
Suara pria itu masih cukup bisa didengar hingga ke dalam ruangan rahasia. Sontak saja wanita di dalam sana menyambar apapun yang ada di dekatnya.
"Arrrggghhh. DION!"
Suara teriakan itu menggema di dalam ruangan rahasia. Akan tetapi, tidak mencapai batas sisi lain. Dimana kamar sang suami berada. Bagaimana bisa di mansion ada kamar tersembunyi? Tentu saja semua itu karena Dion telah menyiapkan segala sesuatunya untuk rencana yang besar.
Apapun yang terjadi di dalam keluarga Abizar. Semua masih ada yang tersembunyi. Sementara itu, si kembar telah sampai di bandara. Ken, memberikan tiket kepada saudara kembarnya, lalu ia mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Seseorang yang mungkin memang harus segera tahu. Jika dirinya akan meninggalkan negara ini.
"Ken, Kamu ngapain? Ayo, buruan, kita sudah telat." Ano memberikan peringatan seraya menarik tangan saudaranya.
"Ano, lepasin tanganku." Ken melepaskan tangannya dari Ano.
"Kalian ini. Cepatlah! Aku tidak mungkin meninggalkan tempat ini, sebelum melihat kalian memasuki pintu itu." jelas Bee tanpa tersenyum.
"Ken, bisa tidak, kita kabur dari sini?" tanya Ano dengan sedikit berbisik agar tidak didengar Bee, apa yang tengah dibicarakan.
"Aku, punya ide, tapi kamu kan, harus ngirim paket. Memang kamu nggak penasaran isi paketnya apa? Kamu sendiri yang bilang. Paket itu penting buat Tanca. So, ayolah, kita, cus. Ingat aja. Setelah kita pulang, kita bakalan menikah. Ya, meskipun aku harus menikah dengan wanita lain, tapi aku rela ketika itu memang demi kebahagiaan wanita yang kita cintai."
Keduanya akhirnya melambaikan tangan seraya memberikan tiket pada petugas maskapai. Bee, melangkah meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat parkiran. Wanita itu tidak lupa mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Halo, Kak, kamu di mana? Aku akan segera ke sana." kata Bee dengan tenang, wanita uty tak ingin lagi meninggalkan sang kakak seorang diri. Apalagi sekarang ini, disaat kondisi yang pasti sangat membutuhkan dukungannya.
Bee meninggalkan bandara dengan mengendarai mobilnya kembali. Mobil itu melaju begitu cepat untuk menuju ke tempat di mana kakaknya berada, sedangkan panggilan itu sudah berakhir dan kini fokusnya hanya ke jalanan. Kini pikiran tak tenang karena entah apa yang akan terjadi nantinya. Jika mengamati situasi yang ada. Pasti sang kakak telah menyiapkan rencana untuk ke masa depan. Sudah pasti Aruna merencanakan sesuatu yang tidak akan dikatakan. Meskipun ia meminta untuk menjelaskan.
Apapun rencanamu, Aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun. Semuanya akan seperti yang kakak mau, tapi bukan berarti aku akan membiarkan Ka Runa melakukan segalanya seorang diri. Aku ada untukmu dan itu janjiku. Setelah ini, kita bisa bebas hidup dengan bahagia tanpa ada lagi tipu muslihat.~ batin bee dengan tarikan nafas begitu dalam untuk menetralkan rasa tegang yang ada pada dirinya.
Perjalanan selama tiga puluh menit akhirnya berakhir tepat di depan sebuah taman. Taman Kencana, orang-orang biasanya datang ke taman itu di saat malam hari dan hanya untuk melihat bintang di atas langit. Tentu karena tempat itu memang yang benar-benar cocok untuk melihat sinar bintang. Tatapan mata Aurel mencari keseluruh taman. Akan tetapi, ia tidak menemukan sosok sang kakak, hingga pada akhirnya dari arah jendela. Terlihat seorang wanita tengah duduk di sebuah pendopo dengan pakaian rumah sakit.
"Kenapa, Kakak memakai seragam rumah sakit? Sudahlah. Sebaiknya, aku turun saja dan menemuinya. Nanti aku akan tahu sendiri apa yang sudah terjadi." Bee melangkah keluar dari mobil, lalu berjalan menghampiri wanita yang kini tengah mendongak dan menatap pohon di atasnya.
"Kak Runa, Apa yang kamu lakukan dan ini seragam rumah Sakit. Kenapa kamu memakainya?" tanya Bee penasaran.
Runa mengalihkan pandangannya. Kini tatapan matanya tertuju pada sang adik, "Kamu, sudah sampai. Sini duduk, ada yang ingin aku katakan."
Aruna mencoba untuk mengamati ekspresi sang adik. Wanita itu merengkuh tubuh Bee yang kini turut duduk di sebelahnya. Tangannya ia genggam dengan tatapan mata penuh cinta. Keduanya seakan tengah menenggelamkan diri untuk saling memahami.
"Kak, Kakak kenapa, sih? Jangan buat aku takut seperti ini. Apa yang terjadi. Ayolah, katakan sekarang," Bee tak sabar ingin tahu apa yang kakaknya inginkan, dan perasaannya semakin tak tenang
"Semua tugasmu, sudah berakhir. Aku, ingin, kamu melakukan sesuatu. Anggap ini permintaan terakhirku, kamu bisa?" Aruna bertanya tapi seakan tengah meminta secara paksa.
__ADS_1
Melihat keadaan semakin rumit dan ada sesuatu yang disembunyikan sang kakak. Aurel hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan apapun permintaan sang kakak. Tanpa ia sadari, apa yang akan diminta oleh kakaknya itu adalah satu hal yang tidak mungkin untuk ia lakukan.
"Nenek, meminta pernikahan kita dipercepat dan aku tidak mungkin melakukan itu. Bisakah kamu menjaga keluarga Abizar untukku?" Aruna meminta apa yang ia inginkan, sebagai permintaan terakhir.
Sontak saja Aurel memejamkan mata. Bagaimana bisa dia menjaga keluarga yang bukan keluarganya. Sementara ia sendiri tak tahu kemana sang kakak akan pergi.
"Berikan aku satu alasan. Kenapa, aku harus menjaga keluarga itu dan kenapa kakak menginginkan aku untuk tetap bersama keluarga itu? Bukankah selama ini, kakak memintaku untuk pergi?" Aurel tak ingin menghilangkan kesempatan sekecil apapun baginya. Saat ini, semua harus jelas dan adil. Bukan karena ia tak mungkin menurut dengan permintaan sang kakak. Akan tetapi ia ingin selalu bersama kakaknya untuk mendukung meskipun dalam suka dan duka.
"Bee, Aku harus pergi menjauh selama satu tahun." Jawab Aruna tanpa basa-basi, dan jawabannya sukses membuat Aurel langsung berdiri menatap wanita yang berstatus seorang kakak.
"Dimanapun Aruna berada. Maka Aurel ada ditempat yang sama."
Pernyataan Aurel sukses membuat Aruna menghela nafas pasrah. Pupus sudah rencananya. Kini ia harus memikirkan cara lain demi masa depan semua orang.
...----------------...
Sebuah badai tidak akan bisa menghancurkan kepercayaan.
Kepercayaan itu sendiri yang akan menjadi dasar sebuah hubungan.
__ADS_1
Ketika keraguan mulai menggerogoti hati, maka tak sulit untuk merobohkan sebuah hubungan.
...----------------...