Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Dokter


__ADS_3

Menuju kamar Sang Kakak Daffa berpapasan dengan Kakaknya Garda. Niatan Daffa mau melihat keadaan Hafsa malah Garda pergi dari sana. (Ganti shift jaga pasien kah?)


"Mau kemana Kak?" Tanya Daffa.


"Ambil ponsel." Jawab Sang Kakak.


"Sudah sadar itu gadis?" Tanya Daffa.


"Belum." Jawab Garda singkat."


"Kenapa ditinggalin?" Tanya Daffa.


"Ambil ponsel hubungin dokter keluarga kita." Jawab Garda sambil lalu menuju kamar Sang Kakak.


"Perhatian amat." Kata Daffa melangkah menuju kamar dimana gadis itu tidur.


Ketiga pemuda pemilik villa ini tidak pernah basa basi dalam segala hal sejak tindakan dilakukan dengan segera tanpa menunda waktu. Apa untungnya ketika darurat justru akan menambah masalah baru.


Chiiiiiit


Suara ban mobil bergesekan dengan tanah terdengar oleh orang yang ada disekitar sedang melakukan aktivitas mereka. Mereka pun melihat ke arah mobil yang baru berhenti itu.


Siapa yang datang?


Asing sekali?


Pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikiran mereka hampir sama seperti itu. Karena masyarakat sekitar selalu peduli dengan warga lainnya.


Mereka melihat seorang Wanita yang cantik keluar dari mobil merah itu. Ditangannya bersampir sebuah jas putih.


Semua orang tahu hanya dengan melihat jas yang belum terpasang di badan itu adalah jas seorang Dokter. Dokter itu berniat akan keluar dari dalam mobil itu akan tetapi ia tidak jadi setelah melihat ada sesosok pemuda tampan yang keluar dan memberikan kode untuk membuka pintu gerbang.

__ADS_1


Penjaga gerbangpun membukakan pintu gerbang itu dengan sedikit tergesa-gesa. Melihat mobil yang baru datang sudah masuk ke pekarangan villa Axel segera berbalik.


Kedua adiknya berpapasan dengan Axel saat keduanya ingin mengetahui orang yang baru saja datang. Kedua adiknya tak menyangka Axel sang kakak bergerak lebih cepat dari mereka.


Dokter Mawar pun langsung masuk setelah keluar dari mobilnya. Ia tidak sempat bertanya lebih jelas mengenai orang yang sedang sakit.


Ketiganya terlihat sangat sehat dan segar. Akhirnya dokter itu diantar pada sebuah kamar yang terletak di belakang villa tersebut hingga ia baru paham.


Wanita Paruhbaya sudah terlihat sangat cemas saat menunggu gadis yang badannya sangat demam. Terlihat dari luar wanita itu sedang mengompres kening seorang gadis.


Panas tubuh gadis itu membuat warna kulit Hafsa menjadi merah gelap. Dokter itu pun segera masuk ke kamar karena memang kamar itu tidak tertutup.


Tubuh mungil itu tertutup oleh selimut hingga lehernya. Dokter Mawar mulai memeriksa gadis itu sedangkan ketiga pemuda itu pun berada di ambang pintu.


Kakak mereka segera melangkahkan kaki pergi menjauh dan menuju ruang tamu. Saat Axel pergi dari sana kedua adiknya tak ada yang tahu.


Di ruang tamu Axel mengotak atik benda pipih miliknya sambil menunggu dokter itu selesai memeriksa gadis yang sedang mengalami demam di villa milik mereka. Wajah yang serius terlihat sangat jelas pada wajah dinginnya.


Kedua saudaranya yang masih berada di depan pintu itu memandang dokter itu saat pemeriksaan hingga selesai. Dokter membereskan semua peralatan yang dipakai untuk pemeriksaan tadi kedalam tas miliknya kemudian langsung melangkah pergi.


Dokter itu tahu sedang ditunggu oleh Axel di ruang tamu. Ia langsung menuju ke ruang tersebut bersama dengan kedua adik Axel.


Semua anak laki-laki yang sedang duduk di ruang tamu tersebut menunggu penjelasan dokter itu sedikit agak cemas. Walau bagaimanapun juga gadis yang terbaring sakit itu di situ sendirian.


"Bagaimana Dok?" Tanya Axel dingin yang memang sejak jaman dulu kurang menyukai dokter itu.


