Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 99: SARAPAN PAGI - AROMA PARFUM


__ADS_3

Lima hari berlalu hanya dengan ketenangan dunia. Namun, tidak dengan hari ini. Suara alarm terdengar begitu kencang berdering saling bersahutan. Tangan yang menyembul dari balik selimut berusaha meraih alarm.


Praang!


Alarm jatuh ke bawah membentur lantai, membuat pria dibalik selimut terkejut. Baru saja membuka mata, tatapan mata tajam sudah menyambut paginya. Terpaksa mengeluarkan jurus terbaik yaitu senyuman manis yang ia punya.


"Morning, Honey," Ucap pria itu dengan senyuman menggoda.


Wanita cantik yang berdiri di depan ranjang menyilangkan tangan di depan dada dengan penampilan rapi tanpa ada kekurangan sedikitpun. Tatapan matanya tajam tak terbantahkan, bahkan senyuman pun tak berani menyapa wajah cantik itu.


"Waktumu hanya sepuluh menit dan ya. Jangan berpikir untuk membujuk ku." Jelas wanita itu lalu pergi meninggalkan kamar prianya.


Suara pintu yang ditutup begitu kencang, membuat pria yang masih diam di atas tempat tidur mengusap dadanya sendiri.


"Pagiku menjadi suram karenamu. Satu senyuman saja tidak bisa kudapatkan," gumamnya seraya menyibak selimut, lalu menurunkan kaki dari tempat ternyaman nya.


Langkahnya berjalan menuju kamar mandi. Sementara di lantai bawah semua sudah berkumpul untuk menikmati sarapan pagi. Ketika terdengar langkah kaki menuruni tangga, semua orang yang ada di meja makan menoleh ke arah yang sama.

__ADS_1


"Anak itu pasti belum siap. Huft sejak kapan sih, seorang Keano terlambat? Heran deh....,"


Sang devil melirik ke pria yang duduk di sampingnya, "Ken, Ano saudaramu."


"Hmmm. Makan saja makananmu!" Ucap Ken tak mau ditegur.


Sabar, Aurel. Jodohmu masih labil. ~batin Aurel kembali menyuapkan potongan buah ke mulutnya.


Tanca menarik kursinya, lalu duduk dan mengambil menu sarapan pagi yang menyehatkan. Salad buah, roti bakar dengan yogurt, dan secangkir teh hijau. Makanan beraneka ragam tersedia di atas meja. Di saat semuanya sibuk menikmati sarapan dan hampir menghabiskan semua menu. Langkah kaki terburu-buru terdengar menuruni tangga. Siapa lagi jika bukan Keano yang merasakan ketegangan takut terlambat dan mendapatkan hukuman dari sang kekasih hati.


Aroma parfum yang sangat menggoda menyebar ke seluruh ruangan. Menyegarkan dan menenangkan bagi siapapun yang menghirupnya. Langkah Ano semakin mendekati meja makan, tetapi di saat jarak menyisakan satu meter dari tempat duduk Aruna. Justru wanita itu langsung bangun, lalu berlari menuju kamar mandi.


"Ano, coba periksa apa yang terjadi pada Runa! Ken cepat panggil dokter ke rumah!" titah Nenek Abizar panik.


"Baik, Nek." jawab keduanya serempak.


Aruna yang sibuk mengeluarkan semua makanan yang ia telan harus merasakan lidahnya getir dengan rasa pahit yang sungguh tidak enak. Sesekali membasuh wajahnya dengan air agar merasa lebih baik. Aurel yang melihat sang kakak memuntahkan semua makanan ikut membantu memijat leher.

__ADS_1


"Ka Runa kenapa?" tanya Aurel khawatir.


Aruna mengedipkan mata agar adiknya tidak perlu khawatir berlebihan. Di saat bersamaan Ano masuk ke dalam kamar mandi. Wajah pucat sang tunangan, membuat pria itu seketika merengkuh tubuh yang terlihat lemah hari ini. Tak lupa tangannya memeriksa kening dan leher memastikan suhu tubuh normal.


"Honey, are you okay? What happen with you?" tanya Ano menatap mata Aruna begitu dalam.


Aruna tersenyum tipis, "Aku baik, bersiaplah! Setengah jam lagi penerbangan....,"


"Aku tidak akan meninggalkanmu di saat sakit. Tanggung jawabku bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga menjaga dirimu." Jelas Ano menolak Aruna.


Aurel memahami situasi saat ini tidak akan mudah membuat Keano menyerah. Namun, kakaknya sudah memberikan peringatan keras. Jika si kembar harus pergi ke London hari ini juga. Meski apapun yang terjadi, kepergian Ken dan Ano tidak bisa diganggu gugat.


"Keano, terkadang kita harus mengesampingkan emosi hati demi kelangsungan hidup bersama. Aku tahu kamu bisa membangun banyak bisnis baru, tapi pameran London adalah gebrakan baru untuk perusahaan Abizar. Jika bukan demi Tanca, cobalah ingat nenekmu yang memiliki harapan tinggi." Jelas Aurel berusaha mengubah keputusan Ano.


Aruna menganggukkan kepala tanda setuju dengan perkataan Aurel. Ntah kenapa bibirnya sulit sekali untuk mengeluarkan kata-kata, baru saja perasaannya membaik. Aroma parfum sang tunangan kembali membuat rasa mual berputar di dalam perut. Sontak saja ia kembali memuntahkan sisa makanan yang masih tersimpan.


"MD, siapkan mobil! Aku akan bawa Tanca ke rumah sakit sekarang." titah Ano yang langsung menggendong Aruna begitu selesai membasuh wajah.

__ADS_1


Aurel mengikuti apapun yang Ano inginkan. Jujur dirinya juga ikut khawatir. Ketiganya keluar dari kamar mandi beriringan, membuat Ken dan nenek Abizar panik kembali. Niat hati ingin menghampiri, tetapi isyarat tangan MD menjelaskan semua aman terkendali.


"Ken, kita susul mereka sekarang!"


__ADS_2