Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Gadis Natural Sudahkah Kamu Memiliki Kekasih?


__ADS_3

Perlahan Gadis itu menghapus jejak butir air mata yang mengalir begitu saja sebelum ketahuan Sang Bunda. Berhasil mengontrol dirinya Yasna melepaskan pelukannya itu.


Gadis itu meminta maaf pada Bunda Azka karena prasangka buruknya. Perasaannya menjadi sensitif jika ada yang mengatakan tidak ada kemiripan dengan Sang Bunda.


Di Dalam Villa


Dua orang pemuda baru saja datang dari pintu utama. Mereka berdua datang dengan penampilan yang sangat berbeda.


Daffa datang dengan membawa banyak keringat di tubuhnya sedangkan kakaknya Garda datang dengan penampilan yang masih sama pada waktu dia keluar tadi. Bibi yang masih berada di depan sedang membersihkan ruang tamu menyambut mereka dengan kepala tertunduk sebagai tanda hormatnya.


Kedua orang itu sekarang itu berbagi tugas agar lebih cepat mereka selesai mengerjakan pekerjaan mereka. Hafsa tidak ingin membebankan segala sesuatunya kepada wanita paruh baya itu.


Gadis itu sedang menata sarapan untuk kedua tuan yang baru datang itu. Entah mereka pergi kemana pun gadis itu mencoba tidak peduli.


Pemuda yang kaos olah raganya sudah basah dengan keringat berhenti sejenak di ruang makan. Ruangan itu memang sedikit terbuka tidak hingga semua aktivitas di sana mudah terlihat dari pintu atau kaca yang penghalang yang membatasi ruangan itu.


"Apa dia sudah punya kekasih?" Tanya Daffa menatap jelas wajah polos nan-natural itu dalam hati.


"Rasanya sayang kalau Hafsa jadi milik orang lain." Lanjutnya."


Daffa sedikit berlari menuju kamarnya hingga menimbulkan sebuah suara dari ruang tamu hingga kamarnya. Suara langkah kaki itu mampu menarik perhatian seorang gadis yang sedang berada di ruang makan menata beberapa menu makanan.


Sang kakak melihat interaksi keduanya yang tidak pernah disangkanya. Dia tidak menyangka kalau Daffa tidak berani mengungkapkan perasaan yang ada pada dirinya sekarang pada gadis yang polos seperti itu.


Hafsa kembali menata menu untuk sarapan setelah melihat sosok pemuda tampan yang baru saja menarik perhatiannya. Gadis itu berusaha menjaga hatinya takut hatinya akan tersakiti sendiri.


"Sepertinya enak." Kata Garda menebak dari aroma menu sarapan pagi untuk mereka sambil berjalan mendekat ke ruang makan.


"Dari kami bertiga yang ijin untuk sarapan adalah Kak Axel jadi makanan nantinya banyak yang tidak termakan jadi makanlah bersama kami berdua kali ini." Lanjutnya setelah melihat meja yang sudah ditata dengan rapi dan dipenuhi dengan banyak makanan.


"Eh Tuan Garda." Kata Hafsa terkejut karena ketidaktahuan atas kedatangan pemuda itu.


"Maaf Tuan, saya tidak bisa." Tolak Hafsa sopan.


"Kenapa tidak bisa?" Tanya Garda.


"Aku tahu kamu bukan gadis biasa." Lanjutnya terputus ingin melihat reaksi gadis itu.


"Justru aku jadi takut suatu saat kamu berubah memiliki status yang lebih tinggi dari kami." Lanjutnya setelah gadis itu terlihat hanya diam saja.

__ADS_1


"Maksut Anda?" Tanya gadis itu sopan dan mencoba menenangkan diri.


"Walaupun kamu sering melakukan pekerjaan rumah tangga tapi dengan melihat kulit dan cara mu merawat diri aku bisa menebak dari semua itu." Kata Tuan Garda.


Pemuda itu tersenyum dengan menarik sedikit sudut bibir ke atas. Pemuda itu akhirnya membalikkan badan dan pergi dari ruang makan itu pergi ke kamarnya sendiri.


Gadis yang ditinggalkan di ruang makan itu mencoba untuk tenang. Hafsa melanjutkan aktifitasnya dengan pekerjaannya itu walaupun sudah digertak oleh Tuan Muda Garda.


