Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Hukumannya Sebuah Pernikahan


__ADS_3

Sang Kakak sulung merasa rencananya semakin mudah. Hukuman untuk koki mereka jadi bisa semakin dipercepat.


Koki ketiga pemuda itu sedang berkutat di dapur setelah membaca pasan dari Daffa. Hafsa membuatkan makan malam yang cukup terlambat itu sesuai dengan pesanan dari seorang pemuda yang mengirim pesan tadi.


Gadis itu sangat cekatan dalam memasak walaupun berasal dari keluarga terpandang. Hafsa tidak butuh waktu lama untuk membuat setiap masakan.


Seorang wanita yang sudah memiliki usia hampir lanjut itu terbangun ditengah malam. Dia tidak mendapati Hafsa di tempat tidurnya atau di dalam kamarnya.


Bibi merasa khawatir tidak mendapati Hafsa yang sejak tadi pagi memasak sarapan tidak nampak batang hidungnya. Wanita itu sebenarnya merasa takut jika harus melangkah lebih jauh dari kamarnya.


"Kemana gadis itu datang tak diundang sekarang pergi juga tak memberi kabar." Kata Bibi perlahan melangkahkan kaki setapak demi setapak meninggalkan kamarnya.


"Tidak mungkin gadis itu pergi begitu saja, aku lihat dia gadis yang baik." Lanjutnya saat mencari gadis itu menuju ruang demi ruang dilewati.


"Gadis itu sepertinya aku kenal." Gumamnya saat melewati dapur melihat postur tubuh seseorang yang sedang menggerakkan badannya layaknya sedang memasak.


Bibi masuk ke dapur dengan ragu-ragu takut terkena marah oleh ketiga tuannya. Wanita itu ingin melarang Hafsa untuk memasak tengah malam merasa tidak enak.


Plak plak plak


Suara sebuah tangan menepuk pundak seorang gadis tiga kali. Gadis itu menoleh perlahan melihat seseorang yang menepuknya.


"Bibi." Kata Hafsa sangat singkat.


"Neng kenapa kamu masak malam-malam begini?” Tanya Bibi khawatir kalau gadis itu akan mendapat marah dari ketiga tuannya.


"Kalau mau masak pada jam segini bukan disini." Lanjutnya.


"Lalu kenapa sejak tadi pagi aku bibi tidak melihat mu setelah membuat sarapan?" Tanya Bibi beruntun yang belum dijawab sudah dilempari pertanyaan lagi karena sangat khawatir.


"Maaf Bi aku harus merawat orang sakit baru bisa kembali sekarang." Jawab Gadis itu yang sebenarnya.


"Aku tadi lupa memberitahu mu karena sangat khawatir." Lanjutnya.


Bibi mematikan kompor yang digunakan gadis itu memasak. Bibi takut gadis itu kena marah yang menang di larang memasak di tengah malam di sana.


Tap


Tap

__ADS_1


Tap


Suara langkah kaki menuruni tangga perlahan. Orang itu tidak lain adalah Tuan Axel terus melangkah menuju dapur.


"Bibi istirahat saja." Titah seorang pemuda dengan dingin.


"Tapi Den." Tolak Sang Bibi dengan sopan.


"Bibi sebaiknya istirahat." Kata Axel memberi nasehat.


Wanita itu tidak beranjak juga dari tempatnya berdiri sekarang, hingga mendapat tatapan tajam pemuda itu. Mendapat perlakuan seperti itu Bibi segera pergi dari sana.


Bibi belum pernah melihat Tuannya itu menatapnya seperti itu. Tatapan mata seperti elang yang sedang mengintai mangsanya.


"Aku akan mengatakan hukuman pada mu yang sebenarnya." Kata Axel setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri kepergian wanita paruh baya yang usianya sudah hampir menua itu.


"Aku sudah melihat kesalahan mu yang sebenarnya." Lanjutnya tersenyum dengan menarik sudut bibirnya itu.


"Kamu harus menikah dengan adik ku entah cepat atau lambat." Lanjutnya.


"Aku." Katanya menunjuk diri sendiri dengan jarinya dan sangat terkejut mendengar hal itu baru saja.


"Ya, kamu." Kata Pemuda itu.


"Kenapa tidak?" Tanya Axel.


"Kamu seharian tadi sudah tidur dengannya bukan?" Tanyanya lanjut.


