Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 119: TERROR - PERGI DARI RUMAH


__ADS_3

Took!


Took! Took!


Took!


Took! Took!


Suara berisik dari ketukan pintu dan jendela, membuat Lea yang terlelap menikmati mimpi indah terusik. Wanita itu mengucek mata, lalu menyibak selimut. Kemudian turun dari ranjang, lampu kamar yang remang. Justru semakin menambah suasana menyeramkan. Di saat langkah kaki baru beberapa langkah. Tiba-tiba, lampu itu berkedip.


"Ini kenapa? Masa iya belum bayar listrik," gumam Lea, tapi langkah kaki tetap berjalan menuju pintu. Dimana suara ketukan pintu berulang kali terdengar dan ketika dibuka, lalu menoleh kesana-kemari. Ternyata tidak ada orang, "Siapa sih yang main tengah malam gini? Gak tau orang ngantuk apa."


Lea kembali masuk. Akan tetapi, ketukan pintu kembali terdengar. Hal itu terjadi berulang kali, hingga membuat wanita itu geram. Sontak saja kembali membuka pintu seraya membawa tongkat bisbol yang ada di sudut kamarnya. Namun, tatapan mata terkejut dengan bola mata membulat sempurna. Wajah pucat dengan keringat dingin menjelaskan rasa takut yang mendera.


Di depan mata, ia melihat wajah putih nan pucat seorang Aruna yang berlumuran darah di perut dengan tatapan mata tajam siap menerkam. Suasana menjadi berubah seram ditambah lampu seluruh rumah yang tiba-tiba padam. Sontak saja, Lea terhuyung ke belakang dengan tongkat bisbol yang terlepas dari tangannya. Wanita itu benar-benar ketakutan melihat arwah sang menantu.


Rasa takut itu semakin bertambah. Ketika Aruna perlahan berjalan menghampiri Lea dengan cara terbang serta kedua tangan direntangkan ke depan seperti hendak mencekik sang ibu mertua. Suasana tak ubahnya di dalam rumah hantu dengan adanya suara tawa cekikikan yang menggema di dalam kamar. Gelap. Lampu kembali menyala tiga detik, tapi padam lagi meninggalkan kesunyian.


"Aaarrrrkkkkhhh!"

__ADS_1


Lea berteriak dengan tangan menutupi wajahnya. Penampakan yang ia lihat benar-benar menakutkan. Tiba-tiba saja, setiap ucapan sumpah serapah yang pernah dilontarkan untuk sang menantu terngiang-ngiang menusuk gendang telinga. Tanpa sadar, suara teriakannya membangunkan seluruh penghuni rumah. Termasuk Keano dan juga baby Z.


Malam itu, malam pertama Lea mendapatkan teror dari arwah Aruna. Namun, justru tidak mau berkata jujur dan membuat alibi. Jika hanya takut ada kecoa. Waktu yang berlalu menjadi terapi yang dilakukan kakak beradik. Dimana Bee dan Aruna memberikan shock terapi pada ibu mertua dengan bermain rumah hantu. Hal itu dilakukan selama seminggu.


Satu minggu kemudian. Mentari bersinar begitu cerah. Keano sudah membawa baby Z untuk berjemur di taman ditemani Nonny si baby sister, sedangkan Aurel memilih menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Tentu saja di bantu para pelayan. Sementara Kenzo dan Nenek Abizar duduk di gazebo membicarakan tentang pekerjaan. Ditengah kegiatan semua orang. Tiba-tiba, Lea datang dengan membawa koper.


"Apa kamu bosan menjadi nyonya di rumah ini?" tanya Nenek yang hanya melirik menantunya sekilas dan kembali membaca file di atas meja.


Kenzo berdiri, lalu berjalan menghampiri wanita itu, "Ibu mau kemana? Kenapa bawa koper, dan wajah...,"


"Ken, dia bukan ibu kita. Tidak perlu khawatir. Apalagi peduli. Terserah dia mau kemana karena itu bukan urusan kita," Ano sengaja menyela rasa penasaran saudara kembarnya, ia tahu benar bagaimana hati Kenzo, "Nonny, bawa baby Z ke kamar!"


Nonny melakukan apa yang diperintahkan Keano. Langkahnya mulai meninggalkan taman seraya mendorong troli bayi yang menjadi tempat baby Z. Ketika jarak semakin dekat dengan Lea. Wanita itu hanya melirik sekilas, lalu pergi berlalu begitu saja. Sorot mata dengan wajah pucat pasti karena tidak bisa tidur nyenyak. Treatment yang dia berikan sukses.


