
Pagi ini Sang kakak berencana untuk menyusul Daffa di Villa. Mereka berempat memang tidak pernah bisa untuk berpisah lama.
Kicauan burung dipagi ini membangunkan Seorang Pemuda tampan yang terlelap di atas sofa dengan berpelukan dengan sebuah ponsel di dadanya. Baru pukul 04.00 ia bisa memejamkan matanya setelah melakukan sholat subuh.
Baginya pemuda ini cukup bangun kesiangan karena matahari yang memang sudah mulai beranjak naik. Tidak pernah bangun sesiang ini saat ia berada di rumah utama.
"Kemana si curut itu?" Tanya Pemuda yang baru bangun berjalan hendak mengambil handuknya menuju kamar mandi dalam hati.
Tempat tidur miliknya sudah rapi tak ada seorang makhluk yang ada di sana tadi malam. ART di Villa yang merapikan kamar sangat pagi sekali.
Meskipun semua pemilik Villa hampir semua pria tapi mereka tidak memiliki rasa malu ataupun enggan untuk membersihkan kamar mereka. Buat mereka kamar pribadi merupakan sebuah privasi.
"Kamar ku sudah rapi sekali tidak mungkin di curut itu yang membersihkannya." Batin sang pemilik kamar.
Pemuda tampan itu menuju kamar mandi hendak membersihkan diri. Dilanjutkan seperti biasanya selesai membersihkan dirinya ia mengganti baju dengan kaos olah raga.
Itu semua adalah ritual Daffa setiap hari. Dimana pun rumah ataupun villa milik keluarganya pasti lengkap dengan ruang olahraga dan berbagai fasilitasnya.
Lengkap dengan semua perlengkapan olahraga ia turun dari lantai atas menuju dapur hendak meminum segelas air hangat. Bram terlihat sangat menikmati sarapannya di meja makan saat pemiliknya memindai melihat sekilas.
"Selamat pagi Den." Sapa salah seorang ART yang mengurusi Villa itu.
"Mau disiapkan sarapannya yang sama seperti Den Bram?" Lanjutnya.
"Gak Usah Bik. Terimakasih." Jawab Daffa sopan.
Pemuda yang hendak melakukan ritual lainnya setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian olahraga itu pun menuju dapur dan menyiapkan segala keperluannya sendiri. Ia mengambil air putih hangat kemudian berjalan menuju ruang makan.
Pemuda ini duduk bersama sahabatnya yang bersamanya tadi malam. Setelah menempatkan pantatnya pada posisi yang nyaman ia segera menyeruput air minum yang dibawanya tadi.
"Kesiangan lu?" Tanya Bram.
"Hem." Jawab Daffa singkat sambil menundukkan kepala.
Ia menundukkan kepala bukan karena malu akan tetapi hanya sekedar menetralkan segala pikirannya tadi malam. Segala pikiran yang berhasil mengobrak abrik semua ketenangan hati dan otaknya.
"Mau kemana pagi-pagi begini?" Tanya Bram saat melihat penampilan sahabatnya dengan memakai pakaian olah raga.
"Mau lari pagi menyehatkan sekalian menyehatkan mata." Jawab Daffa dengan senyum yang penuh arti.
__ADS_1
"Tidak di kota tidak di desa elu gak ada beda." Kata Bram yang tahu kalau sahabatnya itu adalah seorang cassanova sejati.
"Emang apa menariknya gadis desa?" Tanya Bram kemudian sambil menyunggingkan senyumnya.
"Polos." Jawab Daffa singkat.
"Awas ya elu sampai macem-macem dengan gadis-gadis di sini!" Ancam Bram yang tidak mau gadis di desa ini dipermainkan sahabatnya itu.
Tempat ini memang bukan tempat kelahiran Pemuda yang baru saja mengancam sahabatnya itu akan tetapi desa ini banyak memberikan arti sebuah kehidupan padanya. Kehidupan desa di sekitar Villa ini memberikan banyak kenangan bersama orang yang ia sayangi.
Segelas air putih hangat sudah habis disesap hingga tandas. Seorang pemuda yang sudah tidak mau mendengarkan omongan sahabatnya itu langsung berdiri dan berjalan keluar dari dalam Villa.
