Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 53: Dokter Naumi vs Tanca


__ADS_3

Pluk!


"Ada apa?" Kenzo menepuk pundak Ano, "Ayo! Lihat mereka semakin menjauh."


Ano menggelengkan kepalanya, membuat Kenzo berpikir saudaranya itu tidak ingin masuk ke rumah sakit.


''Perasaan yang takut jarum itu aku, tapi kenapa kamu yang berkeringat dingin sih?" cetus Kenzo mengelap butiran jagung di kening saudaranya.


Keano menepis tangan Ken lembut. "Ayo!"


Kenzo mengedikkan bahu karena ulah Ano. Ada yang aneh dengan saudaranya itu, tapi apa? Jika diingat lagi. Tidak ada hal tragis yang membuat saudaranya itu harus berpikir sangat keras. Yah tentu selain akibat skandal si OG yang diselesaikan oleh Tanca.


"Mungkinkah, Ano memikirkan soal pertunangan? Aku harus bicara dengannya agar jelas." gumam Ken, lalu menyusul Ano sebelum saudaranya itu menghilang di balik pintu utama rumah sakit.


Langkah kaki yang berlari kecil, membuat Ken segera sampai dan berjalan normal setelah di belakang Ano yang berhenti di depan resepsionis.


"Tuan, ini kertas formulir pasiennya!" Suster berhijab menyodorkan selembar kertas kosong yang biasa digunakan untuk pendaftaran pasien.


Ano menerima, dan mengambil pulpen di atas meja panjang sebatas dada di depannya. Tangannya cekatan mengisi formulir tanpa perlu bertanya. Hanya dalam waktu lima menit, formulir sudah lengkap diisi. Kemudian diserahkan ke suster penjaga kembali.


Suster menatap nama pasien, dan dirinya mengingat ucapan salah satu dokter dua puluh menit yang lalu.


"Jika nanti ada pasien atas nama Aruna, katakan pada pengisi formulir untuk menunggu di kantin atau taman saja! Pasien akan langsung melakukan pemeriksaan citi scan." pesan sang dokter.


Ah, sepertinya pasien ini yang dimaksud dokter? ~batin suster itu.


"Maaf, Tuan. Dokter berpesan, jika Anda sebaiknya menunggu di taman atau kantin rumah sakit saja. Beliau langsung menangani pasien karena sudah melakukan janji." jelas sang suster ramah.


Penjelasan suster, membuat Ano menaikkan satu alisnya. "Aku ingin menemani tunangan ku! Kenapa dokter....,"


"Sudahlah, Ano. Kita menunggu saja di taman! Bukankah tadi Tanca memang membuat temu janji? Percayalah, Tanca tahu yang terbaik. Ayo!?" Kenzo menarik tangan Ano, keduanya berjalan beriringan menuju taman rumah sakit yang terletak di sisi timur.

__ADS_1


Bagaimana keduanya tidak tersesat dirumah sakit? Tentu saja karena rumah sakit itu salah satu tempat penerima donatur tetap dari perusahaannya.


Banyak pasang mata yang menatap kagum pada si kembar saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit, tapi duo K tidak peduli dan fokus pada tujuan mereka.


Sedangkan di tempat lain. Tepatnya di sebuah ruangan ct scan, Tanca terbaring di atas brankar dengan mata terpejam.


Satu tangan sibuk menggeser mouse, dan matanya fokus memeriksa hasil pemeriksaan dari komputer di depannya. Helaan nafas lega terdengar jelas, membuat Tanca membuka mata. Lalu, melirik ke arah kanan dimana dokter Naumi berada.


"Syukurlah hasilnya semua aman. Katakan semua keluhanmu, Runa!" Dokter Naumi mendekati Tanca dengan membawa alat tulis yang siap mencatat jawaban pasiennya.


Tanca berusaha bangun, tapi rasa sakit dikepalanya tak mau diajak kompromi. "Rasanya sangat sakit, ini tidak sesakit biasanya. Terlebih kupu-kupu tidak mau pergi dari atas kepalaku."


