
Garda yakin dan tahu tabiat adiknya walaupun semua disembunyikan dengan baik. Mereka bertiga tumbuh atas dasar cinta dan kasih sayang.
Mereka bisa membaca pikiran saudara satu sama lain, karena mereka kembar dan tumbuh bersama.
Garda keluar dari kamar Sang Adik dengan penuh harap keduanya bisa bersama tidak seperti dirinya yang tidak ada sebuah kepastian. Dia selalu bertanya dalam hati tentang penolakan keluarga tentang gadis yang dicintainya.
Ceklek
Seorang pemuda menutup pintu perlahan setelah keluar dari kamar Sang Adik dia menuju ke kamarnya. Menatap pintu kamar Daffa sebelum masuk ke kamarnya.
"Sejak dulu setiap sakit kenapa kamu sembunyikan dari kami." Batin Garda dengan membelai foto mereka bertiga yang ada ditampilan depan ponselnya.
"Menunggu parah seperti itu, jika tidak ada orang siapa yang akan menjaga mu aku tidak tahu apa yang akan terjadi." Lanjutnya dengan hati yang sedih.
Garda mengambil ponsel yang ada di saku celana sebelum melepasnya. Disana terlihat beberapa panggilan tak terjawab.
"Ada apa?" Tanya Garda sesudah menggeser aikon hijau pada layar ponselnya.
"Kamu berbicara pada ku?" Tanya orang yang ada di sebrang sana.
"Memang berbicara dengan orang hutan?" Jawab Sang Adik.
"Adik tidak punya etik." Tegur Kak Axel.
"Etik bukannya nama orang?" Tanya Garda.
"Ok...ok. berdebat sama kamu tidak akan ada habisnya." Kata Kak Axel.
Kedua bersaudara itu mengakhiri perdebatannya ditelepon. Garda menanyakan tujuan sang kakak menghubunginya tadi.
Sang Kakak ingin meminta bantuan padanya tetapi berhubung tidak segera diangkat untuk kesekian kali dia menghubungi orang kepercayaannya sendiri. Axel bukan hanya menghubungi Garda tetapi juga Daffa yang sama halnya tidak di angkat.
Pemuda itu akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi pada saudara kembarnya itu. Mereka sempat berpikir mencarikan seorang gadis yang bisa menjaga dan memahaminya.
Kedua Kakaknya itu memiliki pemikiran yang sama mengenai gadis untuk sang adik. Mereka akan menyatukan keduanya dengan rencana mereka.
"Bagaimana dengan gadis yang kemarin kamu bawa lari orang hutan?" Tanya Garda kemudian dengan bercanda.
"Siapa juga yang orang hutan?" Tanya Sang Kakak.
"Apa mata mu tidak bisa membedakan antara aku dan orang hutan? Tanyanya lagi merasa jengah.
"Aku tidak bisa melihat perbedaan antara kakak dengan orang hutan." Jawab Garda.
__ADS_1
"Sama-sama banyak bulunya disetiap tempat." Lanjutnya dengan tertawa renyah.
"Gadis yang sederhana dan tidak banyak tingkah macam-macam." Kata Sang Kakak.
"Sepertinya pantas bersanding dengan ku." Sahut Garda ingin memancing emosi Sang Kakak.
"Jaga mulut mu." Kata Kak Axel dengan intonasi tinggi.
"Baiklah biar aku carikan lakban saja." Kata Garda tersenyum penuh arti
"Kak, sepertinya kakak sudah tahu tentang gadis yang kakak sandra." Kata Garda dan akhirnya mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Pemuda yang baru saja mematikan sambungan telepon itu tahu cara kerja Sang Kakak. Dia sangat dingin lebih dingin dari kutub Utara tapi selalu cepat mendapat informasi yang akurat.
Seorang gadis seperti seorang tahanan kini terlihat sedang memikirkan sesuatu. Axel melihat itu semua dari raut wajahnya.
Pemuda yang menahan Bella takut jika dia melepaskannya sekarang para penjahat itu pasti akan membuat ulah lagi. Gadis itu terlihat sangat polos, semua tindakannya tidak pernah dipikirkan terlebih dahulu.
Fleshback
Pemuda yang sudah mendapatkan makanan serantang itu langsung pergi dari villa menuju tempat persembunyiannya. Dia menuju apartemen yang sudah didesain sebaik mungkin untuk kenyamanan dan keamanannya sendiri.
Apartemen yang sudah lumayan lama tidak dijamahnya kini terasa sangat berguna. Dia pun merasakan nyaman saat ini.
"Makanlah." Kata Axel kemudian berbalik melangkahkan kaki pergi dari ruang itu.
