
Kedua kakaknya sudah masuk ke dalam pasar yang agak basah seperti lumpur. Daffa masih baru saja sadar dari keterpurukan yang terbilang tidak seberapa itu.
Membela seorang gadis tidak biasa dilakukanya, apalagi gadis itu baru saja dikenalnya. Mengingat gadis yang baru saja bertengkar dengannya itu dia merasakan sesuatu yang berbeda.
Gadis itu terlihat mirip dengan seseorang dan anehnya orang itu seseorang yang memiliki sifat keibuan. Daffa lupa dengan wanita paruh baya itu, tetapi gadis ini memiliki sifat yang sungguh sangat berbeda.
Pemuda itu bisa melihat dari penampilan Bella yang memakai semua yang ada di badannya itu dengan harga yang tidak sedikit. Daffa bisa menebak bahwa dia berasal dari keluarga yang sangat kaya dan terpandang.
"Apa yang terjadi dengan adik kita? Tanya Axel mulai khawatir.
"Benar lama amat, tadi aku lihat dia mengikuti kita tapi sampai sekarang belum balik." Kata Garda.
"Atau jangan-jangan dia memang benar-benar putus asa dan bunuh diri." Kata Axel.
"Ngawur!" Balas Garda dengan mengambil sayuran hijau yang ada di dekatnya memukulkan pada kepala Sang Kakak.
"Hai anak muda aku bisa rugi kalau sayuran itu ini kamu pakai buat pukul orang." Kata seorang Bapak menjual sayuran tadi yang diambil Garda dengan marah.
"Maaf-maaf Pak saya khilaf." Kata Garda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Terus Gimana dong Pak?" Tanya Garda.
"Ya ganti rugi." Kata Si Bapak Penjual
__ADS_1
"Berapa saya harus ganti rugi Pak?" Tanya Garda.
"Rp 60.000,00." Jawab Si Bapak Penjual singkat.
"Mahal amat sih Pak?" Keluh salah seorang ibu-ibu yang berbadan gemuk.
"Kemarin aja cuma cuma Rp 6000,00." Kata seorang ibu-ibu lain dengan sewot.
"Ya udah gak jadi beli saya, kalau semahal itu." Lanjut seorang ibu mencoba membantu kedua pemuda tampan itu untuk mendapat perhatiannya.
Garda meraba saku celana mencari sebuah dompet miliknya. Berkali-kali dia memasukkan tangannya pada saku celana bergantian tetapi tidak ditemukan.
"Makanya jangan pukul orang pakai sayuran orang lain." Ledek Sang Kakak dengan tersenyum smirk karena melihat gelagat adiknya yang sedang mencari sesuatu di semua saku celana pastinya dompet yang berisi uang.
"Itu cuma Rp 6000,00. Bu." Jawab Bapak penjual sayur.
"Ini sudah saya beli, jadi tidak usah minta ganti pada mereka." Kata Bunda Azka setelah memilih membayar dan mengambil sayuran tadi.
Bunda Azka berpura-pura memilih sayuran dan sebenarnya sudah mengintai sayuran yang sudah rusak akibat ulah Daffa. Dia punya caranya sendiri untuk menyelesaikan pertikaian yang baru saja terjadi.
Wanita paruh baya itu membayar sayur yang rusak dan segera pergi untuk membeli bahan kebutuhan lain untuk dimasak. Dia membelinya juga sayuran itu masih bisa dimasak jadi tidak menyia-nyiakan sayuran itu.
"Wah, ternyata wanita itu tidak berubah ya? Tanya seorang emak-emak yang melihat Bunda Azka membantu pemuda tadi.
__ADS_1
"Ada sasaran empuk laki-laki yang masih muda alias brondong ternyata juga mau." Lanjutnya dengan sinis.
"Bener, sepertinya dia tidak berubah cari laki-laki sebagai mangsa apa lagi yang terlihat kaya." Kata seorang emak-emak lain.
"Dulu sampai punya anak gadis pasti kelakuannya juga sama." Kata yang lainnya
"Bener katanya dia temen sekelas anak ku dulu, kelakuannya juga sama." Kata emak-emak yang lain.
Kedua pemuda itu mendengarkan semua nyanyian emak-emak yang suaranya seperti kaleng rombeng. Pasar yang penuh dengan berita terkini mudah didapat.
Pemuda tampan itu hanya melihat sebuah kesederhanaan pada wanita paruh baya yang membantunya diam-diam. Wanita itu memakai pakaian yang lebih sopan dari mereka yang memperbincangkannya tadi.
Jadi apa sebenarnya permasalahan pada wanita itu? Keduanya sempat melupakan sang adik bungsu saat memikirkan wanita yang membeli sayuran yang sudah rusak tadi.
💗💗💗💗💗💗
Terimakasih yang sudah baca Novel: Beda-beda Tipis.
Dukung terus dengan Like & Votenya.
Selamat Beraktifitas.
🙏🙏🙏🙏
__ADS_1