Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Tidurlah Di sini!!!


__ADS_3

Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan tanpa ada satu kata menuju motor itu diparkirkan Daffa. Menatap lurus ke depan tapi sesekali Pemuda itu menoleh melihat Yasna.


Gadis itu terlihat sangat menyedihkan sekali saat ini. Sejak pertama kali bertemu mungkin hanya rasa kagum diantara keduanya.


Rasa iba pada seorang gadis sangatlah jarang yang terjadi padanya. Mulanya Daffa juga menganggap banyak wanita yang hanya akan terobsesi pada pemuda sepertinya.


Keadaan saat ini menganggap bahwa gadis ini lain dari pada yang lain. Hal ini sangat Daffa rasakan saat melihat mata gadis ini secara mendalam.


"Cepat naik!" Perintah seorang pemuda.


Gadis itu segera naik tanpa menggunakan helm. Rambut panjangnya yang hitam pekat berhamburan karena kecepatan motor dan angin yang begitu kencang.


Pemuda itu mengendarai motornya dengan sangat hati-hati walaupun dengan kecepatan yang cukup lumayan hingga membuat Yasna memeluk pinggang pemuda itu. Menuju villa yang terletak ditepi pantai yang berjarak lumayan jauh dari pantai.


Jarak villa sudah diperkirakan dari pantai untuk menghindari dampak dari pasang surut air laut tetapi masih bisa melihat keindahannya. Tempat persembunyian Daffa akhirnya diketahui oleh salah satu orang.


Orang yang mengetahui adalah salah satu dari beribu gadis. Seorang gadis pilihan tentunya tapi bukan pilihan hati.


Daffa percaya gadis itu tidak akan berbuat melebihi apa yang harusnya dia lakukan. Jika dilihat secara jelas Yasna adalah gadis yang sangat berprinsip dan sangat sederhana bahkan tidak ingin orang lain tahu tentang apa kesedihan atau kesulitan yang ia hadapi.


"Dimana ini?" Tanya Yasna penasaran saat motor itu berhenti di sebuah villa dengan bangunan yang terlihat sangat sederhana.


"Cepat turun!" Perintah Daffa yang tidak ingin dikatakan mengambil kesempatan dalam kelonggaran.


"Antar aku pulang sekarang juga!" Kata Gadis itu dengan marah-marah.


"Tidak bisa."Jawab Daffa tegas.


"Sekarang kamu mau menggunakan kesempatan saat aku sedang terburuk!" Kata gadis itu dengan rasa emosi yang menyulut.


"Untuk malam ini tidurlah di sini bersamaku." Pinta Daffa.


"Tidak mungkin aku tidur di sini." Kata Gadis itu.


"Disini sepi tak ada seorang pun." Lanjutnya penuh rasa khawatir.


"Jika kamu ingin selamat dari sini dan bertemu dengan Ibu mu lagi tolong menurutlah." Pinta Daffa.


Pemuda itu akhirnya menarik Yasna masuk ke dalam villa dengan paksa. Bagaimanapun juga tenaga seorang gadis tidaklah seberapa.

__ADS_1


Gadis itu terus saja memberontak sekuat tenaganya. Sekuat yang dia bisa sebelum mendengar kata permohonan pemuda itu.


Sedikit ada rasa percaya pada diri Yasna setelah mendengar permohonan itu sehingga ia tidak begitu memberontak. Akan tetapi ia masih tetap waspada terhadap Daffa.


Pintu villa itu di buka dengan sedikit kasar oleh pemiliknya karena Daffa masih dengan erat memegang pergelangan tangan gadis yang masih sedikit memberontak. Saat masuk terlihat dekorasi yang sungguh sangat diluar dugaan.


Dekorasi yang sungguh sangat elegan, dengan pilihan perabotan dan pernak pernik selera tinggi. Gadis itu mengedarkan pandangan tak percaya.


Gadis itu tidak percaya dengan bangunan yang sangat sederhana diluarnya tapi kondisi di dalamnya sangat elegan yang menandakan bahwa pemiliknya memiliki selera yang tinggi. Apalagi di daerah ini sangat terpencil.


"Tuan Muda." Kata salah satu ART yang masih muda yang memang tinggal di situ bertugas menjaga Villa terkejut saat melihat pintu masuk dibuka dengan kasar.


"Kenapa tidak memberi kabar kalau mau ke sini." Tanyanya lagi.


"Haruskah aku memberitahumu dulu." Kata Daffa dingin.


"Gadis itu?" Tanya Titin melihat tuannya membawa seorang gadis ke villa.


Pemuda itu langsung menarik kasar pergelangan tangan Yasna menuju sebuah kamar tanpa menjawab pertanyaan Titin. Art itu hanya melihat tuannya yang berusaha menyeret seorang gadis belia.


