Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Gadis Nakal


__ADS_3

Kalaupun memang ada orang lain yang tahu ya anggaplah sebuah nasib buruk baginya. Daffa untuk waktu ini juga tidak berani keluar dari dalam villa.


Pemuda itu meninggalkan kamar Yasna tanpa ada jawaban darinya. Ia yakin bahwa gadis itu tidak akan bermulut ember.


Pemuda itu kini menuju ruang tamu berdiri menghadap ke jendela melihat alam sekitar dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia sungguh menikmati kejadian hari ini yang sangat diluar dugaannya.


Perasaan seperti apa yang dimiliki oleh pemuda itu terhadap Yasna hanya dia sendiri yang tahu. Ia ingin menghormati gadis yang tadi diajaknya untuk meluapkan rasa yang mendongkol di dalam hati gadis itu.


Gadis yang berbeda dengan semua gadis yang pernah Pemuda itu kenal. Gadis ini memang memiliki temperamen yang unik.


Daffa yang sekarang sedang terhanyut dalam pikirannya sendiri kini ia sudah mulai sadar. Ia pun berbalik dan menuju sofa karena kakinya sudah merasakan capek.


Diraba kantung celana mencari sesuatu yang selalu Pemuda itu bawa kemanapun. Satu alat dengan berbagai fungsi yang bahkan orang lain tak tahu fungsi lainnya.


"Assalamualaikum." Sapa Daffa kepada orang yang ada disebrang setelah mendapatkan benda pipih dan mendeal sebuah nomor.


"Wa'alaikumsalam." Balas salah seorang pemuda yang sedang membicarakannya.


"Baru ingat sama kakak elu yang paling tampan sejagat raya ini." Kata Garda membanggakan diri sendiri.


"Ingetlah, sama cowok yang paling tampan sejagat raya yang dipenuhi tumbuhan liar." Balas Daffa.


"Kamu tadi sama seorang gadis kan?" Tanya Axel setelah merebut benda pipih yang berada di tangan Sang Adik yang bersamanya.


"Ya." Jawab Daffa singkat saat pandangannya mendapati sesosok gadis cantik menghampirinya.


"Tadi pagi aku sempat bertemu dengannya itu sih kalau aku gak salah lihat." Jelas Axel.


"Oh." Timpal Daffa yang sangat praktis.


"Ya biasa salah paham." Kata Axel menjelaskan.


"Panjang umur sepertinya." Kata Daffa saat pembicaraan itu ada pihak lain yang sedang berdiri dekat anak tangga dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?" Tanya Axel.


"Makhluknya baru dibicarakan sudah terpampang di depan mata." Jelas Daffa.


"Bagaimana tidak panjang umur kalau ada seorang pemuda seperti mu pasti selalu menjaga setiap gadis cantik." Canda Garda.


"Sudah lha ke dua kakak ku sayang. Kali ini aku ikhlas bukan karena dia gadis cantik." Jelas Daffa.


"Huek." Keduanya seperti mau muntah mendengar perkataan dari sang adik karena tidak percaya.

__ADS_1


"Kalau kalian tak percaya ya sudahlah aku tutup saja telponnya." Ancam Daffa.


"Wassalamualaikum." Ucap salam Daffa sebagai penutup.


"Wa'alaikumsalam." Jawab kedua kakaknya bersamaan.


Thing


Benda pipih yang dipegang Daffa pun berbunyi tidak lama setelah ia menutup telponnya. Pemuda itu segera membuka isi pesan tersebut.


"Lebih bagus kamu segera menutup telponnya takutnya dengan berbincang terlalu lama akan mengganggu kencan mu." Isi pesan dari kedua kakaknya.


Pemuda yang berada di villa pinggir pantai tadi segera menyusul Yasna yang tadi kembali ke dalam kamar setelah melihatnya sedang bercakap-cakap ditelpon. Pintu kamar itu terbuka lebar walaupun seperti itu ia tetap mengetuk pintu sebelum masuk.


Gadis itu tadi meninggalkan Daffa saat menelpon seseorang. Ia tidak ingin mengganggunya saat itu dan merasa tidak enak jika terus berada di sana mendengarkan pembicaraan yang memang bukan urusannya.


