
Tangan gadis itu dipegangnya erat saat melihat sedikit darah membekas pada salah satu serpihan kaca itu. Daffa menariknya ke ruang keluarga mencari kotak P3k yang biasa tersimpan di sana.
"Sakit?" Tanya Pemuda itu khawatir.
"Maaf." Kata Daffa setelah melihat gadis itu menggelengkan kepala perlahan.
Pemuda itu langsung memeluk Hafsa dengan erat karena merasa bersalah. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengannya hari ini.
"Bagaimana aku bisa menjaga mu, seumur hidup ku. Hal sekecil ini saja aku membuat mu terluka." Batin Daffa.
"Kehidupan ku lebih sulit dari yang kamu bayangkan." Lanjutnya.
Pemuda itu melepaskan pelukannya perlahan. Hafsa menatap mata orang yang telah menghawatirkannya tadi.
"Kamu menangis?" Tanya seorang gadis yang mendongokkan kepala melihat mata yang sudah merah itu.
"Tidak." Jawab pemuda itu singkat.
"Mata mu merah." Kata Hafsa.
"Ketusuk dengan rambut mu itu." Kata Pemuda itu menyembunyikan kebenarannya.
Daffa sempat mengecup pucuk kepala gadis itu. Dia menciumnya dengan lembut.
Tap
Tap
Tap
Terdengar langkah kaki lebar dan cepat setelah seseorang turun dari motornya. Mereka yang sedang fokus dengan adegan romantis itu tidak mengetahui seseorang telah datang.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Sang Kakak.
"Kami tidak melakukan apapun?" Jawab Daffa salah tingkah kepergok sedang duduk berhimpitan dengan seorang gadis.
Sang Kakak dapat memastikan apa yang sedang mereka lakukan. Gadis itu jangan ditanya dia sudah salah tingkah saat Axel menatapnya yang penuh arti.
Pada saat itu tangan yang terluka itu sempat terlihat oleh Axel. Pemuda itu memang sangat peka terhadap hal yang paling kecil sekalipun.
"Kamu melukainya?" Tanya Sang Kakak setelah mendekati keduanya dan memegang jari Hafsa yang terluka.
"Tidak, aku sendiri yang ceroboh Tuan." Kata gadis itu menjelaskan setelah menarik tangannya yang dipegang oleh Tuan Axel.
"Tuan?" Kata Axel mendengar panggilan seperti itu terasa tabu dari gadis itu.
"Apa laki-laki ini belum menjelaskan pada mu?" Tanya Axel yang merasa sang adik sudah mengatakan padanya tentang status gadis itu walaupun Daffa tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
Gadis itu tidak mengerti dengan ucapan dari pemuda yang baru saja datang. Pemuda itu terlihat sangat lelah.
"Siapa tuan mu?" Tanya Axel pada gadis itu.
"Sejak kapan kamu jadi pembantu di sini?" Tanya pemuda itu lanjut.
Gadis itu menatap Axel tak percaya dengan semua yang baru saja dikatakannya. Perkataannya itu sama persis dengan Daffa kemarin.
Gadis itu melangkahkan kaki pergi ke dapur setelah berpamitan pada kedua pemuda kakak beradik itu. Hafsa sengaja segera pergi dari tempat itu karena gadis itu merasa ada yang perlu mereka bicarakan.
"Garda kemana?" Tanya Sang Kakak yang hanya dijawab oleh sang adik hanya dengan mengangkat kedua bahunya secara bersamaan yang bertanda bahwa dia tidak tahu.
"Tadi Dia bilang pulang ke kota." Jawab Garda.
"Tapi....." Lanjutnya terputus.
"Perasaan ku sejak Kak Garda pergi tadi sedikit tidak enak." Lanjutnya yang sangat panjang jadinya.
"Sudah menghubunginya?" Tanya Garda.
"Beberapa jam lalu, tetapi tidak terhubung." Jawab Kak Axel jujur.
Beberapa jam yang lalu sebelum Axel pulang ke villa dia sempat menghubungi ponsel Sang Adik tetapi tidak terhubung. Hal itu diulangi hingga berkali-kali tetapi hasilnya tetap saja nihil.
Merasa Khawatir dengan hal itu Sang Kakak memutuskan untuk meninggalkan seorang gadis yang sekarang dalam kondisi yang kurang baik. Dia lebih mementingkan keluarganya dari pada orang lain.
