
Usapan lembut terasa menyentuh bahu kiri Ano, membuat pria itu menoleh ke samping. Tatapan matanya kembali tenggelam dalam ketenangan, "Fokus, singkirkan semua pikiran yang mengganggumu. Aku disini bersamamu, hmm."
Perjalanan keduanya begitu lancar tanpa hambatan berarti. Akhirnya mobil memasuki kawasan gedung pencakar langit. Dimana salah satu hotel menjadi tempat diadakannya konferensi pers. Mobil itu melaju semakin pelan, setelah memasuki pintu masuk tempat parkir khusus untuk para tamu undangan. Kali ini, ia sengaja menjadi salah satu dan bukan menjadi anggota keluarga Abizar.
Apapun yang akan terjadi nanti, ia hanya ingin menjaga istri serta anaknya. Terlebih, tidak seorangpun tahu. Jika dirinya sudah menikah dengan Aruna, tanpa Ano sadari. Pertemuan di konferensi pers dalam pantauan sang istri. Dimana para anak buah wanita itu sudah bergabung dengan sistem keamanan yang disiapkan untuk acara hari ini. Semua tetap dalam kendali seorang Tanca.
Suasana di dalam aula hotel cukup padat dengan kehadiran para wartawan dari berbagai channel TV serta wartawan majalah. Termasuk pihak yang bertanggung jawab akan menayangkan langsung berita yang bisa mematahkan banyak hati wanita di luar sana. Waktu menunjukkan pukul enam sore, dan semua persiapan sudah selesai. Namun, tidak dengan penampilan Aurel.
Wanita itu, hanya menatap gaun yang terpajang dengan tatapan nanar. Setelah apa yang dikatakan Kenzo. Sungguh hatinya tidak sanggup untuk bertahan, seperti berjalan di atas pecahan kaca. Bagaimana hubungan bisa berjalan, jika tidak ada kepercayaan. Hubungan yang di dasari kesalahpahaman serta kebencian. Jadi, apakah salah, jika ingin mundur dari semua yang kini di depan matanya.
__ADS_1
Lamunannya menyatu dengan rasa rindu. Jika ia harus berjalan di bara api, pasti akan dilakukan dengan senyuman ikhlas. Akan tetapi, alasannya untuk berkorban saja tidak menggenggam tangannya, lalu bagaimana cara bertahan di dalam badai kehidupan? Apakah ada sisa rasa dari belenggu keraguan seorang Kenzo? Jika tidak, semua seperti air laut pasang tanpa miliki waktu surut.
Begitu banyak angan yang menjadi sebuah harapan palsu. Awal saja sudah tidak benar, lalu bagaimana bisa menjadi akhir yang membahagiakan? Rasanya tak sanggup lagi bernafas, "Kakak, Aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu, Bee."
"Apa aku harus minum wine? Yah, why not. Pasti itu mengembalikan mood ku," Aurel menyambar botol wine yang memang tersedia di kamar rias, lalu berniat membuka tutup botolnya, "Dimana gelasnya? Sudahlah, bisa ku minum tanpa gelas."
Niat hati ingin membuka botol wine, tapi tiba-tiba ada tangan yang menahan pergerakannya. Tatapan mata tertuju pada perut buncit yang menyembul, lalu mengikuti arah pemilik tangan itu. Siapa sangka, ilusi rasa rindu semakin besar. Aurel terkekeh melihat Aruna ada di depannya. Dia pikir, semua itu hanya khayalan dan bukan kenyataan.
__ADS_1
Ketika Aruna menarik botol wine dari tangan Aurel, lalu menangkup wajah sang adik seraya menatap wanita itu dengan tatapan lembut menenangkan, "Bee, sadarlah! Aku kembali, apa ini caramu menyambut kedatangan kakak? Dimana adikku yang tegar dan selalu berwajah dingin? Siapa yang membawa lari kepribadian seorang Aurel?"
Aurel tertegun dengan suara yang menyentuh hatinya. Suara itu, tatapan itu, senyuman itu, apakah benar nyata? Ntah kenapa, tanpa berpikir panjang. Direngkuhnya tubuh dengan perut buncit, pelukan yang erat, membuat Aruna harus menjaga diri agar tetap berdiri tegak. Ia paham, Bee tengah mengalami shock. Setelah sekian lama, menggantikan posisinya. Sudah pasti banyak tekanan yang didapat sang adik.
Sebagai seorang kakak yang egois, ia hanya bisa mengusap kepala Aurel agar kembali tenang, "Bee, tenanglah. Kakak minta maaf telah menjadikanmu pengganti posisiku tanpa meminta izin terlebih dahulu. Maaf, Bee."
"Aku sanggup melakukan apapun demi kakak, tapi pleaseee. Jangan pernah tinggalkan aku sendirian, disini aku merasa sesak. Tidak ada tempat untuk berbagi, aku merasa dunia tidak adil. Apa kakak tahu, aku berusaha yang terbaik, tapi hasilnya nol besar. Semua menganggapku seperti debu. Jika benar, kakak kembali. Berjanjilah, sampai kapanpun akan selalu bersamaku."
Aruna memejamkan matanya, sungguh suara pengaduan Aurel menyayat hatinya. Tidak disangka, satu keputusan menjadi hantaman di dalam kehidupan sang adik. Andai waktu bisa diulang, ia memilih untuk tetap bertarung tanpa harus menghilang. Namun, semua sudah terjadi. Hari ini hanya ada penyesalan mendalam, "Kakak janji akan selalu bersamamu."
__ADS_1