Sebuah rumah di desa kini seorang wanita paruh baya sedang menunggu anak gadisnya pulang dengan penuh rasa khawatir yang teramat sangat. Rasa kekhawatirannya itu mulai muncul saat anak gadisnya pergi dari rumah dengan rasa amarah yang tidak beralasan.


"Kemana ini anak waktu sudah hampir larut malam kenapa belum terlihat batang hidungnya." Batin Bunda Azka mencoba menenangkan dirinya.


Melihat Bunda Azka yang tampak khawatir kakek mencoba menenangkan wanita paruh baya yang sangat penuh kasih itu. Kakek tidak pernah melihat Bunda Azka yang begitu khawatirnya.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Ada sedikit rasa senang karena sang anak menghubunginya tetapi ada rasa jengkel di hatinya karena membuatnya sangat khawatir.


Anak gadis satu-satunya yang bersamanya saat ini. Bunda tak ingin kehilangan buah hatinya itu, tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padanya.


"Assalamualaikum." Ucap salam seorang gadis tampak merasa bersalah.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Orang yang ada di sebrang telepon.


"Maaf Bun, aku tidak bisa pulang." Katanya gadis itu lirih.


"Kanapa hem?" Tanya Bunda.


"Sekarang kamu memang anak gadis yang paling cantik yang selalu main kabur-kaburan atau petak umpat saat marah kan?" Tanya Bunda yang panjang kali lebar yang memang tak terbatas.


"Kali ini tidak seperti itu Bun." Jelas Yasna.

__ADS_1


"Lalu?" Tanya Bunda.


"Aku terjebak." Kata Yasna terpotong.


"Alasan." Kata Bunda yang memotong kata-kata Yasna.


"Ya.... ya.... ya. Anak gadis ku sekarang memang sudah dewasa sudah bisa beralasan." Cerca Sang Bunda karena memang sejak tadi sangat khawatir dengan kondisi anak gadisnya yang belum pulang dan tanpa berpamitan tidak seperti biasa yang selalu minta ijin darinya.


"Aku tak bisa pulang sekarang karena alam yang sedang tidak bersahabat." Jelas Yasna kemudian.


"Aku janji aku akan berusaha menjaga diriku sendiri." Lanjutnya.


"Ya sudah Bun sudah larut, lekas tidur jangan banyak begadang memikirkan anak gadis mu yang nakal ini." Kata Yasna yang hampir saja meneteskan air mata.


"Wassalamualaikum." Salam penutup yang diucapkan oleh Yasna dengan rasa bersalah membuat sang Bunda cemas.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Bunda Azka dengan sangat kecewa.


Pemuda pemilik villa ini setelah selesai menghubungi kedua saudaranya itu langsung menuju dimana gadis itu malam ini tidur. Langkahnya terhenti saat mendengar suara gadis itu menghubungi seseorang.


Daffa pun menunggu gadis itu selesai berbincang di telpon. Hatinya menghangat seketika mendengar perbincangan itu dari luar dengan menyandarkan punggungnya pada tembok yang cukup dingin.


Daffa sempat mendengarkan gadis itu berbincang dengan seseorang. Ia tahu pasti memberikan kabar pada Sang Bunda yang saat ini karena tidak ingin sang Bunda merasa khawatir.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


Suara sebuah pintu diketuk seseorang dari luar membuatnya terkejut seusai teleponnya di tutup. Yasna membalikkan badannya melihat siapa yang datang.


Pemuda itu masuk setelah dipersilahkan oleh orang yang ada di dalamnya mengijinkannya walaupun itu adalah villa miliknya. Ia tidak mau membuat gadis itu merasa tidak nyaman.


"Jika kamu capek istirahatlah dan tutup pintunya dengan benar." Kata Daffa dengan perhatian.


"Tutup pintu dengan benar? Apa maksudnya?" Batin Yasna dengan mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.


"Baiklah." Jawab gadis itu singkat.


"Aku akan memanggil mu jika makan malam sudah siap." Kata Daffa lagi.


Pemuda itu pun keluar dari dalam kamar yang digunakan Yasna untuk tidur malam ini. Ia menuju dapur dan mulai berkutat di sana.

__ADS_1


Apa saja bahan yang ada di lemari pendingin sudah tersedia lengkap. Beberapa macam makanan selesai di masaknya.


__ADS_2