Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Sempurna


__ADS_3

Hafsa segera menuju kamar yang dimaksut oleh pemuda yang ada di ruang makan itu. Dia melihat Daffa sangat menikmati sarapan paginya itu.


Gadis itu tersenyum kecut mendapati Daffa yang terlihat dingin seperti semula. Hafsa jadi memiliki rasa takut cintanya akan bertepuk sebelah tangan.


"Setelah kamu bersihkan kamar itu kamu bilang apa saja yang masih kurang dan tata kamar itu yang terbaik." Kata Daffa saat seorang gadis sudah hampir membuka pintu kamar yang dimaksut.


"Baik Tuan." Balas Hafsa yang membuat Pemuda itu sakit hati.


Ceklek


Pintu kamar yang terletak di dekat ruang keluarga itu dibuka oleh seorang gadis. Gadis itu dengan mudah membukanya karena memang tidak pernah dikunci.


"Apa yang harus dibersihkan?" Tanya Gadis itu dalam hati setelah mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Sudah cukup bersih dan terlihat rapi bahkan semua barang yang ada di kamar ini sudah tidak perlu ditambahkan apapun juga." Lanjutnya.


Gadis itu melangkah maju setapak demi setapak dan perlahan. Daffa yang sudah selesai menikmati sarapannya masih duduk di ruang makan.


"Den, maaf bukannya tadi pagi sudah dibersihkan?" Tanya Bibi.


"Biar dia tidur di sana Bi." Kata Daffa.


"Apa Bibi tidak curiga kalau dia berasal dari keluarga yang berbeda yang tidak pernah kita bisa tebak." Lanjutnya.


"Kita bertiga beberapa hari yang lalu mengalami kesulitan yang menyangkut nyawa seseorang." Jelas Daffa lagi.


"Kita tidak mau seseorang yang ada disini menjadi korban." Lanjutnya yang panjang kali lebar.


Wanita Paruh Baya itu sudah sangat hafal betul karakter dari keluarga ini. Dia sudah bekerja sejak lama di villa ini sejak Almarhum Tuan Richat masih hidup.


"Bibi tidak usah khawatir jangan sampai jatuh korban sakit hati." Kata Daffa berusaha menutupi semua kebenaran itu setelah dia cerita yang membuat wanita paruh baya itu menatapnya dengan tatapan kosong seperti sebuah kekhawatiran.


Bibi yang masih berada di ruang makan itu sedikit lega setelah mendengar cerita dari Tuan ketiganya itu. Dia jadi berpikir itu urusan yang kaitan dengan hati tuannya itu.


"Semoga berhasil Den." Kata Bibi mendoakan karena memang dia juga melihat kalau Hafsa gadis yang baik.


"Terimakasih Bi." Kata Daffa setelah meyakinkan wanita Paruh Baya itu.


Pemuda itu menuju kamar yang terletak di dekat ruang keluarga. Dia mengamati setiap gerak yang begitu berbeda jika dibandingkan dengan orang biasa.


"Kurang apa?" Tanya Daffa pada gadis yang berada di kamar itu sedang melakukan pengamatan itu hingga tersentak.

__ADS_1


"Sempurna." Jawab Hafsa singkat.


"Penilaian yang bagus." Kata Daffa memuji.


"Kamar ini untuk gadis ku, aku ingin meminta pendapat mu." Kata pemuda itu lagi.


"Aku yakin kamu tahu apa yang setiap gadis perlukan di kamarnya." Lanjutnya.


Geg


"Oh..... Jadi untuk gadis Tuan?" Kata gadis itu dengan hati yang terasa sakit.


"Semoga pacar anda suka dengan kamar ini." Kata Hafsa.


"Kalau kamu suka..... Dia pasti suka." Kata Daffa meyakinkan.


Hafsa berusaha sekuat hati menguatkan perasaannya. Dia tidak menyangka akan sesakit ini.


Gadis itu berbalik badan melangkah meninggalkan kamar itu. Berdiri seorang pemuda dengan menyandarkan tubuhnya di samping pintu itu hingga langkahnya terhenti sesaat.


Greeep


Sebuah tangan kekar memegang lengan seorang gadis saat akan melewatinya. Dia menariknya perlahan sedikit masuk ke dalam kamar.


"Lepas!" Pinta gadis itu mencoba melepaskan tangan Daffa yang memegang tangannya erat.