"Tidak ada yang serius." Jawab Dokter Mawar.


"Ini resepnya obatnya." Lanjutnya meletakkan selembar kertas berisi obat yang harus ditebus di apotik pada meja.


"Terimakasih Dokter, saya rasa sudah selesai silahkan dokter kembali ke rumah sakit." Kata Axel yang mengandung kalimat mengusir dokter tersebut.

__ADS_1


Dokter Mawar segera beranjak dari kursi mengambil tasnya dan berbalik berjalan meninggalkan villa itu. Ia tahu kalau ketiga anak laki-laki itu tidak begitu menyukainya.


Tidak seorang pun mengantar dokter Mawar sampai depan pintu. Dalam hatinya sudah semakin jengkel diperlakukan dingin oleh mereka.


Keinginan hati memanfaatkan paling tidak salah satu dari ketiganya untuk mencapai tujuannya itu. Akan tetapi sangat bertolak belakang dengan apa yang diharapkan.


Ketiganya selalu saja menjauh saat Dokter Mawar ingin mendekati mereka. Apapun telah dilakukan agar dekat dengan mereka.


Kegagalan terus saja mengikutinya, sepertinya ketiga pemuda itu sudah tahu rencana dokter Mawar yang akan menjerat Sang Papa.


Sepeninggalan Dokter itu yang meninggalkan selembar kertas kecil mampu menarik perhatian ketiga pemuda yang sekarang berada di ruang tamu. Seperti anak-anak, ketiganya memperebutkan selembar kertas yang berisi resep dari dokter yang memeriksa gadis yang sedang sakit di dalam villa itu.


Kakak Sulungnya mencoba meraih kertas itu secepat kilat padahal tangan kedua adiknya juga sudah hampir mendapatkannya. Keduanya semakin mengalah saat melihat Sang Kakak tidak pernah sedikitpun perhatian pada seorang gadis.


Gadis kali ini sepertinya mampu menciptakan sebuah percikan yang mampu menyalakan api dihati Sang Kakak. Pada akhirnya kedua adiknya yang mengalah karena mendapat tatapan yang cukup membuat orang lain takut padanya.


Keduanya bisa mengalah karena mereka bisa melihat adanya perbedaan perlakuan dari Kakak sulungnya pada setiap gadis sangat dingin. Gadis kali ini sungguh diperlakukan sangat berbeda olehnya.


"Ya sudahlah Kak Axel aja tu yang pergi ambil resepnya." Kata Daffa.


"Jangan khawatir ada kita di sini menjaganya, nanti kalau ada apa-apa aku langsung menghubungi mu Kak." Kata Garda.


Axel tidak mempedulikan kata kedua adiknya itu. Ia langsung mengambil kunci yang terletak di tempat biasa.


Mereka tidak pernah membawa kunci mobil atau pun motor di saku mereka bahkan disembarang tempat. Hal ini memiliki tujuan agar mereka bisa menggunakan mobil dan motor mereka tanpa harus lupa tempat menaruh kunci tersebut.


Mereka semua lebih mudah menggunakannya akan tetapi setiap kali menggunakan tidak lupa mereka meminta ijin pada pemiliknya. Setiap asisten rumah tangga di sana tahu letak kunci ditaruh tetapi mereka tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan diri mereka sendiri.


Semua kebutuhan Asisten rumah tangga semua terpenuhi dengan baik jadi mereka tidak punya alasan untuk mencuri barang-barang di villa. Apalagi setiap mereka punya masalah pastilah mereka dibantu oleh pemilik villa tersebut.


Lebih baik bagi mereka untuk bilang meminjam pada orang yang mempekerjakan mereka. Baik dari mobil maupun motor yang khusus untuk digunakan oleh semua asisten juga sudah disediakan hal ini untuk mempermudah mereka saat tidak ada Sang Pemilik villa.

__ADS_1


Seorang sopir juga sudah diperkerjakan oleh Adrean. Ia tahu bahwa tidak semua orang bisa menggunakan alat transportasi. Lagi pula dengan adanya sopir mobil ataupun motor bisa digunakan di saat yang bersamaan untuk kepentingan orang berbeda.


Semua penghuni villa sudah dianggap seperti keluarga oleh semua keluarga Adrean. Biarpun seperti itu diantara semuanya tidak ada yang berani nglunjak karena rasa hormat mereka sudah dihargai sebagaimana sebuah keluarga.


__ADS_2