
"MD, duduklah!" titah Nyonya Abizar setelah meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.
Aurel duduk dengan kedua tangannya saling bertautan menahan rasa cemas nya.
Hening!
"Sejauh apa kalian dekat?" tanya nyonya Abizar dengan menatap Aurel.
Aurel membalas tatapan wanita paruh baya itu sesaat, lalu tatapannya dialihkan ke arah lain. Tindakannya itu, membuat nyonya Abizar curiga.
"Apa yang kalian sembunyikan?" tanya nyonya Abizar, dan kali ini terdengar tegas, membuat Aurel memejamkan matanya.
Aurel mengatur hembusan nafasnya, lalu membuka mata dan beralih menatap nyonya Abizar dengan mata tenang tanpa kecemasan. "Kami sangat dekat, Nyonya. Sejak pertemuan tujuh tahun lalu, Ka Angel mengajariku banyak hal. Semua yang dia tahu, baik ilmu pengetahuan ataupun cara memakai senjata. Semua di ajarkan tanpa ada keraguan."
Nyonya Abizar mengangguk paham, membuat Aurel bernafas lega di dalam hatinya.
__ADS_1
"Semalam, kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Termasuk kejujuran ka Angel tentang pertunangan. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, tapi kepercayaan dari ka Angel sangat berarti bagiku." Aurel mengambil gelas berisikan jus jeruk, lalu meneguk nya untuk melepaskan rasa haus dan kecemasan yang masih saja bercokol di dalam hatinya.
"Runa adalah pelindung kedua cucuku. Ku harap kamu tidak menyakiti anak angkat ku! Bagiku, Runa sama seperti Ken dan Ano." Nyonya Abizar meraih kedua tangan Aurel seraya mengusapnya dengan perasaan. "Mulailah pahami semua orang di sekelilingmu! Buka mata, telinga dan waspada."
"Siap, Nyonya. Semua itu sudah menjadi tugasku." jawab Aurel.
"Panggil Aku, Mami! Selamat datang di keluarga Abizar, Nak." sambut Nyonya Abizar dengan merentangkan kedua tangannya, membuat Aurel tersenyum tulus dan masuk ke dalam pelukan wanita paruh baya di depannya.
Usapan di kepala layaknya seorang ibu pada putrinya, membuat tatapan lain murka. Kepala tangan yang memutih meninju cabang pohon di sampingnya.
Lirikan mata geram siap menerkam, tapi tak menggetarkan hati orang yang memiliki niat kuat untuk mencapai tujuannya. "Kamu ini Nyonya Lea Dion Al Abizar. Seorang nyonya besar bagaimana bisa kalah dengan anak ingusan?"
"Lalu? Apa bedanya denganmu, Dion? Bahkan semua akses fasilitas mu sudah dicabut ibu mu sendiri." Lea membalas Dion tepat sasaran. "Tidak perlu melotot padaku. Aku akan cari cara agar pertunangan dibatalkan. Tidak akan kubiarkan kedua putraku memiliki pasangan bar-bar seperti asisten dan bodyguard itu."
Dion memutar bola matanya. Lalu, tangannya menarik rambut Lea. "Jaga lidahmu! Aku tidak peduli jika kamu cacat sekalipun, tapi pikirkan sebelum menghinaku."
__ADS_1
Wush...
Dion menghempaskan Lea begitu saja setelah menjambak dengan kencang. Hingga helaian beberapa benang tertinggal di tangan kanannya. Sedangkan Lea, justru tersenyum tipis. Perilaku kasar suaminya itu bukan hal baru lagi.
Tap!
Tap!
Tap!
Lea menatap kepergian Dion, gemeretak gigi saling beradu terdengar. Wanita itu menahan amarah dan ketidakadilan yang selalu menimpa hidupnya.
Jika kepolosan ku tidak bisa meraih tujuanku. Maka sudah waktunya aku menjadi diriku sendiri. Lihat saja kalian, tunggu balasanku karena terabaikan.~batin Lea kembali menatap pendopo, dimana ibu mertuanya sibuk memberikan kasih sayang pada anggota keluarga Abizar yang baru.
Sementara di ruangan pemeriksaan. Dokter terdiam mendengarkan perdebatan di depannya. Hingga suara lirih mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
"Tuan, pasien….,"