
"Ano temani Nona Angel! Ken lakukan hukuman mu!" seru sang devil sebelum berjalan meninggalkan mobil.
"MD pleaseee....," rengek Ken.
Ano menghampiri saudara kembarnya itu. "Ken, pergilah! Jangan pernah sia-siakan perjuangan Tanca. Berani berbuat maka kamu harus berani bertanggung jawab. Seperti apa kita saat ini. Semua karena wanita tercinta kita. Kamu paham 'kan?"
"You right, okay. Salam sayangku buat Tanca. Pastikan jangan sampai kepanasan dan segera masuk jika hujan!" pamit Ken dengan wajah tak terima. Akan tetapi tetap pasrah dengan peraturan.
Ano hanya bisa menahan tawa karena wajah saudara kembarnya manyun dengan pipi memerah. Sudah pasti hari ini menjadi hari paling menyebalkan bagi saudaranya itu. Setelah memastikan Ken masuk ke dalam mansion dan menghilang di balik pintu utama.
Barulah langkah kakinya berjalan menapaki rumput hijau dengan deretan bunga mawar merah yang mengelilingi taman mini depan mansion samping halaman utama. Begitu deretan mawar berakhir, matanya langsung melihat wanita cantik duduk di ayunan dengan tubuh bersandar ke belakang.
Aroma parfum yang menyebar karena hembusan angin, membuat wanita itu membuka mata dengan tangan melambai ke arah Ano. Hal itu disambut senyuman manis dengan tangannya bersambut menggenggam tangan Tanca.
__ADS_1
Ano duduk di samping wanitanya, tapi tatapan Tanca lurus ke depan dimana ada bunga mawar merah yang mekar menggoda. Dirinya pun ikut menyandarkan tubuh seraya menatap ke arah yang sama.
"Apa sekarang bisa....,"
"Apa rasanya saat kita tertusuk duri? Meskipun itu tidak disengaja." tanya Tanca menyela ucapan Ano.
"Perih, dan berdarah." jawab Ano singkat.
"Tunggu dulu, Honey. Aku ingat ucapan MD tentang OG itu. Siapa panggilannya? Ah ya, Vio si gadis malam." Ano ikut berdiri dengan tangan di dagu seperti tengah berpikir.
Tanca berbalik ke samping dan menatap pria di sampingnya. Kemudian memegang kedua lengan Ano agar pria itu berdiri tegak di depannya. "Vio gadis bayaran, Ano. Apapun alasannya, kita harus mencari tahu secepat mungkin. Sebelum skandal ini semakin menyita perhatian publik. Terlebih pertunangan kalian harus di segerakan. Aku....,"
Kenzo menutup bibir Tanca dengan tangan kanannya seraya menggelengkan kepala. "Tidak! Aku tidak mau bertunangan."
__ADS_1
Tanca menarik tangan Ano, lalu menggenggam tangan pria itu dengan usapan lembut. Tatapan mata saling bertaut dengan binar kasih sayang. Ano sadar jika posisi wanitanya tetap saja di bawah dirinya. Perdebatan tentang masalah Ken dengan masalah pertunangan, membuat sesak dadanya.
Namun, setelah semua pengorbanan dan didikan yang membuat hidup seorang anak terarah serta terlindungi. Sudah pasti tak seorang pun berhak mengambil alih posisi wanitanya. "Aku akan bicara dengan nenek soal pertunangan, tapi jangan tinggalkan kami. Kamu tahu benar, hidup kami bergantung padamu. Aku mohon, Honey."
Tanca tersenyum, "Ano, lakukanlah pertunangan demi aku!"
Ucapan Tanca, membuat pria itu menarik tangan dengan tatapan mata menyelidik mencari kebenaran dan keseriusan di wajah sang wanitanya. Akan tetapi raut wajah Tanca jelas sepuluh kali serius dengan mata tajam nan menenggelamkan dirinya.
Dirinya masih tidak percaya. Tanpa permisi tubuh bergaun elegan itu direngkuh dengan sekali sambaran. Tak lupa bibirnya meraup bibir Tanca dengan rasa haus dan emosi.
Pagutan yang saling menuntut pun terjadi begitu saja, membuat kedua insan itu lupa jika ciuman panas mereka terjadi di taman bukan di dalam kamar.
Bukannya berhenti setelah beberapa saat. Justru pagutan semakin panas, membuat tatapan mata dibalik deretan bunga mawar mengepal. Kuku memutih dengan wajah memerah. Deru nafas memburu dengan dada naik turun. Hentakan sepatunya seakan tak menjadi gangguan bagi kedua insan yang tengah memadu kasih dengan mengec@p rasa manis cinta.
__ADS_1