Dokter Naumi meletakkan kertas laporan di samping pasiennya, lalu membantu Tanca agar duduk dengan benar.


"Sejak pemeriksaan terakhir. Apakah kepalamu terbentur sesuatu?" tanya Dokter Naumi penasaran.


"Tidak, Nau. Hanya tadi kebentur cabang pohon." jawab Tanca mengatur nafasnya agar bisa relax.


Dokter Naumi mengaitkan kedua jari tangannya. Wanita dengan rambut cepak itu tengah berpikir keras, membuat Tanca memilih diam.


Pluk!


"Auw, hehehe. Sorry gak sengaja.'' Naumi meringis dengan kekehan merasa bersalah karena mengagetkan pasiennya.


"Hmmm. Katakan apa idemu, Nau?" tanya Tanca tak ingin memperpanjang hal sepele.


Dokter Naumi mengambil ponsel di sakunya, lalu men scrol layar selama tiga menit. Hingga ponsel di sodorkan ke Tanca, "Lihat ini, bagaimana jika melakukan seperti kasusnya?"


"Aku baca dulu." jawab Tanca menerima ponsel.


Bibir terkunci rapat, tapi tidak dengan mata jernih yang fokus menatap layar ponsel dengan satu tangan men scroll tanpa hentinya.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian.


"Nau, kamu bosan hidupkah?!" Tanca menggenggam ponsel dokternya dengan erat.


Dokter Naumi mundur tiga langkah, "Ampuun, bukan itu maksudku....,"


"Kamu memintaku melakukan operasi pemotongan otak? Bagaimana jika kamu jadi pasien pertamaku?!'' ancam Tanca, dan sukses membuat dokter Naumi membulatkan mata sempurna.


Dokter Naumi menyilangkan kedua tangannya, "Bukan itu, astaga kenapa jadi baca yang kasus itu? Ide ku ada di file A nomor tiga."


Tanca memutar bola mata malas, ternyata dokternya masih saja suka teledor jika soal file. Tak ingin mengubah moodnya, Tanca memilih memeriksa file yang dimaksud dokter Naumi.


Lima menit kemudian.


"Jangan sekarang! Untuk pemulihan membutuhkan waktu setidaknya dua bulan, dan selama itu tidak mungkin aku menyerahkan tanggung jawabku." Tanca mengembalikan ponsel ke dokter Naumi.


Dokter Naumi menggelengkan kepalanya, karena keras kepala Tanca tidak bisa dilawan. Meskipun itu mempertaruhkan keselamatan nyawanya sendiri.


"Runa, disini aku sebagai dokter mu. Sebagai dokter, aku ingin pasien ku selamat dan kembali memiliki kehidupan yang sehat. Apa sulitnya istirahat dua bulan? Ini juga demi kebaikanmu." nasehat Dokter Naumi menatap Tanca lembut.


Tanca tahu jika dokter Naumi sangat peduli dengannya, tapi tujuan hidupnya baru saja dimulai. Tanca mengulurkan tangan, dan disambut hanya sang dokter. "Lupakan itu saat ini. Fokuslah dengan permintaan ku! Apa semuanya sudah siap?"


"Aku sudah melakukan reset dan uji coba juga selama tiga tahun terakhir. Tunggu!" Dokter Naumi melepaskan tangannya, dan berjalan kembali ke meja kerjanya.


Tanca hanya melihat dokternya itu membuka beberapa laci, hingga satu map putih ditemukan. Barulah dokter Naumi kembali ke hadapannya.


"Ini laporan lengkapnya." ujar dokter Naumi menyerahkan map putih ke Tanca.


"Mahkota berbingkai duri." Tanca membawa judul map di tangannya dengan melirik dokter Naumi tajam.


Gleek!

__ADS_1


Dokter Naumi meneguk saliva nya dengan susah payah. Aura yang terpancar jelas aura intimidasi seorang Aruna si gadis dingin. "Runa, please jangan tatap aku begitu."


"Hmm." balas Tanca dan membuka map, fokusnya teralihkan.


__ADS_2