Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 82: BICARA? - PONSEL


__ADS_3

Setengah jam kemudian. Proses hukuman berakhir dengan wajah para client yang pucat dan juga rasa sakit tak terbaca. Kini semua lengan kiri dari kesepuluh client ber stempel logo perusahaan Royal Diamond.


"Remember one thing. The world does not accept betrayal, and I do not accept rejection!" (Ingat satu hal. Dunia tidak menerima pengkhianatan, dan aku tidak menerima penolakan!)


Kenzo meninggalkan ruangan rapat diikuti oleh MD, sedangkan para client langsung mendapatkan pertolongan medis yang sengaja disiapkan. Hal ini bertujuan agar mereka sadar, setiap tindakan memiliki konsekuensinya masing-masing. Termasuk tindakan demo dadakan dengan menuntut pemutusan hubungan kerjasama.


Wajah tegas tanpa senyuman, membuat para karyawan menunduk menikmati hawa dingin yang menekan suhu udara. Hingga Tuan Muda memasuki ruangan kerja pribadi bersama sang tunangan. Begitu pintu kaca tertutup, helaan nafas para karyawan terdengar di iringi rasa syukur karena aman dari amukan sang bos.


"Aku ingin bicara sesuatu. Bisa duduk disana sebentar?" Aurel menghentikan langkah Kenzo yang berjalan di depannya, lalu pria itu berbalik melihat kemana arah pembicaraan sang tunangan. "Ayo!"

__ADS_1


Aurel melangkahkan kaki menuju sofa biru dongker yang dibatasi sebuah meja kaca bulat memanjang sepanjang satu meter setengah. Kenzo diam, tapi tetap melakukan ajakan wanitanya. Kini kedua insan lawan jenis itu duduk saling berhadapan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Kenzo tidak sabar seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.


Aurel melepaskan dua kancing kemejanya agar pernafasan lebih rilex, lalu menyandarkan tubuh ke belakang. "Aku ingin kamu melepaskan Ka Runa, aku tahu itu tidak mungkin. Apalagi setelah semua yang terjadi....,"


"I know, aku tidak memintamu menghancurkan cinta di hatimu. Aku hanya ingin, kamu memberikan kesempatan sekali saja untuk hubungan kita. Jangan berpikir, aku sudah menerimamu, tapi aku berharap kita sama-sama melangkah bersama. Ku harap kamu paham apa maksudku?" Aurel membalas tatapan Kenzo lembut.


Keheningan melanda, membuat keduanya hanya tenggelam dalam tatapan mata. Cinta yang menjadi milik orang lain harus dikorbankan, demi masa depan. Bibir pun tak mampu mengungkapkan isi hati lebih jauh lagi. Tak ada perbedaan dengan tatapan penuh harap di dalam sebuah kamar. Dimana peraduan cinta menyatu dalam satu kecupan hangat.

__ADS_1


"Love you, Honey." bisiknya merengkuh tubuh yang terlelap begitu nyenyak, tak ingin mengusik mimpi indah sang pujaan hati.


Ia memilih menyambar ponsel dari atas nakas, lalu memeriksa apakah ada berita terkini. Tanpa dirinya sadari, saat ini bukan ponsel pribadinya yang di genggam. Melainkan ponsel orang lain, sejenak tidak menyadari. Hingga jemari putih itu meng-klik sebuah aplikasi berbalas pesan.


Tatapan mata menyipit melihat nama teratas dari dalam aplikasi pesan. "Kenapa ada pesan atas nama pria itu? Aku bahkan tidak sudi menyimpan nomornya. Jadi, ini ponsel siapa?"


Pertanyaan untuk diri sendiri yang sesaat tidak ada jawaban. Hingga ingatan beberapa saat lalu, barulah ia sadar. Ponsel itu bukan miliknya, melainkan milik salah satu penghuni kediamannya. Tanpa berpikir panjang, satu persatu pesan dibuka, termasuk pesan di semua aplikasi, penelusuran dari berbagai laman pun tak luput dari pemeriksaan.


Permainan sebesar ini, dan tidak ada yang tahu? Wow, aku harus belajar bagaimana cara memanfaatkan kedudukan. Ck. Ck. Bagaimana bisa sebejad itu? Apa hati nurani nya sudah mati?

__ADS_1


__ADS_2