi dokter. Obat untuk persediaannya jika sakit secara umum.


Pemuda itu tidak ingin diketahui oleh orang lain saat dia sedang menderita. Dia tidak mau membuat orang-orang disekitarnya merasa khawatir.

__ADS_1


Seorang gadis kini sedang membersihkan dirinya di bawah guyuran shower. Badannya kini terasa sangat segar setelah menjaga seorang pemuda yang sedang sakit.


"Seharian pergi kemana Nak?" Tanya Seorang Wanita Paruh Baya yang tinggal satu kamar dengannya.


"Maaf Bi tadi aku ada urusan dan tidak sempat bilang dengan Bibi." Jawab Hafsa saat menyisir rambutnya yang basah.


"Lain kali bilang, jangan membuat ku khawatir." Pinta Wanita Paruh baya itu penuh perhatian.


"Sudahlah segera istirahat saja." Kata Bibi sambil memakai selimutnya.


"Bibi duluan saja, nanti aku menyusul." Kata Hafsa mengingat rambutnya yang masih sedikit basah.


Di dalam sebuah kamar seorang pemuda menyandarkan badannya pada kepala ranjang. Dia masih sangat lemah dan dalam pikirannya kini hanya ada satu orang gadis yang menjaganya dari pagi saat sakit.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk tengah malam oleh seseorang pemuda yang berpapasan dengan Hafsa. Siapa lagi kalau bukan saudara kembarnya yang saat ini sedang kepo terhadap adik laki-lakinya itu.


"Masuk, tidak dikunci." Kata seorang pemuda yang sedang menyandarkan badannya di kepala ranjang.


"Oh ternyata Kakak ku yang tampan." Kata Daffa berusaha menguatkan dirinya agar tidak terlihat sakit.


"Kamu kira siapa yang datang ke kamar mu?" Tanya Garda ingin tahu apa yang terjadi selama dia pergi.


"Hai saudara ku, apa ada yang berani datang ke kamar kita bertiga selain trio kwek-kwek." Jawab Daffa dengan tertawa lebar menutupi betapa lemahnya dia sekarang.


"Pasti ada seseorangkan?" Tanya Garda.


"Seorang gadis." Lanjutnya dengan menunjukkan rambut panjang yang tertinggal di atas tempat tidur saudaranya itu.


"Sok tahu." Kata Daffa singkat.


"Kamu sampai lemas seperti itu, memangnya apa yang kalian lakukan?" Tanya Garda.


"Sepasang muda-mudi jika berada dalam satu kamar sangat lama memangnya apa yang akan terjadi pastinya kakak tahu kan?" Tanya Daffa balik.


"Apa lagi sudah ada bukti ada sehelai rambut di atas bantal tempat tidur ku." Lanjutnya.


"Kamu pikir aku percaya." Kata Garda.


"Sudahlah istirahat biar segera pulih itu tenaga mu." Kata Sang Kakak.


Garda yakin dan tahu tabiat adiknya walaupun semua disembunyikan dengan baik. Mereka bertiga tumbuh atas dasar cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


Mereka bisa membaca pikiran saudara satu sama lain, karena mereka kembar dan tumbuh bersama.


__ADS_2