
Bibi baru saja melangkahkan kaki keluar dari dalam ruang sidang itu sudah bisa mencium bau harum kue yang baru masak. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju dapur hingga langkah kaki itu bisa terdengar oleh gadis itu.
Sesampainya di dapur Bibi hanya menemukan sebuah kue yang baru masak dan sebuah pesan dari gadis yang baru semalam ia kenal. Bibi hanya bisa meminta maaf dalam hati karena tidak bisa membantu gadis itu.
Ketiga Tuan muda yang berada di depan sedang menikmati indahnya malam dengan duduk di atas rerumputan begitu mereka nikmati. Terkadang mereka merebahkan tubuh mereka di rerumputan itu.
Salah satu dari ketiga pemuda itu melihat bayangan seorang gadis yang melintas bersama dengan wanita paruh baya yang ditolong Sang Adik tadi siang. Mereka berjalan beriringan bercakap-cakap layaknya saudara.
Garda merasa salut dengan kedekatan kedua wanita itu. Seorang wanita dengan anak gadisnya terlihat penuh kasih sayang.
Garda yang sedang memandangi seorang gadis tak terlihat oleh kedua saudaranya yang sedang merebahkan tubuhnya pada rerumputan. Hanya sebatas kagum dengan sebuah hubungan siapa yang bisa menebaknya.
"Kak, kenapa kamu sangat benci dengan gadis yang baru datang itu?" Tanya Sang Adik dengan memandang wajah Axel sang Kakak yang sedang melihat bintang terang yang sedang bersinar pada langit yang cerah saat ini.
"Aku bukannya benci tapi sebel sama itu cewek." Elak Sang Kakak masih dengan tatapan yang lurus ke langit yang cerah.
"Memangnya kenapa dengan itu cewek?" Tanya Garda.
"Bertemu pertama aja udah bikin ulah." Jawab Sang Kakak.
"Ngancurin barang-barang." Lanjutnya.
"Gak perlu gitu juga kali." Kata Daffa.
"Haduuuh. Bilang aja elu mau belain itu cewek." Kata Sang kakak masih kekeh dengan pendiriannya.
"Elu belain dia karena itu cewek lumayan cantik kan?" Lanjutnya walaupun tahu sebenarnya Daffa Sang Adik tidak punya perasaan apapun padanya.
"Kalau iya emang kenapa?" Tanya Daffa.
"Masalah buat mu Kak?" Lanjutnya.
"Gak." Jawab Sang Kakak singkat.
"Gak biasanya juga masalah sepele seperti tadi siang elu perpanjang Kak." Jelas Daffa.
Deg
Hati Axel tersentak juga mendengar penuturan Daffa baru saja. Memang benar apa yang dikatakannya barusan.
"Kalian ini Si Besar dan Si Kecil ngeributin apaan?" Tanya Garda yang paling bijak.
"Emang dari tadi gak dengerin apa kita ngomongin apa?" Tanya Axel.
__ADS_1
"Ngomongin itu si pembuat onar." Lanjutnya.
"Kakak ku sayang dan adikku yang paling ganteng sedunia kita." Kata Garda terjeda.
"Apa?" Tanya Axel dan Daffa bersamaan dan sedikit tegas.
"Antara cinta dan benci itu beda-beda tipis lho." Jelas Garda.
"Seperti kita juga lho aku yang gantengnya paling banyak diantara kita bertiga." Lanjutnya.
"Wah ada pujangga baru yang masuk kampung ternyata." Kata Axel mengakhiri perdebatan mereka.
Sang Kakak membenarkan juga ucapan Garda yang baru saja dikatakan. Orang karena benci bisa menumbuhkan rasa cinta dihati mereka.
Merekapun mengakhiri perdebatan ketiganya hingga waktu menunjukkan pukul 20.45 WIB. Waktu terasa begitu cepat niat hati Axel dan Garda menumpahkan hati mereka malah sebaliknya terjadi deh perang mulut diantara ketiganya.
Mereka menyapa satpam yang bertugas berjaga malam ini dan mereka masuk ke dalam villa dengan gagahnya. Gaya mereka sama keren tangan mereka bagaikan anak muda dimasukkan kedalam kantung celana sambil berjalan.
