
Pertanyaan untuk diri sendiri yang sesaat tidak ada jawaban. Hingga ingatan beberapa saat lalu, barulah ia sadar. Ponsel itu bukan miliknya, melainkan milik salah satu penghuni kediamannya. Tanpa berpikir panjang, satu persatu pesan dibuka, termasuk pesan di semua aplikasi, penelusuran dari berbagai laman pun tak luput dari pemeriksaan.
Permainan sebesar ini, dan tidak ada yang tahu? Wow, aku harus belajar bagaimana cara memanfaatkan kedudukan. Ck. Ck. Bagaimana bisa sebejad itu? Apa hati nurani nya sudah mati?~ batin Keano.
Keano mengalihkan perhatiannya pada Tanca yang terlelap dalam pelukannya. Wajah tenang itu tenggelam dalam mimpi. Tak ayal, pria itu memberikan usapan lembut di wajah dengan mata terpejam. "Honey, aku tidak tahu bagaimana kehidupanku. Seandainya tidak ada kamu. Apa aku masih hidup sampai detik ini? Apa aku bisa belanja banyak hal tentang dunia? Apa aku memahami rasa cinta dan kasih sayang? Ntahlah, aku hanya tahu. Kehidupanku sempurna karena kehadiranmu. Love you so much Aruna."
"Dunia bisa menilaiku seperti ekspektasi mereka, tapi aku tidak peduli soal itu. Bagiku, kamu selalu bersama ku disetiap suka duka ku. Itulah yang terpenting." Keano mendekati kening Tanca, lalu memberikan kecupan hangat yang cukup lama. "Semoga Tuhan melindungi senyuman dan kebahagiaanmu. You mine Aruna."
Hidup hanyalah panggung sandiwara. Bagaimana aku mengatakan padamu, siapa aku sebenarnya? Kasih sayang dan cintaku berawal dari balas dendam. Apakah aku pantas mendapatkan cinta sebesar itu darimu, Ano? Tuhan, aku tahu jalanku adalah duri yang menusuk semua orang. Maafkan, aku, Ano. ~batin Tanca dengan pelupuk mata yang mengalirkan cairan putih membasahi pipi.
__ADS_1
Benar, wanita itu hanya berpura-pura terlelap. Semua dia lakukan agar Ano berhenti memberikan pertanyaan tentang Lea dan Dion. Terlebih lagi kedatangan Michael justru semakin membuat pria muda itu mendesak mendapatkan jawaban. Belum lagi pencegahan yang dilakukan agar Kenzo tidak tahu tentang keberadaan sang papa kandung. Semua hal menjadi satu runtutan pertanyaan.
"Kenapa menangis? Bangunlah! Aku tahu kamu tidak tidur, kalau kangen bilang aja. Hmm." Ano memencet hidung Tanca dengan gemas.
Kelopak mata berbulu mata lentik perlahan terbuka, akan tetapi netra mata itu diselimuti kabut bening. Apalagi jika bukan air mata yang ditahan. Ano meraih dagu wanitanya dengan tatapan dalam, "What happen?"
"Honey? Tell me! What happen?" tanya Ano dengan suara tertahan, suaranya berat seakan menahan sesuatu.
Aurel membuka matanya kembali seraya menghirup oksigen sebanyak mungkin sebelum dihembuskan secara perlahan. "I'am Okay, pergilah! Kamu ada pertemuan 'kan?"
__ADS_1
"Disaat kondisi mu seperti ini? Never! Aku akan disisimu, NO DEBAT." Ano merengkuh tubuh tunangannya agar merasakan kenyamanan dan perlindungan darinya, membuat wanita itu terdiam.
Tidak ada lagi kata, selain kebersamaan dalam sebuah pelukan diatas ranjang. Dimana Ano memilih membenamkan raga sang tunangan kedalam dada bidangnya agar kembali mendapatkan ketenangan. Ntah berapa lama hingga tanpa sadar posisi nyaman keduanya justru membawa mereka ke alam mimpi.
Lima jam kemudian.
"Kamu? Apa yang terjadi? Kenapa....,"
"Tooolooong,"
__ADS_1