"Menurut mu?" Tanya Sang Adik.
"Oh tidak, jangan sampai." Kata keduanya bersamaan.
"Lalu kenapa kakak juga terlihat sangat berantakan seperti itu?" Tanya Sang Adik pada Daffa setelah berbalik menuju akan menuju anak tangga hendak mengambil ponselnya.
"Apa gadis itu menyulitkan mu?" Tanya Sang Adik.
"Sudahlah aku bisa menebaknya tidak perlu dijawab." Kata Daffa.
Sang Kakak tidak tahu lagi harus berkata apa setelah kejadian kemarin. Semua yang terjadi kemarin itu merupakan hal pertama baginya.
Sang kakak menatap punggung sang adik yang berjalan menuju kamar. Sosok sang adik yang sudah menghilang dari pandangan mata dia sendiri menuju ke ruang kerja mereka.
Daffa yang sudah turun dari lantai atas tidak melihat Sang Kakak di tempatnya tadi. Dia bisa menebak kemana dia pergi.
Sang Adik tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke ruang kerja. Pemuda yang ada di dalam ruangan itu langsung menatap orang orang yang baru saja menerobos masuk.
"Bagaimana mau coba hubungi nomornya lagi?" Tanya Daffa.
"Aku rasa bukan nomornya tapi nomor asistennya yang perlu dihubungi." Kata Kak Axel dengan mantap.
__ADS_1
"Betul juga." Kata Daffa setuju dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu sambil manggut-manggut.
Sang Kakak mencoba mencari nomor ponsel Tino pada kontak yang ada di ponselnya. Belum sempat nomor itu dihubungi ternyata sebuah pesan telah terkirim darinya tadi.
Centang dua warna hitam berarti pesan yang dikirim telah masuk tetapi belum dibaca. Pemuda itu segera mendeal nomor itu dengan segera.
"Assalamualaikum." Kata seorang gadis di seberang.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Kak Axel.
"Maaf ini siapa?" Tanya gadis itu sopan.
Panggilan itu tiba-tiba dimatikan oleh Axel tanpa salam. Pemuda itu merasa asing dengan suara yang baru saja didengar itu.
"Apa aku tidak salah dengar?" Tanya Sang Kakak pada Daffa.
"Maksut Kakak?" Tanya Daffa penasaran.
"Suara seorang gadis." Jawab Kak Axel.
"Mungkin dia sedang bersama Kristin." Kata Sang Adik menerka segala kemungkinan.
"Tidak mungkin, dia paling anti meninggalkan atau meminjamkan ponselnya pada orang lain." Kata Kak Axel menjelaskan.
"Tapi suaranya cukup halus dan tahu etika." Lanjutnya.
"Kita tunggu beberapa saat lagi untuk telepon ke nomornya." Kata Sang Adik yang ingin memastikan.
Keduanya keluar untuk makan siang di ruang makan walaupun tidak memiliki selera makan. Makanan yang sudah tersedia di sana mubadir kalau tidak dimakan.
Sang Kakak saat ini pikirannya juga bercabang antara Garda dan seorang gadis yang ada di apartemen. Daffa juga tidak berbeda jauh dari kakaknya itu.
"Kemana gadis itu?" Tanya Sang Kakak saat sudah duduk di ruang makan cukup lama.
"Maksut mu Hafsa?" Tanya Daffa tanpa menjawab pertanyaan Sang Kakak.
"Wah sudah lancar betul mengucapkan namanya." Ledek Kak Axel.
"Sudah siap sepertinya kalian untuk kejenjang lebih serius lagi." Lanjut Sang Kakak.
"Aku tahu tadi kalian berencana makan siang bersama." Kata Kak Axel terputus menebak rencana Sang Adik.
"Panggil dia kita makan bersama." Lanjutnya.
Daffa berjalan menuju dapur menghampiri gadis yang dimaksudkan Sang Kakak. Di depan pintu masuk pemuda itu melihat Hafsa yang sedang melamun.
"Apa yang sedang dilamunkannya?" Tanya Daffa dalam hati.
__ADS_1
Pemuda itu berjalan semakin perlahan masuk ke dalam dapur. Dia kini berada di hadapan gadis itu hingga Hafsa tersadar setelah beberapa saat.