"Ikutlah sarapan bersama mereka." Kata Sang Bibi yang datang tiba-tiba hingga mengejutkan Hafsa.


"Jangan merasa tidak enak dengan kami." Lanjutnya terjeda.


"Justru kami takut kalau kamu nanti kena marah atau hukuman dari mereka." Lanjutnya untuk meyakinkan gadis itu.


"Terimakasih Bi." Kata Hafsa tau kekhawatiran wanita itu.


Gadis itu telah selesai dengan ritualnya di ruang makan. Kini dia sedang membersihkan tangannya di wastafel yang ada di dapur.


Garda yang sedang memberikan kesibukan pada dirinya sendiri tiba-tiba merasa kesepian sendiri. Pemuda itu sudah memastikan pilihan kedua saudaranya itu.


"Mereka berdua pastinya akan sibuk dengan gadis mereka masing-masing." Katanya lirih.


"Kenapa kau harus meninggalkan ku, aku akan berusaha meyakinkan keluarga ku." Lanjutnya dengan suara yang sedih.


Pemuda itu larut dalam kesedihannya karena Sang Pacar tidak yakin akan bersamanya. Keluarga yang keduanya tidak saling mendukung hubungan mereka.


Ting


Notifikasi pesan masuk dari seorang gadis yang baru saja terlintas dipikirannya. Bersamaan dengan pesan itu juga pemuda itu jadi berpikir kalau mereka berjodoh.


Isi Pesan:


Bagaimana kabar mu sayang? ~ Tanya seorang gadis di seberang.


Baik. ~ Jawab seorang pemuda singkat yang baru saja terbangun dari lamunannya.


Kamu tidakkah kangen dengan ku? Tanya gadis di sebrang.


Bagaimana aku tidak kangen dengan gadis secantik diri mu. ~ Balas Garda yang memang tidak bisa merayu.

__ADS_1


Bagaimana kalau kita ketemuan? ~ Pinta gadis itu.


Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. ~ Lanjutnya.


Baik, tapi sekarang ini aku sedang pulang ke desa. ~ Kata Garda.


Tidak masalah, aku akan menunggu mu. ~ Kata seorang gadis.


Kalau sudah sampai tolong kabari aku. ~ Lanjutnya.


Hati-hatilah, jaga kesehatan mu. ~ Katanya lagi sebelum pesan itu di tutup.


Pemuda yang ada di Villa itu merasa menghangat hatinya setelah mendapatkan pesan dari Sang Kekasih. Dia merasa sangat diperhatikan walaupun hanya melalui sebuah pesan.


"Hah desa?" Tanya gadis itu dalam hati setelah mengirim pesan pada Garda.


"Ternyata semua keputusan untuk ku dari mereka tidak salah." Lanjutnya.


"Mau jadi apa aku kalau sampai menikah dan hidup di sana." Katanya lagi.


Mereka merasa saling suka pada saat pertama mereka bertemu. Pada akhirnya mereka saling merasa cocok dan berpacaran.


Keduanya bertemu saat masuk kampus saat pendaftaran sebagai mahasiswa baru. Seiring berjalannya waktu hubungan mereka diketahui oleh kedua belah keluarga masing-masing.


Gadis itu berpacaran dengan Garda pada awalnya memang hanya sebatas bermain-main. Dia tahu mahasiswa yang masuk di universitas itu berasal dari keluarga kelas atas.


Garda yang paling dekat dengannya hingga dia pada mulanya hanya mempermainkannya dengan meminta semua barang branded. Pemuda itu tidak pernah sekalipun memberikan semua yang gadis itu minta.


Gadis itu mulai curiga karena Garda kekasihnya tidak pernah punya waktu tiap kali diajaknya keluar untuk berbelanja barang yang diinginkannya. Pemuda itu juga selalu menjawab apa adanya kalau dia sedang bekerja.


Pemuda itu menutup pesan dari kekasihnya itu kemudian berjalan menuju keluar dari kamar dengan hati yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Perasaannya sangat senang hati yang ditunggu akan segera datang.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


Seorang pemuda mengetuk pintu kamar Sang Adik saat melewatinya. Pemilik kamar sedang melamunkan dan memikirkan seorang gadis.

__ADS_1


Daffa yang sedang berendam di dalam backtub menggunakan air hangat merasa sangat nyaman. Panggilan dari Sang Kakak hingga tidak terdengar saat dia memejamkan matanya saat ini.


__ADS_2