Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Ketiga saudara kembar itu sekarang ini mengendarai motor mereka masing-masing. Mereka terlihat bagai prajurit yang pulang dari medan pertempuran.


Motor yang mereka kendarai dikemudikan berurutan mulai dari Sang Kakak sulung hingga adik bungsu. Saat memasuki kediaman utama ketiganya terlihat gagah seperti seorang pahlawan.


Pintu kediaman utama dibuka tanpa ada aba-aba. Semua penjaga hanya menatap kedatangan mereka. Mereka bukan heran tetapi merasa kagum dengan pemandangan yang baru saja mereka lihat.


"Om!" Pekik Si Kembar ketika ketiganya sudah menaruh motor mereka di tempat biasa.


"Kenapa tidak menghubungi ku Om?" Tanya Keponakan laki-laki mereka setelah berlari menghampiri ketiga bersaudara itu.


"Masak jeruk makan jeruk?" Jawab Om Daffa ketika melihat gadis yang masih berdiri tegap di tempatnya.


Kedua anak kembar ini sangat mirip dan memiliki watak yang sama-sama keras kepala. Tidak pernah mereka memiliki keinginan untuk dimanja.


Daffa tahu suasana hati gadis kecil yang di katakan keponakannya itu sedang tidak baik-baik saja. Pemuda itu tahu alasan untuk marah pada ketiga pamannya yang baru saja sampai di kediaman utama.


"Kamu tidak senangkah melihat ketiga paman mu datang?" Tanya Axel pada gadis kecil itu saat berjalan menghampirinya.


"Turunkan aku Om." Pinta seorang gadis yang sedang dalam gendongan Axel yang wajahnya sangat mirip dengannya.


Axel yang sangat tahu kalau gadis itu sedang tidak bisa diajak berkompromi langsung menggendongnya. Gadis kecil itu langsung menolak karena memang dia tidak pernah mau diperlakukan seperti anak kecil.


Om Axel tidak mau menurunkannya selama dia masih marah. Perlakuan seperti itu sudah sejak dahulu.


Gadis kecil itu terus saja memberontak minta untuk diturunkan dari gendongannya. Pemuda itu justru malah ingin membawanya ke sebuah taman bermain yang disana banyak pengunjung.


Kedua pasutri itu baru saja turun dari lantai atas berjalan perlahan menuruni anak tangga setelah mendengar cucu perempuan mereka berteriak. Momen seperti itu memang sejak tadi ditunggu oleh pasutri yang usianya sudah hampir lanjut.


"Kalian ingat gubuk ini setelah ingin membangun istana sendiri?" Tanya Papa dengan gaya sangat santai seperti biasanya.


"Maksud Papa?" Tanya Axel mendongokkan kepala saat kedua pasutri itu masih berada di tengah-tengah anak tangga.


"Diluaran sana bukannya kalian sudah ingin menikah?" Tanya Papa tanpa menjawab pertanyaan Anak laki-laki Sulungnya.


"Entah wanita mana yang kalian inginkan, sekarang aku pun sudah tidak begitu peduli." Lanjutnya.


"Kamu sendiri sebagai kakak laki-laki tertua memberikan contoh lari dari semua yang harus dari semua yang seharusnya." Lanjutnya.

__ADS_1


"Mengambil sebuah keputusan dengan pertimbangan yang matang bukan malah liburan ke villa." Lanjutnya lagi yang semakin panjang hingga membuat ketiga pemuda itu menundukkan kepala.


Gadis itu pada akhirnya diturunkan dari gendongan Om Axel perlahan. Dia segera berlari mendekati kedua orang tuanya yang baru saja datang menghampiri seluruh anggota keluarga yang saat itu berada di ruang tengah.


Sang Kakak yang baru saja datang tidak memberikan komentar apapun tentang semua perkataan yang di ucapkan oleh Sang Papa. Pasangan hidup untuk ketiga adiknya itu diserahkan pada mereka masing-masing.


Kakaknya Perempuan mereka mengajak kedua anak kembarnya menuju taman belakang. Dia tidak mau kedua anaknya itu tahu masalah yang terjadi pada Kakek dan ketiga Pamannya itu.


Mama melihat anak gadisnya itu terlihat sangat dewasa saat mengajak si kembar keluar dari ruangan itu. Kini yang tersisa di ruangan yang cukup besar itu hanya kaum Adam saja yang mereka semua terlihat sangat serius.