"Baik, aku akan segera membereskan semua barang ku." Lanjutnya.


"Terimakasih aku sudah diperbolehkan tinggal disini selama ini." Katanya lagi sambil menundukkan kepala.


"Aku minta maaf jika banyak salah pada kalian." Lanjutnya lagi dengan intonasi rendah.


"Aku akan segera angkat kaki dari sini." Kata Hafsa berlari menuju kamarnya.


Pemuda itu berlari mengejar Hafsa hingga tertangkap. Pinggang ramping itu dipeluknya untuk pertama kali begitu juga dengan Daffa berani memeluk seorang gadis untuk pertama kalinya.


"Apa begini rasanya memeluk orang yang kita cintai?" Tanya Daffa dalam hati menikmati aroma tubuh seorang gadis yang memiliki aroma khusus.


(Aroma apa ya kira-kira?" Kalau Hafsa sering memasak. Coba tebak).


Di Jalan Lain Menuju Ibu Kota

__ADS_1


Garda dengan perasaan senang setelah menerima sebuah pesan dari sang kekasih segera kembali menuju ibu kota dengan menaiki motor miliknya. Perasaan itu tidak jauh berbeda dengan perasaan Sang Adik yang sedang bermain peluk-pelukan di Villa.


Duaaaar


Suara benturan antara motor terjadi hingga Seorang pemuda terjatuh. Garda tidak sabar ingin segera menuju sang kekasih hingga kecepatan motornya semakin ditambah.


Pengendara yang menabrak Garda melarikan diri setelah sadar dengan apa yang mereka lakukan. Pengendara itu dalam keadaan mabuk berat dari tadi malam hingga keseimbangan mereka dalam mengendarai motor tidak ada.


Garda ditolong oleh seorang gadis yang pernah dilihatnya bersama Sang Adik. Gadis tanpa banyak bicara memapah Garda menuju tempat yang agak nyaman.


"Apa dunia ini sangat sempit?" Tanya Pemuda itu dalam hati.


"Atau semua gadis-gadis itu miliknya." Lanjutnya dengan menahan sakit disekujur tubuhnya.


Garda merasakan sakit tetapi tidak berani mengeluh. Dia tidak mau orang lain tahu jika dia sedang dalam fisik yang rapuh apalagi seorang wanita.


"Sepertinya aku pernah melihat mu." Kata Garda mencoba membuka percakapan.


"Ya mungkin saja kebetulan." Kata Yasna.


"Bisa aku minta tolong pada mu." Kata Garda penuh harap.


"Semampuku aku akan membantu mu." Jawab Yasna.


"Gadis baik." Celetuk Garda tanpa sadar.


"Apa?" Tanya Yasna memastikan.


"Tidak." Jawab Garda singkat.


"Baik jika orang ada maunya, tetapi kenyataannya orang lain menganggap ku berbeda." Batin Yasna yang sebenarnya dengan jelas mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda yang terluka itu.


Pemuda itu mencari sesuatu di saku celananya setelah merasa tubuhnya lebih baik. Garda tidak menemukan barang yang dia cari kemungkinan barang itu terlempar.


Kedua orang itu saling diam tidak ada sebuah kata yang keluar dari mulut mereka sesudah itu. Rasa canggung itu muncul, bahkan Yasna tidak enak jika meninggalkan pemuda yang sedang sakit itu sendirian.


"Jika kamu masih ada urusan pergilah, aku sudah tidak apa-apa." Kata Garda memecah kesunyian diantara keduanya.


"Aku tidak sekejam itu meninggalkan orang terluka seperti mu sendirian." Kata Yasna.


Gadis itu diam dan berusaha berfikir untuk tindakan selanjutnya. Motor yang rusak parah itu jika ditinggal juga tidak aman pikirnya.

__ADS_1


Motor itu justru tidak ada harganya jika dibandingkan dengan perasaannya saat ini bagi Garda. Dia ingin meminta bantuan pada gadis itu tetapi merasa tidak enak juga dengan kedua saudaranya yang lain.


Gadis itu takut pada Garda karena wajahnya yang sejak tadi dingin walaupun mereka sempat berbincang sekata dua kata. Pemikirannya kini jadi membandingkan antara lebih kuat dia menghadapi orang dingin atau saat dibully oleh orang yang ada di sekitarnya.


__ADS_2