
Kedua pemuda tampan itu akhirnya berjalan dalam keramaian di taman dengan tamaran lampu taman yang terang. Banyak gadis yang bersama pasangan mereka masih saja sempat melirik ke dua pemuda kota itu.
Tidak jauh dari tempat mereka makan tadi terparkir motor milik salah satu pemuda tampan itu. Daffa mengeluarkan kunci motor yang ada di saku celananya.
Mbreeeem
Mbreeeem
Mbreeeem
Gas motor pun terdengar menggema setelah pemiliknya menyalakan mesin motor itu. Daffa mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Ketiga pemuda dari keluarga Adrean memang mereka diajarkan untuk tahu tempat. Mereka selalu mendengarkan nasehat kedua orang tua mereka.
Pemuda tampan ini mengendarai motor dengan sedang saat berada di jalan akan tetapi ketika memasuki kawasan desa ia mulai mengurangi kecepatan motornya. Berbeda saat Ia berada di kota ia selalu mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Chiiit
Terdengar suara ban motor bergesekan dengan jalan aspal. Motor tepat berhenti di depan villa besar milik sang kakak.
Villa milik kakak perempuannya yang memang sudah diatas namakan untuk kakak perempuannya itu. Kakak yang sekarang sudah memiliki keluarganya sendiri.
Kakaknya sekarang hidup sangat bahagia dengan keluarga kecilnya. Seorang pria yang sangat ia cintai yang menikah dengannya.
Sepeda motor yang kini berhenti di depan villa dan ditinggal masuk oleh pemiliknya dengan tergesa-gesa. Bram setelah turun dari motor itu hanya diam terpaku pada tempatnya.
"Perasaan ku tak enak mendengar Telp tadi." Batin Seorang pemuda yang baru saja mendaratkan pantatnya di sebuah kursi sofa yang terletak di sudut ruang keluarga tempat dimana ia sering menghabiskan waktu untuk bermain game dan televisi.
Bram menggelengkan kepalanya melihat sang sahabat yang melangkahkan kakinya secepat kilat tanpa mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ditatapnya sebuah punggung tegak yang berjalan menjauhinya itu.
Dengan langkah kaki lebar Bram menyusul sahabatnya itu. Ia pun ikut duduk di sofa itu dengan memeluk sebuah bantal.
"Dasar resek." Teriak Daffa saat salah satu bantal mengenai kepalanya. Bantal yang semula dipeluk oleh sahabatnya itu.
"Malam ini gue tidur di sini." Celetuk Bram sambil menyambar remot TV yang ada di atas meja.
"Takut pulang lu?" Tanya Daffa.
"Gak, ngapain juga takut." Jawab Bram.
__ADS_1
"Biasanya juga pulang lebih dari jam segini." Sambung Bram setelah beberapa saat terdiam. pemuda
"Benerkah dengan apa yang kamu bilang? Tanya Daffa memastikan.
"Di depan itu ya ada pohon bambu, tidak ada lampunya sama sekali. Konon katanya ada penunggunya." Jelas Pemuda pemilik hati villa itu menjelaskan.
Bram yang dengan percaya dirinya mengatakan bahwa ia berani ternyata ia pun perlahan-lahan menggeser tubuhnya karena takut. Ia merasakan sedikit merinding dengan cerita sahabatnya itu.
Hening
Hening
Hening
Suasana tiba-tiba dibuat mencekam oleh Sang Pemilik Villa yang masih muda dan sangat tampan tersebut. Daffa terus mengamati perubahan sikap sahabatnya itu.
Plak
Sebuah telapak tangan memukul bahu Bram lumayan keras. Ia pun tersentak dibuatnya seakan jantungnya mulai copot.
"Badan aja elu gedein, nyali elu ciut sekali." Ledek Daffa.
"Siapa bilang gue takut?" Elak Bram.
"Itu tu gue mau ambil remot." Kata Bram membela diri.
"Udah deh ngaku aja kenapa?" Perintah Daffa.
"Remot aja udah ditangan elu juga." Lanjut Daffa.