"Sudahlah makan sarapan mu itu." Pinta Axel setelah membalikkan badannya.
"Di luar sana ada seorang nenek yang menungguku." Kata Bella agar dilepaskan.
"Nenek itu tidak menunggu mu, aku sudah bilang padanya kalau kamu menginap di rumah teman." Kata Axel yang sebenarnya.
"Untuk saat ini jadilah seorang gadis yang penurut. Di luar sana masih banyak preman kelas teri yang mencarimu." Lanjutnya.
"Apa salah ku hingga banyak preman mencari ku?" Tanya Seorang gadis dengan polosnya.
"Kamu tidak salah dan tidak bermasalah, cuma ada yang ingin menjatuhkan orang tua mu melalui dirimu." Jawab Axel.
"Dari mana dia tahu tentang asal-usul keluarga ku." Batin Bella.
"Aku tidak peduli dengan mereka semua yang kamu pikir adalah keluarga buat ku." Kata Seorang gadis dengan intonasi yang cukup tinggi yang mengandung amarah.
"Tapi aku sendiri yang peduli." Kata Pemuda itu penuh penekanan dan keyakinan.
__ADS_1
Deg
Dua jantung itu sama-sama terkejut. Pemuda itu tanpa sadar mengatakan hal itu spontan, sedangkan Bella seperti mendapat sebuah harta karun yang sangat berharga.
Gadis itu selama ini merasa kurang diperhatikan bahkan merasa tidak diperhatikan. Laki-laki yang dipanggilnya Papa sibuk dengan pekerjaannya setiap hari, sedangkan seorang wanita yang dipanggilnya dengan sebutan Mama sibuk dengan semua urusannya sendiri.
Pemuda itu melihat sebuah kesedihan pada wajah Bella yang saat ini cantik natural tanpa polesan. Axel menepuk pundak gadis itu perlahan untuk memberikan keyakinan dan kekuatan.
Bella yang sedikit tertunduk kini menatap wajah tampan yang ada di depannya. Terbesit rasa kagum dengan ketampanan pemuda itu.
"Makanlah dengan benar, jangan pikirkan yang lain." Pinta Axel.
"Maaf di sini tidak ada makanan lain dan mungkin kamu tidak suka." Lanjutnya.
"Aku tidak ingin kamu sakit." Kata Axel lagi.
Pemuda itu melangkahkan kaki pergi dari kamar yang saat ini ditempati Bella. Kata-kata pemuda itu mampu membangkitkan kagum dan semangatnya saat ini.
Gadis itu melihat dari sorotan mata Axel yang terlihat tulus. Dia yakin tidak ada sesuatu yang disembunyikan darinya.
Bella duduk di sofa dan mulai mengambil beberapa makanan yang tersaji di meja. Gadis itu terlihat dari layar monitor masih tidak berselera makan.
"Paling tidak dia sudah mau mengisi perutnya sekarang." Batin Axel dengan senyum yang terbit di bibirnya.
"Jika sudah benar-benar aman aku akan membawa mu keluar dari tempat ini." Lanjutnya.
Waktu berlalu begitu cepat, suara Azan berkumandang memanggil umatnya untuk melaksanakan kewajibannya.
Tap tap tap
Suara langkah kaki seorang pemuda berjalan mantap menuju sebuah ruangan setelah badannya basah dengan air untuk berwudhu. Ruangan itu melewati kamar yang sekarang di tempati seorang gadis muda.
"Kamu mau pergi kemana?" Tanya seorang Pemuda yang sudah selesai berwudhu dan menabrak gadis.
"Bagaimana kamu bisa keluar dari kamar?" Tanya pemuda itu yang lupa mengunci pintu kamar gadis itu sebelum pertanyaannya dijawab.
"Maaf aku hanya ingin mencari udara di luar sebentar, tadi aku lihat kamu tidak mengunci pintu itu." Jawab Bella mengatakan apa yang sebenarnya.
"Lain kali kalau jalan lihat-lihat kalau seperti ini kau membuat ku batal." Kata Axel dengan intonasi sedikit tinggi.
"Batal apanya?" Tanya gadis itu dengan memicingkan mata tidak mengerti.
"Kita bukan mukhrim, aku tadi sudah wudhu bersentuhan bikin batal." Jelas Axel.
__ADS_1
"Kalau begitu jadikan mukhrim saja." Celetuk Bella tanpa mengetahui apa yang dia katakan.
Pemuda itu menggelengkan kepala perlahan sebelum meninggalkan gadis itu sendirian. Dia pergi untuk mengulang berwudhu kembali.