Pemuda tampan ini pun tahu jika sahabatnya itu sudah mengeluarkan sebuah ancaman bisa-bisa terjadi perang dunia. Ia pun selalu bisa mencegah agar tidak terjadi perang itu.
Menjaga perasaan sahabat menjadi sangat penting buatnya. Begitu juga dengan Bram jika tidak fatal ia tidak akan memberikan peringatan pada sahabatnya itu.
"Jika butuh sesuatu panggil Bibi." Kata Daffa sebelum meninggalkan ruang makan."
"Bibi pasti tahu yang harus dilakukan." Lanjutnya.
Daffa menuju taman di depan villa miliknya. Ia melakukan pemanasan sebelum joging.
Hari ini memang hari libur. Banyak yang hanya sekedar mengisi waktu hari libur mereka di taman.
Pemuda yang baru saja datang dari kota itu menjadi pusat perhatian saat ini. Apalagi dengan penampilannya dengan kaos olahraga yang sangat memperlihatkan bentuk tubuhnya itu membuat para gadis itu tanpa berkedip saat melihatnya.
💖💖💖💖💖💖💖💖
Di Villa Besar
Kesepian sejak ditinggal sahabatnya itu, tak ada yang diajaknya berbincang. Bram yang selesai sarapan kini hanya mengotak atik ponselnya untuk membuang rasa kesepiannya.
"Kemana aja ini anak? Lama banget." Batin Bram.
"Apa sebaiknya aku susul aja. Jangan-jangan ia sudah mulai menggoda para gadis di sini." Lanjutnya.
"Bibi." Panggil Bram.
"Iya sebentar Den." Sahut seorang gadis muda dan cantik.
__ADS_1
Mendengar suara seorang gadis dari dalam Bram mengernyitkan keningnya. Ada sebuah tanda tanya besar dalam otaknya.
Thing
Tanda pesan masuk dari benda pipih yang berada di tangan Bram. Ia hanya membaca tanpa membalasnya saat seorang gadis cantik muncul di hadapannya.
Dreeeeet
Dreeeeet
Dreeeeet
Ponsel yang dicintainya kini bergetar, akan tetapi getaran itu tidak bisa mengalihkan pandangan sang pemilik ponsel. Sang pemilik sedang melakukan pengamatan pada seorang gadis sehingga tidak bisa diganggu gugat.
"Ya Den, ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang gadis yang kini berada di dekat Bram.
Lama sekali Bram memandangnya hingga sebuah tangan yang putih bertepuk beberapa kali di depan wajahnya baru ia tersadar. Sadar dengan kejadian baru saja ia langsung memberikan sebuah titah untuk menutupi rasa malunya.
"Tolong ambilkan aku minuman mineral dingin!" Pinta Bram.
"Baik Den." Jawab Gadis itu.
"Tunggu. Antar ke depan." Pinta Bram sesaat setelah gadis itu berbalik.
"Cantik." Gumamnya yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.
Bram meninggalkan ruang makan menuju ruang depan yang memang jarang sekali dipakai oleh pemiliknya. Ruangan ini hanya dikunjungi oleh ART ketika hendak dibersihkan saja.
"Jangan-jangan ia gadis simpanan yang dimiliki Daffa makanya Ia betah sekali kalau berada di Villa ini." Batin Bram.
Di ruang depan Bram menunggu gadis itu. Ia ingin memberikan berbagai pertanyaan padanya.
Apalagi ruangan itu sepi jika ia melakukan apapun pada gadis itu tidak ada yang tahu. Semua ART sepertinya sedang keluar semua.
Tidak membutuhkan waktu lama gadis itu sudah menuju ruang depan membawa sebotol air mineral dingin. Di dalam ruang depan sudah menunggu seorang Pemuda yang tidak kalah tampan dengan majikannya.
Gadis itu sudah merasa was-was pada teman majikannya itu. Setelah masuk di dalam ruangan tanpa menunggu lama pintu pun ditutup oleh Bram yang sejak tadi duduk di sofa menunggunya dekat pintu masuk.
Gadis itu terkejut ketika tahu pintu ruang itu telah terkunci. Bram meminta pesanannya tadi hingga dalam otaknya memiliki rencana terselubung yang bisa mengakibatkan perang dunia antara Dia, sahabatnya serta gadis yang bersamanya sekarang.
__ADS_1