
Di sebuah kamar terlihat seorang gadis yang masih dengan wajah sedikit pucat. Hafsa memang seorang gadis yang keras kepala.
Keras kepala karena dimanjakan oleh orang-orang disekitarnya. Kemudahan dalam berbagai hal selalu didapatkan.
Fakta berbicara lain itu yang diajarkan oleh seseorang yang selalu ada untuknya. Banyak orang di sekitarnya yang menginginkan sesuatu miliknya.
Ibu yang telah meninggalkannya sangat dia rindukan. Saat sakit hingga gadis itu menyebut namanya.
Beberapa waktu yang lalu Hafsa mendapatkan sebuah keberanian. Rasa curiga pada seseorang membuatnya semakin berani.
Gadis ini memasang kamera pengintai alias CCTV sendiri tanpa ada seseorang yang tahu. Kebenaran telah dia ketahui hingga dia terpaksa harus meninggalkan rumah miliknya.
"Mama, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Seorang gadis dalam hati.
"Akankah aku bisa sekuat dirimu." Lanjutnya.
Gadis itu terlelap karena lelah dengan pikirannya. Dia mencoba meyakinkan dirinya bisa menghadapi semuanya.
Makanan sudah tidak tersedia di meja makan karena ketiganya memang melewatkan makan siang mereka. Seorang asisten rumah tangga mencoba menawarkan membuatkan makanan tetapi ditolaknya.
"Tunggu Bi." Cegah Pemuda itu ketika Bibi akan meninggalkan ruang makan.
"Ada apa Tuan ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya Bibi.
"Tidak, aku cuma mau tanya." Kata Daffa.
__ADS_1
Tap
Tap
Tap
Terdengar derap langkah kaki yang begitu cepat hingga Pemuda itu menoleh dan tidak jadi bertanya. Dia tidak mau menjadi bahan perbincangan kedua kakaknya.
"Sudahlah Bi, saya tidak jadi tanya." Kata Daffa dengan mengibaskan tangannya.
"Tuan Daffa kali ini aneh, tidak biasanya canggung seperti itu." Batin Bibi.
"Kenapa tidak jadi he...?" Tanya Axel penuh curiga.
"Oh ya Bi, gadis itu kemana?" Tanya Axel yang tiba-tiba ingin tahu juga.
"Sedang istirahat Tuan." Jawab Bibi dengan menundukkan kepala.
"Apa badannya masih tidak enak?" Tanya Daffa kemudian penuh perhatian dan khawatir.
"Bilang padanya Bi, jika masih ingin tinggal di sini jangan melakukan pekerjaan apapun sebelum sehat!" Kata Daffa dengan intonasi yang sedikit tinggi.
"Baik Tuan nanti Bibi sampaikan." Jawab Bibi.
"Kesambet setan dari mana ini Tuan Daffa setelah pergi seharian." Batin Bibi.
__ADS_1
"Tidak biasanya juga tuan marah-marah dengan seorang wanita, biasanya dimanja-manja." Lanjutnya*.
Bibi akhirnya pergi ke kamarnya setelah diperintah oleh Daffa. Dia melihat seorang gadis yang masih memejamkan matanya.
Gadis itu masih terlihat sedikit pucat, tapi apa yang bisa dilakukan wanita tua itu jika gadis itu sangat keras kepala jika dinasihati. Bibi menunggu gadis itu bangun dari mimpinya yang buruk.
Bagaimana Sang Bibi tahu kalau gadis itu sedang bermimpi buruk? Apa dia itu dukun? Authornya juga sedang menerka-nerka ya. Ujian sekolah sudah selesai, besuk tinggal ambil rapot. Kalau pilihan ganda bisa diterka-terka. Terlambat berarti untuk menerka karena ujiannya sudah selesai.
Lanjut ya Say:
Gadis itu tidur dengan gelisah hingga keringat dingin keluar dari wajahnya yang sedikit pucat. Wanita yang sudah hampir tua walaupun tidak memiliki hubungan darah merasa khawatir dengannya.
Bibi merasa khawatir, dia merasa bingung harus melakukan apa. Haruskah dibangunkan atau membiarkannya tidur. Dia terus menunggu gadis itu hingga terbangun dengan sendirinya.
Di ruang makan seorang pemuda merasa lapar karena memang ketiganya belum makan siang. Dia melihat saudaranya dengan sikap yang berbeda-beda.
Adik bungsu sedikit ada emosi sedangkan adiknya yang satu lebih banyak diam sedang memikirkan sesuatu. Sang Kakak sesekali melihat keduanya secara bergantian karena dia memang duduk di tengah.
"Kalian berdua kesambet setan dari pasar tadi ya?" Tanya Sang Kakak.
"Pikir sendiri." Kata Kedua adiknya bersamaan dan berdiri menuju kamar masing-masing meninggalkan Sang Kakak.
"Haduuuh. Salah lagi - salah lagi." Kata Sang Kakak dengan menggelangkan kepala perlahan setelah kepergian kedua adiknya.
Pemuda yang ditinggalkan kedua saudaranya itu mengambil buah apel yang ada di atas meja. Buah itu dimakan dengan berjalan dan saat melewati sebuah kamar seorang asisten rumah tangga yang usianya sudah sedikit lanjut.
__ADS_1