Menunggu mereka bertiga masuk ke dalam seorang gadis mengendap-endap seperti seorang pencuri. Ia mengamati ketiga pemuda itu sejak tadi menunggu kesempatan untuk kabur.
"Pak saya minta tolong lagi ya?" Kata gadis itu berusaha sesantai mungkin.
"Ada apa lagi Neng?" Tanya satpam villa.
"Jangan-jangan Neng nyuri ya?" Sambungnya.
"Huuuus." Suara itu keluar dari mulut gadis itu dengan jari telunjuknya menempel pada mulut gadis itu.
"Pak dengerin dulu." Kata gadis itu terjeda.
"Iya-iya yang penting nasib kita yang sudah sepuh tidak dipertaruhkan." Kata Satpam penjaga villa.
"Kalau udah sepuh mau nyari kerja sulit Neng Anak dan istri mau dikasih makan apa kalau kita-kita sampai dipecat. Mau dikasih makan batu." Lanjut satpam villa.
"Yaudah kalau Bapak tidak percaya Bapak boleh periksa saya." Kata gadis itu.
"Kemarin saya kesini juga tidak bawa apa pun Bapak boleh periksa saya." Lanjutnya.
"Trus sekarang kenapa Neng mengendap endap seperti pencuri?" Tanya Satpam Villa.
"Justru saya mau menyelamatkan kalian." Jawabnya.
"Kok bisa?" Tanya Satpam Villa.
__ADS_1
"Saya kasian sama simbok kena peringatan terus gara-gara keteledoran saya Pak. Jawab gadis itu terjeda.
"Setiap kali saya membantunya pasti selalu saja ada kesalahan." Lanjutnya.
Tidak lama antara seorang gadis dan satpam villa sedang berdiskusi ada panggilan dari dalam. Seorang tukang kebun membisikkan sesuatu ke telinga penjaga Villa yang hanya bisa di dengar oleh kedua laki-laki paruh baya itu.
Di dalam Villa
Saat masuk ketiga pemuda itu sudah mencium bau kue yang baru saja masak. Mereka bertiga langsung duduk di ruang tengah.
Kedua kakaknya berjalan dan langsung mendaratkan bokongnya di sembarang tempat. Daffa mengambil minuman dingin yang ada di kulkas sambil melirik ke arah dapur.
Daffa berjalan menghampiri kedua kakaknya yang sedang melihat televisi di ruang tengah. Ia hanya membawa beberapa botol minuman dingin saja.
"Cuma ini yang kamu bawa?" Celetuk Axel dengan mengharapkan Sang Adik membawa sebuah kue.
"Iyalah." Jawab Daffa.
"Emang mau bawa apa'an?" Lanjutnya.
"Suruh bikinin makanan juga jam segini para pembantu udah pada istirahat." Kata Garda.
"Aturan di tempat kita kan emang begitu?" Lanjut Garda.
"Kan ada satu gadis tu yang bukan pembantu kita." Kata Axel.
"Jadi bisa dong jam segini bikinin makanan." Lanjutnya.
"Hua ha ha." Tawa Kedua adiknya akhirnya pecah juga baru saja disampaikan akhirnya kesampaian juga.
"Tu kan bener apa yang aku bilang tadi kak." Kata Garda.
"Bilang aja rindu sama itu cewek." Kata Daffa yang Casanova sejati.
Pasalnya mereka bertiga pantang makan apalagi makan malam diatas pukul 21.00. Apalagi sang Kakak tertua paling anti.
Mereka makan di atas pukul 21.00 jika ada teman atau dalam perjamuan. Tujuannya adalah untuk menghormati orang lain.
"Alergi sama gadis yang sering bikin berantakan." Kata Axel.
"Kak." Bentak Daffa tidak terima atas kata-kata Sang Kakak walaupun saat menemui gadis itu pertama kali bukan kesan yang baik.
Deg
__ADS_1
Axel terkejut dengan adiknya yang paling kecil marah besar seperti itu. Pasalnya selama ini dia paling sabar dalam menghadapi segala sesuatunya.
"Bik bawa kue itu serta surat nya kemari."