Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Latihan Makan Sambil Berjalan ( Sebaiknya Jangan Ya Kakak Menurut Etika Saja)


__ADS_3

Pemuda itu begitu menikmati buah yang saat ini dimakannya. Melewati sebuah kamar sengaja berjalan dengan perlahan.


Pemuda itu tidak biasa makan dengan berjalan seperti itu. Mungkin dia juga kesambet setan kali, hingga melakukan hal itu.


Ketiga pemuda itu tahan menahan apapun tanpa terkecuali. Seorang gadis atau makanan bisa saja tapi sebuah penderitaan yang dialami keluarga kecilnya mereka bisa bertindak apapun untuk membantu.


"Uhuuuk."


"Uhuuuk."


"Uhuuuk."


"Sial." Umpatnya saat menahan rasa sakit di tenggorokan akibat tersedak dengan sedikit membungkuk dan tangan kanannya memegang tiang sedangkan tangan kirinya berkacak pinggang.


"Aku harus berlatih makan sambil berjalan agar tidak tersedak sepertinya." Kata Axel dalam hati.


Seorang gadis kini terjaga dari tidur gelisahnya. Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Bibi membantu untuk duduk di kepala tempat tidur.


Segelas air putih yang ada di atas nakas diminum Hafsa hingga tandus. Kepalanya mendongok melihat jam yang menempel di dinding.


"Sepertinya ada orang di luar Bi?" Tanya Hafsa dengan sedikit lemah.


"Bibi juga dengar." Kata Asisten Rumah Tangga itu.


"Sepertinya Tuan Muda ada di luar." Lanjut Bibi.


Hafsa menyibakkan selimutnya dan hendak pergi melihat siapa gerangan yang ada di luar. Bibi berusaha menahan gadis itu tetapi Dia tetap saja nekat.


Sang Bibi mengikuti gadis itu dari belakang. Eh.... ternyata dilihat Tuan muda tidak jauh dari kamar Hafsa sekarang.


Gadis itu berjalan keluar dari kamar menghampiri Axel yang sedang menahan sakit pada tenggorokannya karena tersedak. Merasa akan ada sesuatu entah itu berkah atau musibah Bibi mengikutinya dari belakang.


"Tuan tidak biasanya anda berjalan sambil makan?" Tanya Bibi mendahului keduanya agar tidak bertengkar.


"Aku lapar, tadi belum sempat makan siang." Jawab Axel dengan dingin.


"Buatkan aku makan siang Gak pakai lama." Lanjutnya.

__ADS_1


"Baiklah biar aku yang buatin." Celetuk gadis itu.


"Buat yang enak dan gak pakai lama!" Kata Axel memperingatkan.


"Tapi tadi Tuan Daffa minta... " Kata Bibi terpotong karena Sang Tuan sudah memutar badan dan melangkahkan kakinya.


"Modus." Lirih gadis itu tapi masih bisa di dengar oleh Axel.


"Pesan online lama Neng, Aku gak mau mati kelaparan." Kata Pemuda itu sedikit menaikkan intonasinya agar bisa di dengar oleh gadis itu.


"Aku kaya dan punya uang keluarga ku juga kaya, kalau sampai aku mati kelaparan apa kata dunia?" Lanjutnya lagi.


"Dia sepertinya tidak bisa dikibulin." Batin Axel yang memang sengaja menyuruhnya memasak untuk menutupi perbuatannya yang ketahuan ingin melihat keadaan seorang gadis yang baru saja tinggal di villa milik Sang Kakak.


"Bibi bantuin ya?" Tawar Wanita yang usianya sudah hampir lanjut.


"Tidak usah Bi." Tolak Hafsa.


"Bibi duduk saja disini." Kata Hafsa meminta wanita itu duduk di kursi yang ada di dapur sambil menuntunnya.


Bibi mengikuti kemauan gadis itu dengan terpaksa. Hafsa mulai memasak dengan cepat, sedangkan bibi mulai bercerita tentang apa yang diminta oleh salah satu tuannya itu.


"Sudah aku bilang, istirahat yang bener!" Kata Daffa dengan ketus setelah sampai di ruang makan.


"Maaf Tuan tadi Tuan....." Kata Gadis itu terputus dengan intonasi yang cukup kecil.


"Aku yang memintanya masak! Potong Sang Kakak tiba tepat waktu.


"Lapar, rindu dengan masakannya dan....!" Jelas Axel ingin menguji perasaan Sang Adik tetapi kalimat itu terputus karena Sang Adik sudah memutar badan pergi dari ruang makan menuju garasi.


Sang Adik datang dengan tergesa-gesa saat mencium aroma masakan yang dapat menggugah selera makan. Mendengar ucapan Axel, tanpa berpamitan, dia pergi dengan mengepalkan kedua tangannya.


Semua ekspresi marah itu terlihat jelas Dimata Sang Kakak. Axel yakin kalau Sang Adik punya perasaan yang spesial pada gadis yang tinggal di villa milik sang Kakak.


Sang Adik tidak pernah semarah ini jika berkaitan dengan seorang gadis. Axel memiliki dua buah kemungkinan gadis yang disukai oleh Adiknya itu.


Gadis yang ada di taman saat itu, yang dia bela mati-matian atau gadis yang saat ini tinggal satu atap. Pemuda itu sadarkah dengan perasaannya?

__ADS_1


Seorang gadis sedang berada di dapur membuat hidangan penutup dan makanan ringan. Dia dibantu oleh seorang wanita yang bersamanya tadi.


"Serem juga kedua laki-laki itu." Batin Hafsa.


"Atau jangan-jangan semua ketiganya seperti itu." Lanjutnya.


"Perlu penerangan lampu yang ekstra terang O... Seram mungkin." Lanjut Hafsa sedikit tersenyum untuk mengurangi rasa capek.


"Bi, Bibi." Panggil Axel yang masih berada di ruang makan sendirian.


"Bibi sedang masak apa di dapur?" Tanya Axel datar.


"Cepat bawa kesini Bi!" Perintahnya.


"Ini namanya penyiksaan." Batin Bibi saat itu juga.


"Gimana ini nanti kalau Tuan Daffa marah. Kalau sudah marah dia bisa lebih dari kedua kakaknya." Lanjutnya.


Bibi sudah sampai di dapur ingin mengambil makanan yang baru saja masak. Melihat gadis yang ada di dapur tersenyum penuh arti membuatnya beban pikiran yang baru saja seakan hilang tak berbekas.


💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Bagaimana dengan Kedua adiknya yang tampan itu?


Mereka berdua baru ngapain ya?


Menghilang cari tempat bersemedikah.


Kalau sang kakak kita sudah tahu katanya baru program penggemukan badan.


Ayo cari tahu apa yang mereka lakukan di up date Novel "Beda-beda Tipis" berikutnya.


Salam Kenal dari Author.


Salam sehat, dan selamat beraktivitas.


Jangan lupa saya tunggu like & votenya ya.

__ADS_1


Dukungan bisa memotivasi lho. 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2