Oma tidak begitu peduli dengan semua masalah yang terjadi pada Kaum Adam kesayangannya itu. Dia yakin mereka bisa berpikir dewasa untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi.


Greeep


Sebuah tangan memegang pergelangan tangan seorang wanita yang usianya sudah hampir lanjut. Dia mencegah agar wanita itu tidak pergi dari sampingnya.


"Mau kemana sayang?" Tanya Papa pada Sang Istri dengan raut wajah teduhnya.


"Ke taman belakang menemani bermain cucu-cucu Oma." Jawab Mama.


"Sudah ada bundanya." Kata Papa menjelaskan.


"Aku juga pinginnya rumah rumah ini segera ada keributan dengan suara bayi dan anak-anak kecil." Lanjutnya.


"Mama ku sayang kalau soal itu mana bisa aku menjelaskannya sendiri pada mereka." Kata Papa masih penuh dengan harap.


"Papa itu bisa berbicara lantang dengan orang lain, bisa tegak berdiri di hadapan orang lain tetapi kenapa tidak dengan mereka?" Kata Mama.


Sang suami terus saja berharap istrinya itu berada di sampingnya. Sang Istri merupakan sumber kekuatan baginya sejak mereka kenal dan akhirnya mereka menikah.


Papa selalu saja mengajak Sang Istri dalam setiap jamuan dengan klain. Hal itu tidak luput dari pengamatan anak-anak mereka.


"Mama tidak akan lari dengan pria lain." Celetuk Daffa Si anak bungsu.


"Tutup mulut mu." Kata Papa menatap tajam pada Daffa.


"Tapi kenyataannya Papa selalu saja tidak rela jika Mama dilihat oleh orang lain." Kata Axel mencoba membela Sang Adik.

__ADS_1


"Urusi saja urusan mu." Kata Papa terputus.


"Bagaimana dengan pilihan yang aku katakan kemarin?" Tanya Sang Papa dengan sedikit menarik sudut bibirnya.


"Jika kamu sudah berani untuk kembali ke gubuk ini aku harusnya sudah bisa memastikan pilihan mu." Lanjutnya lagi sebelum mendengar jawaban Sang Putra Sulung.


"Sudah kita duduk dulu." Kata Mama mencoba menengahi para kaum Adam agar tidak tersulut emosi.


Hening


Hening


Hening


Mereka akhirnya duduk di ruang tengah dengan tenang. Suara jarum jatuh pun dapat didengar.


"Mama buat jus dulu kesukaan kalian, sepertinya sudah lama kalian tidak Mama buatkan jus." Kata Wanita Paruh Baya itu.


"Tidak perlu, Mama tetap disini." Kata Papa.


"Bagaimana keputusan kalian bertiga?" Tanya Papa pada ketiga pemuda yang sedang dalam persidangan.


"Bagaimana menurut mu?" Tanya Papa pada suami putri kesayangannya.


"Aku rasa, aku tidak berhak ikut campur dengan kehidupan mereka." Kata Alfian.


"Masa depan mereka, mereka sendiri yang menentukan." Lanjutnya.


"Bagus kak, aku senang kamu membela kami bertiga." Kata ketiga pemuda itu dalam hati.


"Aku ingin tahu keputusan kalian masing-masing." Kata Papa dengan sorot mata yang seolah-olah ingin mengetahui sebuah kejujuran dari mulut ketiga putranya itu.


Ketiga pemuda itu tahu apa yang diinginkan oleh Kedua orang tua mereka. Mereka sendiri saat ini tidak bisa memberikan sebuah jawaban yang pasti.


"Badan mu itu kenapa?" Tanya Mama sesudah berjalan menghampiri Garda dan menggerayangi badannya yang terlihat ada luka.


"Kenapa tidak memberi kabar pada kami?" Tanya Sang Mama yang semakin heboh.

__ADS_1


"Kalau terjadi apa-apa pada mu bagaimana dengan kami?" Lanjutnya lagi.


Semua yang ada di ruangan itu sekarang ini justru malah fokus pada kehebohan Sang Mama yang selalu saja menganggap ketiga putranya seperti anak kecil. Rasa khawatir walaupun itu hanya luka yang sangat ringan.


__ADS_2