Ketidakpedulian Keano semakin mempersulit Lea untuk menetap di rumah itu, tapi jika bertahan. Bagaimana malamnya menjadi horror. Tidak. Lebih baik untuk mencari hiburan untuk sementara waktu, "Aku pamit untuk menenangkan diri. Hanya beberapa hari, jaga diri kalian. Bu, aku titip anak-anak, ya."


Sungguh suara itu terdengar lembut dan terasa seperti seseorang yang memahami arti keluarga. Sayangnya, telinga Ano dan Nenek sudah tertutup. Hanya Kenzo yang memberikan lambaian tangan untuk mengantar kepergian sang ibu. Wanita itu tetap berjalan meninggalkan kediaman Abizar. Di saat kaki menapaki halaman rumah. Ada rasa ingin menatap rumah mewah itu.


Aku selalu bermimpi menjadi ratu setelah menikahi putra dari Abizar. Akan tetapi, aku hanyalah boneka. Kedua putraku bahkan tidak menganggap diriku ada dan ibu mertua ku menolak kehadiran ku mentah-mentah. Apa benar, wanita seperti ku ini, tidak pantas bahagia?

__ADS_1


"Sudahlah. Aku ingin bersenang-senang dan melupakan semua ketegangan yang menimpaku. Lagi pula, kekayaan itu tidak akan kemana. Semua aset atas nama Dion sudah menjadi atas namaku. Sekarang yang kubutuhkan hanyalah sentuhan lembut yang akan menerbangkan angan."


Semua yang Lea ucapkan terdengar begitu jelas dari earphones yang dipakai oleh Nonny. Dimana wanita itu tersenyum tipis seraya menatap ke luar jendela. Lea tidak akan sadar. Jika kalung liontin yang melingkar indah di lehernya memiliki kamera dan juga penyadap. Bahkan kalung yang asli berada di tempat yang aman.


Dua puluh empat jam, lagi. Semoga semua ini berakhir, dan aku bisa kembali berkumpul bersama keluarga ku.~batin Nonny, dimana ia bergegas memberikan perintah untuk segera melakukan misi terakhir pada anak buahnya yang sudah standby di luar sana.


Suara detak jarum jam terdengar begitu jelas. Kesibukan mengurus baby Z, membuat Nonny hanya menjadi pengawas jarak jauh. Kini, tugas ditangani orang-orang kepercayaannya. Tentu saja dibantu Bee. Rumah itu terasa tenang tanpa ada kehebohan. Namun, perubahan arah angin berhembus berubah haluan. Seakan mengatakan kehidupan baru telah menanti mereka.


Beberapa jam kemudian. Keano kembali masuk ke kamar baby Z untuk memeriksa keadaan si kembar dan ternyata tengah tertidur pulas. Pria itu tidak tahu, jika Zarra dan Zian baru saja selesai menikmati asupan asi hingga kekenyangan. Sementara Nonny sibuk merapikan mainan. Tentu saja, Ano puas dengan cara kerja baby sister anak-anak.


"Apa kamu betah kerja disini?" tanya Ano dengan nada lebih lembut, tidak kasar seperti biasanya.


Nonny menoleh ke sana kemari, tapi hanya dirinya di dalam kamar itu, "Oh, Tuan bertanya ke aku. Ya, ini sudah menjadi tanggungjawab ku. Apapun akan ku lakukan demi melihat baby Z selalu sehat."


"Thanks. Apa kamu tidak berniat mengambil cuti? Aku tidak masalah, tapi ambillah di saat hari minggu. Jadi, penjagaan baby Z akan tetap diutamakan...,"


Untuk pertama kalinya Keano berbicara baik terhadap baby sister itu, tapi pria itu tidak menyadari. Degup jantung dengan rasa rindu yang terbendung di dalam hatinya hanya karena satu nama. Meski ada pertanyaan, kenapa ia nyaman di dekat Nonny. Tetap saja, Ano memilih untuk bersikap sewajarnya. Perubahan ekspresi wajah dan emosi itu bisa terlihat dari tatapan mata yang meneduhkan.


"Tuan, bagaimana perasaanmu. Jika istrimu masih hidup?" tanya Nonny mengalihkan perbincangan keduanya agar tidak berpusat tentang hari libur kerja.

__ADS_1


__ADS_2