
Ano mempercepat langkahnya menghampiri Tanca. Tanpa basa basi, dirinya merengkuh tubuh wanitanya itu sembari menepis tangan Tuan Dion yang terarah ke Tanca.
Pluk!
"Ada apa ini?!" Seru Keano dengan nada bariton nya.
Bahkan Tanca yang awalnya tenang. Ikut terkejut dengan nada tinggi Ano.
"Kamu!" ucap geram Tuan Dion menatap Ano tajam menusuk.
Kenapa semua justru berkumpul. Aku harus mengendalikan situasi sebelum semua terlambat.~batin Tanca.
Kenzo menghampiri papanya, ''Pa, kenapa papa ke kantor?"
"Aku….,"
"Apa kalian semua dibayar untuk menikmati tontonan gratis? Kembali bekerja!"
Suara bariton yang melebihi suara Tuan Dion menggema keseluruhan ruangan. Bukan hanya para karyawan yang menciut dan lari terbirit-birit kembali melakukan pekerjaan masing-masing. Wajah Tuan Dion menahan geram, sedangkan Kenzo mundur perlahan memilih berpindah haluan ke belakang saudara kembarnya.
Syukurlah dia datang tepat waktu. Jika tidak, sudah pasti semua menjadi berantakan. ~batin Tanca menghela nafas lega.
Ano masih tak berniat melepaskan Tanca dari pelukannya. Hingga wajah pemilik suara terberat dengan tinggi bak atlet laga berhenti tepat di antara mereka para anggota keluarga Abizar. Tatapan matanya bahkan lebih tajam daripada elang.
"Kamu," tunjuk sang devil ke arah sang karyawan yang menunduk di samping Tuan Dion. "Pergilah dan jangan kembali lagi!"
__ADS_1
Karyawan itu berjalan meninggalkan tempat penuh tekanan. Setiap langkahnya diperhatikan dari sudut mata sang devil. Hingga melihat arah pandangan karyawan itu ke Tanca sekilas. Sedangkan yang ditatap masih tenggelam dalam pelukan Ano.
"Pak Dion, apa Anda lupa peraturan perusahaan?!" tanya sang devil dengan sinis.
Tuan Dion menggeser tubuhnya, dan menghadap ke arah sang devil. Wajah tegas, hidung mancung, bibir sexy, mata bulat bak artis india, rambut hitam sebahu dengan luka sayatan di pipi kiri. Jika diperhatikan apalagi tanpa luka sayatan itu. Maka bisa dipastikan menjadi incaran para kaum adam. Namun, sayangnya wanita tanggung itu merupakan orang kepercayaan bundanya sendiri.
"Aku....,"
Sang devil menampilkan smirk nya. "Peraturan Unforgettable poin kedua adalah pemimpin yang telah keluar dari jabatan CEO DILARANG mencampuri urusan perusahaan. Jadi silahkan tinggalkan perusahaan ini, dan pulang saja nikmati wine Anda!"
Skakmat dari sang devil sontak membungkam Tuan Dion. Bahkan para karyawan yang cukup jelas mendengar suara sang devil ikut meneguk saliva dengan susah payah.
Kenzo menyembul dari balik bahu Ano seraya menatap reaksi papanya yang diam tak berkutik. Sedangkan Ano masa bodoh, membuat Tanca mencubit perut pria itu pelan. Barulah pelukan di lepaskan.
Sang devil mengangguk paham seraya mempersilahkan Tuan Dion agar keluar dari perkantoran. " Mari saya antar, Pak Dion."
Tuan Dion mendengus sebal dengan rahang berbunyi gemeretak menahan amarahnya. Percuma untuk melawan, jika bundanya tahu sudah pasti yang dipercaya adalah sang devil dan pengasuh kedua putranya itu.
"Aku bisa sendiri." tukas Tuan Dion mengalah mengangkat kakinya dari tempat pendapatan pundi-pundi kekayaan keluarganya itu.
Tanca, Keano dan Kenzo sudah masuk. Sedangkan sang devil masih mengawasi langkah Tuan Dion hingga pria tua itu mencapai pintu lalu menghilang. Barulah langkahnya menghampiri ruangan Tanca, dan mengetuk pintu secara sopan.
Tok!
Tok!
__ADS_1
Tok!
Ceklek!
"Pagi menjelang siang, semuanya." sapa sang devil memasuki ruangan seraya menutup pintu kembali.
Tanca menunjuk ke kursi di depan dua K berada. Tanpa membantah, sang devil melakukan apa yang diinginkan wanita di kursi kerjanya itu. Kini duo K saling berhadapan dengan wanita yang menjadi sosok paling menakutkan di dalam hidup keduanya.
Kenzo bahkan sampai berkeringat dingin karena tatapan mata sang devil tak membiarkan dirinya bernafas.
Tap!
Tanca menjatuhkan map di atas meja kaca yang menjadi akar masalah kali ini lalu menghempaskan tubuhnya ke atas sofa single di sampingnya.
"Bee pelajari itu! Your time five minutes." ucap Tanca lalu memejamkan matanya.
Sang devil meraih map di atas meja, lalu dibuka. Tatapan mata wanita itu sangat fokus dengan bibir terkunci rapat. Keseriusan semakin menegaskan betapa wanita itu tidak kenal kata candaan.
Keano masih mengamati situasi yang tengah terjadi, sembari menahan tubuh saudaranya yang seakan tak mau melepaskan sandaran. Yah Kenzo seperti anak kecil meminta perlindungan dari dirinya.
"Finish." cetus sang devil yang masih memegang map di tangannya dalam keadaan terbuka.
Kelopak mata dengan bulu mata lentik bergerak. Mata jernih itu sudah berubah menjadi mode serius tak ubahnya keseriusan sang devil.
"Ano, pakai earphone mu!"
__ADS_1