Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 63: Dengarkan Aku! - Apa Rencanamu?


__ADS_3

Namun, suara langkah kaki terdengar menjauh mengalihkan perhatian keduanya. "Ken!"


Yah benar, pria yang terlanjur gelap pikiran itu berjalan meninggalkan kamar. Tanca menurunkan kakinya, lalu berdiri menahan rasa sakit.


"Apa yang kamu lakukan, honey? Duduklah! Aku akan mengejar Ken."


Keano berlari menyusul Kenzo, sedangkan Tanca tak mendengarkan perintah tunangannya, dan tetap berjalan perlahan menahan rasa sakitnya menyusul si kembar.


Emosi yang meledak menulikan telinga, dan membutakan hati Ken, membuat pria itu tak lagi peduli dengan peringatan Tanca ataupun Ano. Pintu sudah ada di depan sana hanya tinggal jarak tiga meter. Namun, tiba-tiba saja tangan kanannya di cengkram seseorang. Sontak Ken menghempaskan tangan kekar itu seraya berbalik ke belakang.


"Jangan coba halangi aku!" Ken menunjuk ke wajah Ano dengan wajah memerah, tatapan mata tajam nyalang.


Deru nafas memburu, jelas mengatakan kondisi emosi saudaranya itu sungguh dipengaruhi amarah yang besar. Setiap kali seorang Kenzo marah, maka akan bertindak gegabah.


Ano maju seraya memegang kedua lengan Ken, tatapan mata keduanya sangat dalam saling beradu, "Dengarkan aku! Aku tidak akan menghalangimu untuk membalaskan rasa sakit hatimu, TAPI INGATLAH SETIAP TINDAKANMU DAMPAK AKAN SELALU BALIK KE TANCA."


Keano sengaja menekankan ucapan terakhirnya agar saudaranya itu meredam emosi yang terlampau melewati batas. Benar saja, tatapan Ken yang nyalang perlahan meredup. Melihat perubahan pada emosi Ken, membuat Ano memeluk Ken seraya memberikan tepukan di punggung saudaranya itu.

__ADS_1


"Kita akan bereskan semuanya, tapi jangan gunakan emosi. Meskipun mereka orang tua kita, tetap saja perhitungan tidak bisa dilupakan. Berjanjilah jangan bertindak gegabah." bisik Ano lembut, membuat Ken membalas pelukannya dengan erat.


Tanca yang melihat si kembar berpelukan dari jauh tersenyum lega. Setidaknya tidak ada pertengkaran di antara dua bersaudara itu.


Apapun yang ku lakukan demi kebaikan kalian berdua. Maafkan aku, rasa sakit di hatiku tak mampu ku hilangkan. Meskipun begitu, aku janji akan selalu melindungi kalian. ~batin Tanca mengusap cairan bening yang terjatuh tanpa diminta.


Rasa lega dan haru Tanca rasakan, membuatnya meninggalkan tempatnya berdiri untuk kembali ke kamar Nyonya Abizar. Sedangkan dari arah lain, pintu utama mansion terbuka.


Seorang wanita dengan penampilan tomboy berjalan santai masuk ke dalam mansion. Suara sepatu boots terdengar memecahkan kesunyian. Hal itu mengalihkan perhatian si kembar seraya melepaskan pelukan, lalu menatap tamu tak di undang yang menatap mereka dengan bingung.


"Dimana ka Runa?" tanya wanita itu menatap si kembar.


"MD, setelah urusan dengan Ano selesai. Pergilah ke ruangan kerja! Aku tunggu." ujar Ken berbalik, lalu berjalan meninggalkan saudaranya bersama sang devil.


"Duduklah! Kita harus bicara." Ano mempersilahkan Sang Devil untuk duduk terlebih dahulu, membuat gadis itu harus sabar menahan kegelisahan di dalam hatinya.


Kini Ano berhadapan dengan Sang devil. Keduanya terdiam sesaat. Hingga helaan nafas Ano terdengar cukup jelas.

__ADS_1


"Bisa katakan! Apa yang ingin kamu bicarakan?" tukas Aurel menatap Ano serius.


Ano mengambil ponselnya, lalu menyalakan trending topic pagi tadi. Ponsel di letakkan di atas meja menghadap ke Aurel.


Aurel mematikan video youtube yang Ano tunjukkan. "To the point saja! Aku sudah tahu berita ini. Jadi apa rencanamu?"


"Aku hanya ingin semua normal. Publik pasti berpikir jika Tanca merebut posisi Lea, dan aku tidak mau itu terjadi." Ano menghela nafas, menguatkan hatinya untuk melanjutkan keputusan yang sudah final. "Bocorkan ke publik tragedi dua belas tahun lalu!"


"WHAT'S?!" Aurel terkejut dengan permintaan Ano.


Ano bangun dari tempat duduknya dengan tatapan mata fokus ke depan dimana sebuah foto keluarga terpampang jelas. "Lihatlah foto itu!" tunjuk Ano, membuat Aurel menggeser tubuhnya menatap foto yang sama.


"Foto keluarga Abizar, hanya ada Nenek, Aku, Ken, dan Tanca. Dimana dua orang yang menyebut sebagai orang tua kami?" Ano tersenyum manis mengingat bagaimana proses pengambilan foto yang diselingi canda tawa kebahagiaan.


Aurel berbalik menatap Ano. Tatapan mata pria itu menyorot kan ketulusan dan kebahagiaan yang nyata. "Apa ka Runa setuju dengan rencanamu?"


"Dia tidak tahu, dan jangan katakan apapun padanya! Cukup lakukan perintahku, dan aku tahu. Jika kamu memiliki semua bukti tragedi dua belas tahun yang lalu. Benar 'kan?" Ano menatap Aurel dengan tatapan tajam, tapi tak membuat Sang devil gugup apalagi ketakutan.

__ADS_1


Wajah tenang Aurel sungguh di luar dugaan.


"Akan ku lakukan, tapi resikonya kamu tahu 'kan?" jawab Aurel seraya menyandarkan punggungnya ke sofa.


__ADS_2