Gadis itu di bawa dengan kasar ke sebuah kamar. Kamar itu bahkan hanya orang-orang tertentu yang boleh membersihkannya.


Ceklek


Pintu kamar terbuka dan gadis itu dipaksa untuk masuk ke dalam. Kamar itu memiliki desain yang tidak sederhana dengan barang-barang yang ada di sana tidaklah murah nominalnya.


Keunikan dari tempat ini dapat dilihat saat ia sampai di sini dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam villa. Walaupun ia masuk dengan paksaan.


"Aku mohon percaya pada ku, jika tidak kamu tidak akan bisa kembali bertemu dengan Ibu mu." Ucap Daffa terlihat sangat tulus.


"Lihatlah di sana! Kata pemuda itu dengan menunjukkan sebuah kejadian alam yang mana jika mereka nekat meninggalkan tempat itu justru mereka akan terjebak dan bahkan tak akan bisa menatap matahari lagi.


"Apa?" Kata gadis itu terkejut melihat air pasang yang begitu tinggi dan membawa pasir laut yang cukup banyak.


"Kenapa sebelum air pasang kau tak memperingatkan ku!" Kata Yasna.


"Bagaimana aku bisa mengingatkan mu?" Jelasnya Daffa.


"Aku tadi sudah berulang kali memanggil mu tapi kamu sendiri menutup lubang telinga mu itu." Lanjutnya.

__ADS_1


Pemuda itu memang berkali-kali sudah memanggil Yasna mengajaknya kembali tetapi karena kesedihan yang terlalu membuat dia menutup segalanya. Saat itu Daffa menyadari mungkin terlalu lama beban yang ditanggungnya sendiri sehingga terasa begitu berat hingga mungkin suatu saat ada kemungkinan bagi gadis itu untuk menutup sebuah kebenaran.


Gadis ini terkesan memberontak pada Daffa akan tetapi ia yakin pemuda itu adalah pemuda yang baik dan tidak akan berbuat macam-macam seperti pada umumnya. Pemuda yang pada umumnya selalu menggunakan kesempatan dalam kesedihannya.


Hari ini seorang gadis sungguh tak berdaya karena sebuah kesan masa lalu seseorang. Sungguh sangat tegar dalam menjalani kehidupannya.


Hari ini juga ia melihat sebuah ketulusan seseorang pemuda terhadapnya untuk membantunya. Mengajaknya untuk menenangkan dirinya yang sedang terkoyak.


"Kenapa tampan?" Tanya Seorang Pemuda saat melihat Yasna menatapnya secara intens.


"Pede amat." Elaknya Yasna.


"Ia memang tampan sebenarnya yang jelas sebenarnya dia itu baik hati." Batin seorang gadis.


"Gak usah berterimakasih." Kata Daffa saat menyadari ada seorang gadis yang saat ini merasa canggung untuk berbicara dan berbincang dengannya.


"Aku cuma minta satu hal." Pinta Daffa dengan kalimat yang menggantung. (Asal tidak menggantungkan cinta saja ya reader?).


Gadis itu membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja pemuda itu katakan. Masih baru beberapa menit yang lalu ia mengagumi sosok pemuda yang ada satu kamar dengannya saat ini.


"Kenapa mata kamu? Kok sepertinya ingin sekali menerkam ku." Lanjut Seorang pemuda.


"Kamu kalau pasang tampang menyeramkan seperti itu, kamu gak akan laku." Nasehat Daffa yang entah kenapa hari ini baru doyan bicara.


"Emangnya aku dagangan?" Tanya Yasna dengan emosi.


"Memangnya kamu mau diperdagangkan?" Kata Daffa mencoba membuat sebuah lelucon untuk mencairkan suasana.


"Aku cuma minta kamu menutup mulut mu itu." Kata Daffa yang sempat terpotong tadi dan ini juga belum selesai pemuda itu berkata-kata sudah dipotong oleh gadis yang sama.


"Emang mulut ku bau?" Tanya Yasna sambil mencium bau mulutnya.


"Tidak, tidak bau kenapa aku harus tutup mulut." Lanjut gadis itu.


"Makanya kalau orang ngomong jangan dipotong dulu pakai gergaji tapi pakai hati." Kata Daffa yang terbiasa menggombal pada setiap gadis.


Gombalan itu akhirnya mampu membuat warna merah muda di pipi gadis itu. Akhirnya gadis itu pun menundukkan kepalanya.


"Maksud ku jangan sampai orang lain tahu tentang tempat ini." Kata Pemuda itu yang akhirnya menceritakan asal muasal ia bisa memiliki villa yang angker ini.

__ADS_1


__ADS_2