"Ya udah kalau elu berani gini aja elu nikmati nonton TV sendirian di sini. Gue mau tidur nyenyak di kamar gue di atas." Kata Daffa yang saat itu memang sudah mulai mengantuk.
Bang
Sebuah bantal melayang kembali di kepala Daffa. Ia pun mengelus kepalanya yang terkena lemparan benda itu.
"Tega elu ya ninggalin gue di sini. Ini Villa mah terlalu besar." Kata Bram.
"Tunggu." Pinta Bram sedikit berlari mengejar sahabatnya itu.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kamar milik Daffa. Entah apa yang mereka bicarakan dalam perjalanan itu tidak akan pernah ada habisnya.
Ceklek
Pintu kamar pun dibuka oleh empunya kamar secara perlahan. Sering kali ia tidak tidur di kamarnya jika ada di Villa sendirian.
Pemuda ini lah yang lebih sering mengunjungi Villa. Bersenang-senang melepaskan rasa lelahnya selama di kampus ia belajar.
Rapi seperti biasanya bahkan terlihat sangat bersih walaupun jarang ia tidur di kamarnya. Asisten rumah tangga yang bekerja di Villa itu memang tahu apa yang harus mereka kerjakan.
Pemuda tampan itu merebahkan tubuhnya di bed yang cukup besar. Dilihat sahabatnya itu ikut merebahkan tubuhnya juga di tempat yang sama hingga terjadi pertengkaran yang singkat.
"Heh elu mau tidur di sini juga?" Tanya sang pemilik kamar melihat sahabatnya yang sudah merebahkan badannya pada bed miliknya.
"Ya iya lah mau tidur dimana lagi kalau bukan di sini." Jawab sahabatnya itu.
"Tempat tidur ini kan cukup luas." Jelasnya.
"Pindah elu dari sini!" Perintah Daffa yang merasa tidak nyaman karena memang selama ini ia tidur sendirian.
Sahabat Bram tidak memperdulikan apa yang dikatakan sang pemilik kamar. Ia sudah terlelap setelah menolak permintaan sang pemilik.
Bram memang orang yang mudah sekali tidur ketika sudah berhadapan dengan yang namanya tempat tidur beserta perlengkapannya. Ia adalah sahabat yang baik bagi pemilik kamar dan bahkan mudah sekali bergaul dengan siapapun.
Ketiga kakaknya pun cukup dekat dengan sahabat anak terakhir dari keluarga Adrean ini. Pemuda ini memang memiliki daya tariknya sendiri.
Mengetahui Bram yang sudah terlelap dalam mimpi indahnya itu, sang pemilik kamar tidak jadi tidur alias gagal memejamkan matanya. Ia merasa tidak nyaman jika harus berbagi ranjang dengan orang lain termasuk sahabatnya sendiri.
Daffa pun memutuskan untuk mencari udara segar tanpa harus keluar kamar. Ia pun berjalan menuju balkon dan duduk di kursi yang memang sudah ada di balkon itu.
Ia berdiri mendongokkan kepalanya melihat bintang-bintang yang bertebaran. Puas melihat cerahnya langit yang bertabur bintang ia pun keluar dari kamarnya.
Kerongkongannya terasa kering hingga ia menuju dapur dan membuka mesin pendingin. Ia mengambil beberapa minuman dingin dan dibawanya ke kamar.
Minuman-minuman itu diletakkan di atas meja dekat sofa kamarnya. Daffa pun kembali menuju balkon duduk di sana dengan membawa sebotol minuman.
Entah mengapa malam ini ia tidak bisa tidur. Apa yang dipikirkannya pun ia tidak tahu.
Terasa tatapan kosong jauh ke depan melihat pedesaan yang sangat damai. Suara hewan seperti jangkrik dan katak pun terdengar sampai ketelinganya.
__ADS_1
Penduduk di sekitar villa itu ketika matahari mulai terbenam mereka bercengkrama dengan keluarga mereka. Sungguh hangat dengan kekeluargaan yang ada pada mereka.
Suasana yang sungguh sangat berbeda dengan ramainya Ibu Kota. Tengah malam pun terdengar berbagai macam aktivitas penduduk kota yang mencari materi untuk hidup.