"Apa yang akan terjadi jika dua orang antara laki dan perempuan tiada hubungan darah di atas tempat tidur." Lanjutnya.


"Ini berhubungan dengan perasaan, tidak bisa dipaksa." Jelas gadis itu menolak tapi hatinya terasa sakit.


"Lalu bagaimana dengan adik mu itu, dia sama seperti ku sama-sama tidak bersedia." Jelas Hafsa.


"Aku bukan tipenya juga, bahkan tidak selevel." Lanjutnya dengan sedikit demi sedikit menurunkan intonasinya.


Gadis itu tersenyum pahit setelah mengatakan semua yang harus dikatakan. Dia sendiri takut jika memberikan hatinya pada seorang laki-kaki sebab yang dia tahu kedua orang tuanya sudah memilihkan seseorang untuknya.


"Aku akan membongkar semua yang kalian lakukan hari ini pada Papa dan Mama kami!" Ancam Pemuda itu saat Hafsa menata semua makanan yang diminta Tuannya yang tadi mengirimkan pesan.

__ADS_1


Pemuda itu tidak menyangka Hafsa bisa menolak menikah dengan adiknya yang tampan dan tazir itu. Dia menatap punggung gadis itu saat melangkah menjauh dari dirinya untuk mengantarkan makanan menuju kamar Sang Adik.


Axel tahu setiap kata yang diucapkan gadis itu cukup menyakiti dirinya sendiri. Pemuda itu pernah jatuh cinta pada seorang gadis walaupun pada saatnya tahu ternyata dia dikhianati.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


Pintu sebuah kamar diketuk oleh seorang gadis dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat beberapa makanan. Pemilik kamar memintanya untuk masuk.


Gadis itu segera meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja tepat di depan Kedua Tuannya. Daffa melihat gadis itu secara intens hingga terlihat garut kesedihan diwajahnya.


"Maaf merepotkan mu." Kata Pemuda itu meluncur begitu saja.


"Sudah kewajiban saya." Jawab Hafsa singkat tanpa melihat wajah orang yang mengajaknya bicara.


"Saya permisi." Katanya lagi.


"Istirahatlah." Pinta Daffa.


"Terimakasih." Kata Gadis itu dengan menundukkan kepala melangkahkan kaki keluar dari kamar itu.


Daffa merasa sangat bersalah padanya karena perbuatan yang dilakukannya pada hari ini. Dia tidak sampai berpikir kalau gadis itu sudah memiliki seorang kekasih.


Ketiga saudara kembar itu tidak pernah mengucapkan kata maaf pada siapapun kecuali pada keluarga yang telah disakitinya. Kali ini hanya karena gadis yang baru saja tinggal di villa mereka sering mengucapkan kata itu.


"Kamu yakin dengan Dia?" Tanya Sang Kakak yang berada di kamar Daffa.


"Maksut mu?" Tanya Daffa balik.


"Jangan bilang tidak terjadi sesuatu antara kalian sejak tadi pagi." Kata Garda.


Sang adik tidak menjawab apapun saat itu, tapi sebenarnya dia juga berharap memiliki seorang gadis yang perhatian seperti Hafsa. Banyak gadis yang bersamanya selama ini hanya bisa diajak bersenang-senang saja.


Makanan yang dibawakan oleh gadis itu sudah tandas tak bersisa dimakan oleh kedua orang kakak beradik. Axel setelah memberitahukan hukuman itu pada gadis yang ditemuinya tadi segera pergi kembali menuju ke apartemen miliknya yang terletak agak jauh dari desa.


Pemuda itu berusaha menjaga matanya agar tetap terjaga walaupun badannya juga sudah terasa sangat lelah. Beberapa hal yang mengganjal pikirannya saat ini.

__ADS_1


Axel menuju kamar gadis itu melihat kondisinya yang semakin membaik. Dia segera menuju kamarnya sendiri untuk mengistirahatkan badannya setelah mengetahui kondisi gadis yang pingsan terlalu lama di taman sekitar apartemen milik nya itu.


Kedua adiknya yang sudah menghabiskan makanan yang dibuat oleh seorang gadis yang baru saja tinggal di villa juga sudah terlelap di kamar mereka masing-masing. Mereka sudah menuju alam mimpi mereka masing-masing.


__ADS_2