
Aruna memutuskan mereka akan tinggal di villa. Dimana dulu tempat itu digunakan untuk membesarkan dan mendidik si kembar.
Satu minggu kemudian.
Suara ketukan pintu terdengar begitu berisik, membuat pemilik kamar bergegas turun dari ranjang, lalu membukakan pintu dengan malas, "Ayolah, ini masih pagi. Kenapa sudah ketuk pintu sekeras itu, memang ada gempa, ya?"
Tidak ada jawaban dari sang pengacau. Selain tarikan tangan yang membuat kaki, mau, tak mau harus ikut pergi meninggalkan kamar. Belum juga mata terbuka sepenuhnya. Paginya sudah melihat apa yang terjadi di dalam dapur. Sungguh kacau dan bahan-bahan berserakan di mana-mana dengan warna putih tepung yang semakin memperlihatkan ruangan itu menjadi begitu sangat kotor.
"Lihatlah! Kelakuan para istri. Kepalaku sangat pusing," Kenzo mengeluh seraya menggelengkan kepala, jujur saja, ia tak habis pikir dengan tingkah Aruna dan Aurel. Dimana kedua wanita itu entah ingin membuat apa, tapi justru membuat dapur menjadi kapal pecah.
Keano idak ingin marah. Apalagi mempermasalahkan hal yang sepele seperti itu. Kemudian, pria itu justru berjalan dengan pelan menghampiri sang istri. Lalu, memeluk Aruna dari belakang seraya memberikan kecupan sebagai ritual setiap pagi, "Morning, Honey. Apa istriku menginginkan sesuatu? Katakan saja, aku siap membantu."
__ADS_1
"Aku mau sesuatu, tapi yang dimasak adikku sendiri. Hanya saja, lihatlah! Bagaimana hasil dari mahakarya adikku tercinta," Aruna menunjukkan beberapa titik. Dimana bahan-bahan sudah seperti adonan tidak jadi, "Lebih baik kita memesan makanan saja. Aku sudah sangat lapar."
"Oke, aku akan memesan makanan untuk kita semua dan kalian berdua pergilah ke kamar masing-masing. Bersihkan diri, lalu turun untuk makan bersama. Satu lagi, pastikan kalian tidak membuat kekacauan seperti ini lagi," ucap Keano, membuat Aruna mengangguk, lalu melepaskan tangan sang suami yang melingkar di perut, kemudian menarik tangan sang adik untuk meninggalkan dapur.
Inilah yang mereka lalui setiap hari. Kehidupan yang menjadi hari normal dan tidak ada ketegangan. Apalagi kecemasan yang menyesatkan. Tentu saja, selain pekerjaan, maka mereka memilih untuk menghabiskan waktu bersama. Perubahan itu menjadi bentuk toleransi untuk saling memahami satu sama lain yang harus dimulai dari awal. Kebahagiaan keluarga benar-benar nyata. Namun, ada yang mereka lupakan. Seseorang yang mungkin tidak pernah dianggap.
Orang yang akan menjadi penghalang dari kebahagiaan itu. Meski begitu, saat ini dia masih berusaha untuk bersembunyi. Bukannya tidak menganggap atau terlupakan. Boleh saja, orang itu berpikir, bahwa tidak seorangpun memperhatikan setiap gerakannya. Memang benar, Aruna masih berdiam untuk menikmati waktu, sembari menyelesaikan misi terakhirnya. Namun, bukan berarti wanita itu tidak menjadi pengawas lagi.
Orang itu mengenakan seragam suster dan tersenyum tipis di balik masker yang ia gunakan. Sementara di ruangan operasi, dua bayi mungil berhasil diselamatkan para dokter. Meski harus melakukan operasi caesar, tetap saja persalinan itu berjalan lancar. Aruna bisa melihat wajah kedua buah hatinya, dan di saat seorang dokter selesai membersihkan tubuh si kembar. Barulah, wanita itu memberikan tanda untuk memulai rencana selanjutnya.
Apapun yang terjadi di dalam ruangan operasi itu menjadi rahasia Aruna bersama tim medis kepercayaannya. Sementara keluarga yang menunggu, mulai tidak sabaran, hingga pintu ruangan operasi terbuka dan seorang dokter keluar. Dokter itu terlihat gugup dan tegang, keringat dingin juga memenuhi keningnya. Pemandangan itu, membuat keluarga Abizar was-was.
__ADS_1
"Dok! Kenapa diam? Katakan, bagaimana keadaan istri dan anakku?" tanya Keano tidak bisa lagi menahan diri, pria itu tak bisa melihat harapan dari wajah si dokter.
Dokter menundukkan wajahnya, lalu menangkupkan kedua tangan di dada, "Maaf, tapi kami tidak bisa menyelamatkan ibunya...,"
Djuuuar!
Jawaban sang dokter seperti besi yang menghantam kepala. Tubuh Keano limbung ke belakang, membuat Kenzo langsung bergerak cepat menangkap saudaranya, "Ano, sadarlah!"
Berita yang mengejutkan. Bukan hanya Keano yang shock, tapi seluruh keluarga. Di tengah kepanikan dengan kesedihan yang mendalam. Bee menerima kode jari dari si dokter. Sontak saja, wanita itu menghela nafas lega, dan ikut tenggelam dalam kabar duka. Berita kematian dari seorang ibu yang baru saja melahirkan bayi kembar tersebar begitu saja di dalam rumah sakit itu. Seperti anak panah yang melesat tepat mengenai sasaran.
"Hahahaha, dewi fortuna ada di pihak ku. Daripada aku menculik anak, kenapa tidak kembali menjadi nyonya rumah saja? Iya kan."
__ADS_1