Belenggu Hasrat Tante Cantik

Belenggu Hasrat Tante Cantik
Bab 89: DIMANA RUMAHMU?


__ADS_3

"Apa yang kamu inginkan?" tanya Bee melirik sinis pria bule itu.


"Aku mau berkenalan dengan kakakmu! Apa boleh?" tanya pria itu seraya mengulurkan tangannya sekali lagi ke arah Tanca.


Mendengar keberanian pria bule. Sontak Bee mengalihkan lirikan mata ke Tanca, tapi kakaknya mode diam dengan tangan memijat pangkal hidung. Itu artinya apapun yang dilakukan pria itu sudah mengganggu kenyamanan sang kakak.


"Sebaiknya lupakan permintaanmu." Bee kembali mendorong kursi roda Tanca, meninggalkan pria bule tanpa mau kembali menengok.


Hah? Serius, aku diabaikan? Apa mereka itu gak lihat kalau aku tampan? Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan.~batin Pria bule langsung berlari menghampiri kedua wanita yang baru saja masuk kedalam mobil.


"Hey, apa begini caramu berterima kasih?" Seru pria bule, membuat Tanca mengangkat tangan kanannya agar para bodyguard membiarkan pintu mobil tetap terbuka.


"Apa yang kakak lakukan? Lihatlah, dia seperti tidak waras....,"


"Terkadang lebih baik selesaikan masalah kecil saat itu juga. Pekerjaan kita masih banyak, Bee. Kamu paham 'kan?" Tanca membenarkan posisi duduknya agar rasa sakit yang ia rasakan sedikit berkurang.

__ADS_1


"Aku paham, Ka. Kakak juga hutang penjelasan insiden hari ini padaku." jawab Bee menyandarkan punggungnya ke kursi.


Pria bule berhenti di samping mobil dengan nafas yang memburu. Melihat itu, Tanca mengambil sebotol air mineral yang ada di depannya lalu mengulurkan ke pria yang kini memegang kedua lututnya sendiri. "Minumlah!"


"Apa ini bentuk suap?" tanya pria bule menyelidik.


"Bee, bisa tuliskan cek senilai satu milyar? Berikan itu padanya!" titah Tanca tanpa basa-basi, dan berhasil melebarkan mata pria bule itu yang langsung menyambar botol air mineral. "Dimana rumahmu?"


"Kenapa? Apa mau melamarku?" tanya pria benar-benar sesuka hatinya.


"Dimana rumahmu?" Tanca mengabaikan semua pertanyaan yang tertuju untuknya, dan telinganya hanya ingin mendengar alamat rumah pria bule itu.


Tatapan mata yang menatap ke depan dengan ekspresi tak terbaca menjadikan pria bule tidak peka akan situasinya yang terancam. "Aku hanya mau berkenalan, bukannya....,"


"Bee, pindah ke depan! Kalian bawa pria itu ke markas!" titah Tanca seraya menggeser pintu mobil agar tertutup.

__ADS_1


Tindakan wanita itu terbilang cukup cekatan. Sementara pria bule yang ingin mendekat langsung di hadang kedua bodyguard. "Jangan dekati, Nona Angel!"


"Hey, lepaskan! Kau, sebutkan namamu!" Seru pria bule itu tanpa berhenti berusaha melepaskan diri dari tahanan dua bodyguard.


"Jalan!" Tanca membuka jendela mobil karena Bee sudah posisi stand by dengan menyalakan mesin mobilnya. "Aruna."


Satu kata yang keluar dari bibir wanita itu, menghentikan tindakan pemberontakan yang dilakukan sang pria bule. Senyuman manis semakin terkembang sempurna. Bodyguard yang melihat itu saling pandang dengan gelengan kepala. Apa pria itu sudah kehilangan akal? Kenapa terlihat begitu bahagia?


"Aruna," gumamnya dan justru menjatuhkan diri, membuat kedua bodyguard langsung menangkap tubuh kekar pria bule dan diseret ke tempat taxi yang terlihat ada di depan klinik.


"Apa dia beneran gila?" tanya bodyguard satu meringis melihat senyuman pria bule yang terus saja mengembang.


"Dia ini tidak gila. Kalau gila, mana bisa jatuh hati pada pesona Nona. Kau ini! Berapa banyak pria yang rela melakukan apa saja untuk pemimpin kita? Nyatanya tak seorangpun bisa mengembalikan senyuman gadis lugu yang pernah aku saksikan." jelas bodyguard dua dengan helaan nafas panjang.


"Apa yang terjadi pada, Nona kalian?" tanya pria bule.

__ADS_1


"Tidak usah banyak tanya! Terus saja tersenyum, sebelum duniamu berubah." ketus bodyguard dua seraya melambaikan supir taxi agar menghampiri mereka.


__ADS_2