
"Apa sisi psikopat wanita itu ada kaitannya dengan peristiwa beberapa tahun lalu? Bukankah baru saja kamu bilang. Jika syarat yang kamu minta adalah membiarkan papa kandungku memasuki rumah ini, itu artinya semua rahasia di dalam kehidupan kami. Pasti kamu tahu 'kan? Katakan semuanya padaku, dan aku tidak mau ada rahasia lagi!" Ano menatap Tanca serius, sedangkan yang ditatap memilih memejamkan mata dengan bibir terkunci rapat.
Ano mengusap pipi mulus Tanca. Berharap setiap pertanyaan akan diberikan jawaban. Namun, bibir manis tunangannya masih enggan bergerak. Percuma juga jika ingin memaksa karena paksaan tidak akan pernah berhasil. Menahan rasa yang menggebu di dalam hatinya adalah yang terbaik.
Arus hanya bisa diikuti kemana arah alirannya, dan ketika berusaha melawan sudah pasti akan tenggelam. Tidak peduli seberapa banyak pertanyaan keraguan. Biarkan saja mengikuti irama hembusan angin dalam kehidupannya.
Diamnya kedua insan yang saling berpelukan di atas ranjang larut dalam keheningan serta badai pikiran masing-masing. Satu sisi Ano ingin sekali membanjiri Tanca dengan sejuta pertanyaan di dalam otaknya, sedangkan wanita itu tengah mempertimbangkan seluruh peristiwa kehidupan yang saling terkait. Masa lalu bersama masa depan yang bercampur bagaikan larutan air gula dan garam.
Tidak ada satu kata yang keluar hingga keduanya lelah dalam diam menjemput mimpi masing-masing. Tak ada paksaan. Apalagi jawaban. Kini hanya ada hembusan nafas teratur. Pejaman mata menyambut kegelapan, membuat dunia lain menghadirkan refleksi kecemasan hati masing-masing.
Mimpi buruk memberikan salam tanpa diundang. Racauan perlahan terdengar dari bibir Tanca dengan keringat dingin yang mengalir di wajah cantik itu. Tubuhnya gemetaran, membuat Ano terbangun dari tidurnya. Tatapan mata terbuka sempurna dengan rasa cemas menatap keadaan sang tunangan yang meracau tidak jelas dengan wajah pucat pasi.
"Honey! Wake up!" Ano menepuk pipi Tanca perlahan, tapi tidak ada reaksi apalagi wanitanya membuka mata.
Justru tanpa sadar tangan sang tunangan menarik kemejanya dengan erat seperti tengah mencari sandaran. Melihat itu, sontak tangannya langsung menggenggam tangan Tanca. "Dingin sekali tanganmu. Apa luka di kakimu mengakibatkan demam?"
__ADS_1
Tak ingin hanya berspekulasi. Ano melepaskan tangannya dari tangan Tanca, lalu memeriksa kening wanita itu, dan benar saja panas. "Ya ampun ini panas sekali. Sebaiknya aku bawa kamu ke rumah sakit."
"Jang-an....," gumam Tanca menahan tahan Ano, membuat pria itu menaikkan satu alisnya.
"Kamu demam parah....,"
Ceklek!
Pintu terbuka begitu saja tanpa mengetuknya terlebih dulu, tanpa melihat situasi, membuat Ano mengalihkan perhatian ke arah depan. Satu makhluk bergaun biru melangkahkan kakinya seraya memberikan laporan. "Ka, aku sudah bawa dia. Sekarang apa tugasku?"
"Ka! Ano, apa yang terjadi?" tanyanya seraya memeriksa keadaan Tanca dari denyut nadi, suhu tubuh dan juga deru nafas sang kakak.
Disaat Aurel panik, ditambah Ano yang sedikit bingung dengan reaksi sang MD untuk pertama kalinya. Tanca memberikan senyuman manis meskipun kondisinya benar-benar drop akibat semua beban di dalam pikiran. Bukan hanya pikiran, tapi di dalam hati pun tengah berperang.
"Dimana obat mu, Ka?" Aurel bergegas mengobrak-abrik kamar Tanca tanpa permisi.
__ADS_1
Hal itu menjadi pertanyaan bagi Ano. Obat apa yang dimaksud oleh sang MD? Bukankah tunangannya hanya minum vitamin dan obat penambah darah saja. Lalu obat apa yang dicari Aurel hingga wajah tegang itu menyingkirkan semua penghalang dari hadapannya. Baik vas, file, apapun barangnya di lemparkan ke belakang begitu saja. Semua laci dibuka seraya diperiksa tanpa terkecuali.
Sisa kesadaran yang di miliki Tanca, membuatnya mengumpulkan sisa tenaganya hanya untuk mengangkat tangan menunjuk ke lukisan di dinding. Ano yang melihat tindakan sang tunangan mengikuti arahan itu, "MD lukisan laut di belakang laptop."
Aurel yang mendengar itu langsung menghampiri lukisan, dan menurunkannya. Setelah pencarian yang menjadikan kamar seperti perahu pecah. Akhirnya obat kapsul dalam botol mini ditemukan di balik lukisan laut, membuat ia bernafas lega dan bergegas menyambar air putih.
Tap!
Tap!
Tap!
"Ano, bantu aku berikan obat ini pada Ka Runa!" titah Aurel serius, membuat pria yang masih tak paham apapun hanya bisa menurut.
Sebelum obat diberikan. Aure melirik ke arah luar kamar. Dimana pintu masih terbuka. "Masuk, lalu tutup pintu!"
__ADS_1